![]() |
| Kilang El Palito milik perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA (Petróleos de Venezuela S.A.). |
Pejabat Tiongkok dilaporkan memulai pembicaraan intensif dengan pejabat Venezuela dan Amerika Serikat untuk meminta jaminan atas miliaran dolar pinjaman yang telah dikucurkan ke Caracas. Langkah diplomatik ini ditempuh setelah Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh otoritas AS pada 3 Januari, di tengah terganggunya skema pembayaran utang berbasis ekspor minyak yang menjadi fondasi hubungan keuangan China–Venezuela.
Upaya Beijing berlangsung ketika pengiriman minyak mentah Venezuela—yang selama ini digunakan sebagai cicilan utang—mengalami hambatan serius. Dua kapal tanker raksasa berbendera Tiongkok, VLCC Xingye dan Thousand Sunny, dilaporkan berbalik arah di tengah Samudra Atlantik saat dalam perjalanan untuk mengambil muatan minyak Venezuela, menurut sumber yang mengetahui proses diplomatik tersebut dan dikutip The New York Times.
Data pelayaran yang dikutip Reuters menunjukkan kedua kapal itu sempat berlabuh di Atlantik selama berminggu-minggu sebelum akhirnya kembali ke Asia. Kapal-kapal tersebut sebelumnya dijadwalkan memuat minyak mentah yang akan dihitung sebagai pembayaran sebagian utang Venezuela kepada Tiongkok.
Gangguan pengiriman ini berkaitan erat dengan kebijakan sanksi Washington. Tiongkok disebut tidak menerima pengiriman minyak dari perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, sejak Desember, seiring AS mempertahankan embargo minyak terhadap negara Amerika Selatan itu. Washington juga telah menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan Tiongkok yang terkait perdagangan minyak Venezuela, yakni Corniola Ltd. yang berbasis di Zhejiang, serta Aries Global Investment Ltd., Krape Myrtle Co., dan Winky International Ltd. yang berbasis di Hong Kong.
Di tengah situasi tersebut, perusahaan perdagangan energi global Vitol dan Trafigura mengambil peran dalam menangani pengiriman pertama dari kesepakatan ekspor minyak senilai US$2 miliar yang didukung AS. Kesepakatan ini memungkinkan minyak mentah Venezuela diekspor ke AS dan sejumlah tujuan lain, termasuk India dan Tiongkok. CEO Trafigura Richard Holtum mengatakan kepada Presiden Donald Trump bahwa kapal pertama “seharusnya memuat dalam minggu depan”.
Besaran utang Venezuela yang masih belum dilunasi kepada China diperkirakan berada di kisaran US$10 miliar hingga US$20 miliar. Hingga 2015, bank-bank kebijakan China terutama China Development Bank telah menyalurkan setidaknya US$60 miliar pinjaman ke Venezuela, menjadikannya penerima pembiayaan terbesar China di Amerika Latin. Tahun lalu, sekitar 75% ekspor minyak Venezuela, atau sekitar 642.000 barel per hari, dikirim ke kilang-kilang minyak di China, menurut laporan US News.
Seiring penangkapan Maduro, Bloomberg melaporkan bahwa otoritas pengawas keuangan utama China meminta lembaga-lembaga kredit melaporkan eksposur mereka terhadap Venezuela. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya risiko politik dan hukum, terutama jika pemerintahan baru di Caracas memilih meninjau ulang kewajiban lama.
Cui Shoujun, direktur Centre for Latin American Studies di Renmin University Beijing, menyebut ada kemungkinan pemerintahan Venezuela selanjutnya menggunakan doktrin odious debt dari sistem hukum Barat untuk menolak kewajiban yang timbul di bawah pemerintahan Maduro.
Pemerintah China menanggapi situasi ini dengan mengecam operasi AS. Kementerian Luar Negeri China menyebut penangkapan Maduro sebagai “tindakan hegemonik” yang “secara serius melanggar hukum internasional dan kedaulatan Venezuela”.
Juru bicara Mao Ning menegaskan bahwa kerja sama China–Venezuela berada di bawah perlindungan hukum internasional dan bahwa hak serta kepentingan sah China di negara tersebut harus dilindungi.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai Beijing bergerak dengan kehati-hatian untuk menjaga kepentingan finansialnya tanpa memicu gesekan baru dengan Washington. The Atlantic Council menilai perubahan rezim di Venezuela berpotensi memberi ruang bagi China untuk mengurangi beban ekonomi lama, sambil tetap menjaga akses terhadap minyak Venezuela melalui perantara perdagangan global.
Dalam konteks ini, posisi Beijing dinilai tidak sepenuhnya menguntungkan. “China tidak berada dalam posisi yang kuat di sini,” kata Paddy Meale dari Eurasia Group, seraya menambahkan bahwa Beijing “jelas akan mendorong sebaliknya. Tetapi mereka akan kesulitan untuk efektif, setidaknya untuk saat ini”.

0Komentar