![]() |
| Presiden Donald J. Trump, dalam potret tahun 2019 untuk Majalah Time karya Pari Dukovic. | Pari Dukovic/National Portrait Gallery, Smithsonian Institution |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajukan usulan anggaran pertahanan sebesar US$1,5 triliun atau sekitar Rp25.194 triliun untuk tahun fiskal mendatang. Proposal yang disampaikan Gedung Putih pada awal 2026 itu menjadi rekor tertinggi belanja militer dalam sejarah AS, dengan kenaikan sekitar 50 persen dibandingkan anggaran tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$901 miliar.
Mengutip The Washington Post, Usulan tersebut diajukan sebagai bagian dari rencana anggaran federal dan ditempatkan untuk mempercepat modernisasi militer AS. Pemerintah menilai lonjakan belanja diperlukan di tengah situasi keamanan global yang disebut kian berisiko, sekaligus untuk menjaga keunggulan militer AS atas para pesaing utamanya, termasuk China dan Rusia.
Dalam dokumen anggaran, Gedung Putih menegaskan tambahan dana akan difokuskan pada pembaruan menyeluruh kemampuan tempur. Prioritas mencakup modernisasi arsenal nuklir strategis, penguatan sistem pertahanan rudal balistik dan hipersonik, serta peningkatan kapasitas operasi di ranah antariksa dan siber. Trump menempatkan pendekatan ini sebagai bagian dari doktrin Peace Through Strength yang kembali ia dorong sejak menjabat.
Pemerintah AS juga mengusulkan investasi besar pada program pertahanan rudal nasional bertajuk Golden Dome for America. Program ini dirancang untuk melindungi seluruh wilayah AS dari potensi serangan rudal jarak jauh, termasuk ancaman hipersonik. Sejalan dengan itu, anggaran Space Force diusulkan meningkat untuk mengamankan aset satelit dan memperkuat posisi AS di orbit bumi.
Terkait pembiayaan, Trump menyatakan kenaikan anggaran pertahanan tidak sepenuhnya akan menambah beban defisit negara. Ia menyampaikan pendanaan dimungkinkan berkat penerimaan negara dari kebijakan tarif impor yang diperluas, terutama terhadap negara-negara yang dinilai merugikan perdagangan AS. Klaim tersebut disampaikan bersamaan dengan rilis kerangka anggaran oleh Gedung Putih.
Di hadapan para pejabat pertahanan, Trump juga menekan perusahaan kontraktor militer agar menggunakan dana negara untuk meningkatkan kapasitas produksi dan inovasi, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Ia memperingatkan perusahaan seperti Lockheed Martin dan Raytheon agar tidak mengalihkan dana kontrak untuk stock buyback atau dividen besar, serta menuntut percepatan pengadaan alutsista generasi baru.
Latar geopolitik turut mengiringi usulan ini. Pemerintah AS menyoroti meningkatnya persaingan teknologi militer dengan China dan Rusia, serta sejumlah isu regional, termasuk situasi di kawasan Karibia yang melibatkan Venezuela. Gedung Putih menempatkan penguatan belanja pertahanan sebagai langkah pencegahan, dengan penilaian bahwa kelemahan militer berpotensi memicu agresi.
Berdasarkan perbandingan internal pemerintah, total anggaran pertahanan yang diusulkan untuk tahun fiskal berikutnya mendekati 5 persen dari produk domestik bruto AS, naik dari sekitar 3 persen pada tahun anggaran sebelumnya. Rencana ini diperkirakan akan memicu perdebatan intens di Kongres, terutama terkait efektivitas belanja dan dampaknya terhadap utang nasional, seiring proses pembahasan anggaran yang masih berlangsung.

0Komentar