![]() |
| Vladimir Putin menjawab pertanyaan media. | Vladimir Smirnov/TASS |
Rusia memperingatkan Korea Selatan agar tidak bergabung dalam mekanisme pengadaan senjata untuk Ukraina yang didukung NATO. Moskwa menyatakan partisipasi Seoul dalam skema tersebut dapat memicu langkah balasan, termasuk respons yang disebut “asimetris”, serta merusak hubungan bilateral kedua negara.
Peringatan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, , menyusul laporan bahwa Korea Selatan tengah mempertimbangkan untuk ikut serta dalam Prioritised Ukraine Requirements List (PURL). Program ini merupakan inisiatif yang diluncurkan Amerika Serikat dan NATO untuk menghimpun dana dari negara peserta guna membeli sistem persenjataan dan peralatan buatan AS bagi Ukraina.
Moskwa menilai langkah tersebut bertentangan dengan kebijakan resmi Seoul yang selama ini tidak memasok senjata mematikan ke Ukraina.
“Kami ingin menekankan kembali bahwa kemungkinan partisipasi Republik Korea dalam pasokan semacam itu dalam bentuk apa pun, baik langsung maupun tidak langsung, hanya menunda prospek penyelesaian konflik,” kata Zakharova.
Ia menambahkan, keterlibatan Korea Selatan dalam PURL akan tidak diragukan lagi akan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada hubungan antara Rusia dan Republik Korea serta menghancurkan prospek pemulihan dialog konstruktif di Semenanjung Korea.
“Dalam hal ini, kami akan terpaksa menggunakan hak untuk membalas, termasuk tindakan asimetris,” tambahnya.
Zakharova juga menyebut pejabat Korea Selatan sebelumnya telah “berulang kali” menegaskan tidak akan bergabung dalam upaya Barat untuk memasok senjata ke Ukraina. Moskwa, katanya, memandang sikap tersebut sebagai “basis yang diperlukan untuk mencegah hubungan Rusia-Korea Selatan dari kehancuran lebih lanjut”.
Seoul meninjau opsi
Di Seoul, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan pada Kamis mengonfirmasi bahwa pemerintah “terus melakukan pembahasan dengan NATO mengenai berbagai cara untuk mendukung Ukraina”. Seorang pejabat menyatakan NATO telah secara resmi meminta Seoul untuk berpartisipasi dalam mekanisme PURL.
Namun, pejabat itu menegaskan posisi Korea Selatan sejauh ini tetap berfokus pada “bantuan kemanusiaan dan peralatan militer non-letal lainnya”. Tidak ada pernyataan pasti apakah pemerintah pada akhirnya akan ikut serta dalam skema tersebut.
Harian The Korea Times melaporkan bahwa sekalipun Korea Selatan bergabung, kontribusinya kemungkinan terbatas pada pembelian peralatan non-letal. Sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Seoul hanya memberikan dukungan kemanusiaan dan perlengkapan non-mematikan.
Apa itu PURL
PURL diluncurkan pada Juli 2025 oleh Amerika Serikat dan NATO sebagai mekanisme pendanaan bersama untuk memenuhi kebutuhan militer Ukraina. Negara-negara peserta mengumpulkan kontribusi keuangan yang kemudian digunakan untuk membeli sistem pertahanan dan persenjataan buatan AS.
Menurut NATO, sekitar 75% sistem rudal Patriot yang dikirim ke Ukraina dan 90% rudal pertahanan udara lainnya didanai melalui program tersebut. Hingga Desember 2025, lebih dari US$4 miliar telah dijanjikan oleh lebih dari 20 negara yang berpartisipasi.
Beberapa negara yang baru bergabung antara lain Australia, Selandia Baru, dan Jepang. Jepang, yang resmi ikut pada Februari, juga membatasi kontribusinya pada peralatan non-letal seperti sistem radar dan rompi antipeluru.
Peringatan Rusia ini muncul ketika perang di Ukraina mendekati tahun keempat sejak invasi penuh dimulai pada 2022. Pada saat yang sama, kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara terus menjadi perhatian di Seoul, memengaruhi perhitungan keamanan dan kebijakan luar negeri Korea Selatan.

0Komentar