![]() |
| Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. | Arie Leibs Amrams/Flash90 |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyerukan pergantian kepemimpinan di Iran di tengah gelombang protes nasional yang telah berlangsung selama berminggu-minggu dan menelan ribuan korban jiwa. Seruan itu disampaikan pada Sabtu, 17 Januari 2026, dalam wawancara dengan Politico, sekaligus menjadi sikap paling langsung Trump terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sejak kerusuhan pecah akhir Desember lalu.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump menanggapi tudingan Khamenei yang menyalahkan Amerika Serikat atas eskalasi kekerasan selama demonstrasi. Ketegangan verbal kedua pemimpin berlangsung di tengah situasi keamanan Iran yang masih rapuh, menyusul aksi protes yang bermula dari keluhan ekonomi dan berkembang menjadi tuntutan politik.
Dalam wawancara itu, Trump secara eksplisit menyasar kepemimpinan Iran saat ini. “Saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran,” kata Trump kepada Politico pada 17 Januari 2026.
Ia menuding Khamenei bertanggung jawab atas kehancuran total negara dan penggunaan kekerasan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden AS itu menyebut pemimpin tertinggi Iran berusia 85 tahun tersebut sebagai “orang yang sakit” dan menyatakan bahwa “kepemimpinan adalah tentang rasa hormat, bukan ketakutan dan kematian.”
Seruan Trump disampaikan setelah akun X resmi milik Khamenei memuat sejumlah unggahan yang menyalahkan Washington atas jatuhnya korban sipil selama demonstrasi. Dalam salah satu cuitannya, Khamenei menuding presiden AS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas korban jiwa, kerusakan, dan kekacauan yang terjadi.
“Kami menilai Presiden AS bersalah atas korban jiwa, kerusakan, dan fitnah yang dia timbulkan pada bangsa Iran,” tulis Khamenei.
Dalam unggahan lain, Khamenei mengklaim bahwa bangsa Iran telah mengalahkan Amerika Serikat dan menggambarkan kerusuhan sebagai konspirasi yang dirancang Washington untuk menguasai Iran. Pemerintah di Teheran juga berulang kali menuding keterlibatan Israel dalam gelombang demonstrasi tersebut.
Menanggapi tudingan itu, Trump kembali menyoroti cara elite Iran mempertahankan kekuasaan. Ia menilai kepemimpinan Teheran mengelola negara melalui penindasan terhadap warga sipil.
“Agar negara bisa tetap berfungsi meskipun fungsinya berada di tingkat yang sangat rendah kepemimpinan seharusnya fokus menjalankan negaranya dengan benar, seperti yang saya lakukan dengan Amerika Serikat, dan tidak membunuh ribuan orang demi menjaga kendali,” ujar Trump kepada Politico.
Pernyataan ini menjadi kali pertama Trump secara terbuka menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran sejak protes meletus pada 28 Desember 2025. Demonstrasi tersebut awalnya dipicu kenaikan harga dan tekanan ekonomi, sebelum berkembang menjadi tuntutan luas untuk mengakhiri pemerintahan ulama yang telah berkuasa selama puluhan tahun.
Di sisi lain, Khamenei dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Sabtu 10/1/2026) mengakui bahwa beberapa ribu orang telah tewas selama kerusuhan. Pengakuan itu menjadi pernyataan resmi pertama dari pemimpin tertinggi Iran mengenai skala korban jiwa sejak protes berlangsung.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia melaporkan angka yang lebih rinci. HRANA mencatat sedikitnya 2.677 kematian yang telah terkonfirmasi, sementara perkiraan lain menyebut jumlah korban melampaui 3.000 orang.
Amnesty International menyatakan telah mendokumentasikan pembunuhan massal yang melanggar hukum “dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” terutama sejak pemerintah memberlakukan pemadaman internet nasional pada 8 Januari.
Meski sebelumnya mengeluarkan pernyataan bernada keras dan menyebut bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” bagi para demonstran, Trump pekan ini mengakui adanya perubahan sikap terkait kemungkinan intervensi militer. Pada Sabtu (17/1/2026), ia menyatakan, “Keputusan terbaik yang pernah dia buat adalah tidak menggantung lebih dari 800 orang dua hari yang lalu.”
Isu dugaan pelanggaran tambahan juga mencuat dari luar Iran. Mantan anggota parlemen Partai Buruh Inggris, Bill Rammell, mengatakan kepada GB News bahwa aparat Iran kemungkinan menggunakan zat kimia beracun terhadap para demonstran. Ia mengklaim terdapat laporan kredibel yang menyebut korban meninggal beberapa hari setelah terpapar, meski tudingan tersebut belum diverifikasi secara independen.
Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut dan tetap menyalahkan kerusuhan pada “perusuh“ dan “teroris” yang didukung Amerika Serikat dan Israel. Otoritas Iran juga mengumumkan penangkapan 32 orang yang disebut sebagai bagian dari “jaringan mata-mata” asing di tengah pengetatan keamanan nasional.

0Komentar