![]() |
| Mykhailo Fedorov, Menteri Pertahanan Risia. | t.me/fediienko_oleksandr |
Menteri Pertahanan Ukraina yang baru dilantik, Mykhailo Fedorov, pada 20 Januari menyatakan target militer strategis baru Ukraina, yaitu meningkatkan jumlah tentara Rusia yang terbunuh hingga 50.000 orang per bulan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kyiv, di tengah eskalasi serangan Rusia terhadap infrastruktur energi dan memburuknya kondisi musim dingin.
Target tersebut naik signifikan dibandingkan klaim 35.000 kematian tentara Rusia yang terverifikasi melalui rekaman video pada Desember 2025. Fedorov menempatkan sasaran ini sebagai bagian dari pembenahan manajemen pertahanan dan perluasan penggunaan teknologi drone.
Fedorov, mantan Menteri Transformasi Digital berusia 34 tahun, disahkan parlemen Ukraina sebagai Menteri Pertahanan pada 14 Januari dengan dukungan 277 suara. Ia masuk ke jabatan itu ketika Ukraina menghadapi tekanan militer dan energi yang kian berat, menyusul intensifikasi serangan Rusia sejak awal Januari.
Pemerintah Ukraina dalam periode yang sama mendorong pendekatan berbasis data dan kinerja terukur di sektor pertahanan. Pendekatan tersebut ditempatkan sejalan dengan pengalaman Fedorov dalam digitalisasi pemerintahan, dengan tujuan memperkuat efisiensi logistik dan efektivitas operasi militer di tengah keterbatasan sumber daya.
Dalam konferensi pers di Kyiv, Fedorov menjelaskan logika di balik target baru tersebut dengan menekankan pentingnya tekanan berkelanjutan terhadap kekuatan personel Rusia. Pernyataannya dikutip oleh Kyiv Independent dan Ukrainska Pravda.
"Bulan lalu, 35.000 terbunuh; semua kerugian ini terverifikasi melalui video. Jika kita mencapai 50.000, kita akan lihat apa yang terjadi pada musuh," kata Fedorov dalam konferensi pers di Kyiv, menurut laporan dari Kyiv Independent dan Ukrainska Pravda. "Mereka memandang manusia sebagai sumber daya, dan kekurangannya sudah terlihat jelas."
Fedorov juga menegaskan bahwa perannya di Kementerian Pertahanan akan dijalankan dengan pendekatan manajemen berbasis hasil. Fokus awal diarahkan pada restrukturisasi internal kementerian agar setiap unit memiliki target kinerja yang jelas dan terukur.
"Manajemen harus dibangun di sekitar mereka yang mampu mencapai target yang telah ditetapkan. Jika seseorang tidak menunjukkan hasil yang terukur, mereka tidak bisa tetap berada dalam sistem," kata Fedorov.
Sebagai bagian dari agenda tersebut, ia mengumumkan peluncuran sistem Mission Control untuk memantau seluruh siklus hidup drone militer, mulai dari pengadaan dan logistik hingga penempatan di medan perang. Sistem ini diklaim menyediakan data real-time terkait rute penerbangan, lokasi peluncuran, serta efektivitas misi. Fedorov juga mengungkapkan rencana pengembangan pengganti domestik drone DJI Mavic buatan China, dengan spesifikasi kamera setara namun jangkauan terbang lebih jauh.
Pengumuman kebijakan ini disampaikan ketika Ukraina menghadapi salah satu musim dingin terberat sejak invasi skala penuh Rusia. Pada 20 Januari, gelombang serangan lebih dari 300 drone dan rudal menghantam Kyiv dan sejumlah wilayah lain.
Serangan tersebut menyebabkan lebih dari satu juta penduduk ibu kota kehilangan pasokan listrik dan sekitar 5.600 gedung apartemen tanpa pemanas, saat suhu turun hingga minus 14 derajat Celsius. Dampaknya juga menjalar ke lembaga negara.
Gedung parlemen Ukraina dilaporkan kehilangan listrik, pemanas, dan pasokan air, sehingga para anggota parlemen terpaksa bekerja dari jarak jauh. Sebelumnya, pada 14 Januari, Presiden Volodymyr Zelensky telah mengumumkan keadaan darurat sektor energi menyusul meningkatnya serangan Moskwa terhadap infrastruktur vital di tengah musim dingin.

0Komentar