![]() |
| Bendera Uni Eropa berkibar di luar markas Komisi Uni Eropa di Brussel, Belgia, 17 Juni 2022. | REUTERS/Yves Herman |
Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban menuding para pemimpin Uni Eropa (UE) tengah membentuk apa yang ia sebut sebagai dewan perang untuk menyiapkan kemenangan jika World War III pecah. Klaim itu disampaikan Orban dalam unjuk rasa anti-perang di Hongaria, Sabtu (17/1/2026), di tengah situasi geopolitik global yang kian bergejolak, dikutip dari Internasional Business Times.
Orban menilai UE telah meninggalkan jalur diplomasi dan beralih ke persiapan konfrontasi militer skala besar. Ia merujuk pada rangkaian pertemuan para pemimpin negara anggota UE di Brussel yang, menurutnya, kini lebih berfokus pada perencanaan militer ketimbang upaya perdamaian.
Dalam pidatonya di hadapan pendukung, Orban mengatakan rapat 27 kepala negara UE tidak lagi diisi perdebatan kebijakan sipil. Ia menggambarkannya sebagai forum yang membahas skenario perang terbuka serta langkah-langkah untuk memenangkan konflik besar. Sejumlah negara utama Eropa, terutama Prancis dan Jerman, disebutnya tidak lagi mengedepankan solusi damai dalam konflik di Eropa Timur.
Klaim tersebut muncul ketika perang Rusia–Ukraina masih berlangsung tanpa kepastian akhir. Pada saat yang sama, hubungan transatlantik disebut mengalami tekanan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan gagasan agresif terkait Greenland, yang dinilai mengguncang solidaritas aliansi NATO. Dalam konteks itu, Orban menyatakan elite Eropa telah memilih jalur konfrontasi langsung.
“Saya duduk di sana bersama mereka, dan saya katakan dengan sangat tegas bahwa mereka akan pergi berperang,” ujar Orban.
Ia merujuk pada pertemuan para pemimpin UE di Brussel yang, menurutnya, membahas upaya mengalahkan Rusia secara menyeluruh, termasuk wacana reparasi dan penarikan kembali dana miliaran euro yang telah digelontorkan untuk Ukraina.
Orban menegaskan keputusan-keputusan tersebut tidak diambil secara sembarangan. Ia menyebut pembahasan alokasi anggaran dan sumber daya militer oleh para pemimpin terpilih mencerminkan perencanaan jangka panjang yang berpotensi menyeret Eropa ke konflik global yang lebih luas.
Di sisi lain, Hongaria menempatkan diri pada posisi berbeda dari mayoritas negara UE. Orban menyatakan pemerintahannya akan menutup diri dari keputusan yang mengarah pada keterlibatan langsung dalam perang, termasuk menolak pengiriman pasukan maupun tambahan dana ke garis depan konflik.
Sikap itu, menurut Orban, didasarkan pada pertimbangan politik dan ekonomi. Ia menilai keterlibatan langsung akan membebani keuangan negara dan mengancam stabilitas domestik.
“Jika Anda tidak punya uang, Anda tidak punya rencana besar,” katanya, seraya menegaskan biaya perang berisiko merusak masa depan Hongaria.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari institusi Uni Eropa maupun pemerintah negara anggota terkait klaim Orban mengenai pembentukan dewan perang. Pernyataan tersebut menambah daftar perbedaan sikap antara Budapest dan Brussels terkait arah kebijakan keamanan serta dukungan terhadap Ukraina.

0Komentar