Kapal induk USS Abraham Lincoln transit di Laut Arab pada tahun 2012. | U.S. NAVY


Sebuah jet tempur F-35C milik Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Iran di Laut Arab, Selasa (3/2/2026), setelah wahana nirawak itu dinilai mendekati secara agresif kapal induk USS Abraham Lincoln yang tengah beroperasi di perairan internasional.

Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) menyatakan drone jenis Shahed-139 tersebut melakukan manuver tanpa alasan jelas menuju kapal induk yang berlayar sekitar 500 mil dari pantai selatan Iran. Upaya de-eskalasi disebut telah dilakukan, namun drone tetap melanjutkan pendekatan hingga akhirnya dicegat dan dihancurkan oleh jet tempur berbasis kapal induk sebagai tindakan bela diri.

CENTCOM menegaskan tidak ada personel AS yang terluka dan tidak ada kerusakan peralatan dalam insiden tersebut.

Beberapa jam berselang, ketegangan kembali terjadi di jalur strategis Selat Hormuz. Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran dilaporkan mendekati sebuah kapal tanker kimia berbendera AS, Stena Imperative, yang tengah melintas di kawasan itu.

Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan dua kapal IRGC dan sebuah drone Mohajer mendekati tanker dengan kecepatan tinggi serta mengancam akan menaiki dan menyitanya. Kapal perusak berpeluru kendali USS McFaul yang berada di sekitar lokasi kemudian merespons dengan mengawal kapal tanker tersebut ke tempat aman, disertai dukungan udara defensif dari Angkatan Udara AS.

Perusahaan keamanan maritim Inggris Vanguard Tech, yang pertama kali melaporkan kejadian itu, menyebut enam kapal Iran yang dipersenjatai senapan mesin kaliber .50 memerintahkan kapten tanker untuk menghentikan mesin dan bersiap menjalani pemeriksaan.

“Pelecehan dan ancaman Iran yang terus berlanjut di perairan dan ruang udara internasional tidak akan ditoleransi,” kata Hawkins. Ia menambahkan, “Agresi Iran yang tidak perlu di dekat pasukan AS, mitra regional, dan kapal komersial meningkatkan risiko tabrakan, kesalahan perhitungan, dan destabilisasi regional.”

Rangkaian insiden tersebut berlangsung di tengah pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan telah mengumpulkan “armada besar-besaran” angkatan laut dalam jangkauan serangan ke Iran.

Kelompok serang kapal induk Abraham Lincoln, bersama sejumlah kapal perusak yang dilengkapi rudal Tomahawk serta pesawat tempur F-15E, disebut menjadi bagian dari kehadiran militer AS yang signifikan di kawasan itu, menurut keterangan resmi militer AS.

Di sisi lain, Gedung Putih menegaskan jalur diplomasi tetap berjalan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada Fox News bahwa pembicaraan antara pejabat AS dan Iran tetap dijadwalkan pada Jumat.

Pertemuan yang akan digelar di Istanbul itu direncanakan mempertemukan utusan Gedung Putih Steve Witkoff, menantu Presiden Trump Jared Kushner, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Sejumlah pejabat dari Turki, Qatar, Mesir, Arab Saudi, dan negara kawasan lainnya juga diharapkan hadir.

Hingga kini, Iran belum memberikan komentar publik terkait dua insiden yang terjadi pada Selasa tersebut. Sementara itu, harga minyak dunia tercatat naik setelah kabar penembakan drone, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur transit hampir sepertiga pengiriman minyak global setiap hari.