![]() |
| Mark Carney, Perdana Menteri Kanada saat ini, berbicara di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum). | WEF/Flickr (CC BY-NC-SA 2.0) |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencabut undangan Kanada untuk bergabung dalam inisiatif Board of Peace pada Kamis (23/1) waktu setempat. Keputusan itu menandai eskalasi terbaru ketegangan diplomatik Washington–Ottawa, menyusul kritik Perdana Menteri Kanada Mark Carney terhadap dominasi Amerika Serikat dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
Pencabutan undangan tersebut diumumkan Trump melalui unggahan di Truth Social, sehari setelah kedua pemimpin saling melontarkan pernyataan keras di forum WEF. Langkah ini sekaligus menarik perhatian internasional terhadap arah kebijakan luar negeri AS di bawah Trump, terutama dalam isu perdagangan dan tata kelola global.
Melalui unggahan itu, Trump menyampaikan pemberitahuan resmi tersebut langsung kepada Carney.
“Mohon anggap surat ini sebagai pemberitahuan bahwa Dewan Perdamaian mencabut undangannya kepada Anda terkait bergabungnya Kanada, dengan apa yang akan menjadi Dewan Pemimpin paling bergengsi yang pernah dibentuk, sepanjang masa,” tulis Trump.
Hubungan kedua negara memang memanas sejak Carney berpidato di Davos pada Selasa (21/1). Dalam forum tahunan tersebut, ia memperingatkan perubahan mendasar dalam tatanan global dan menyinggung peran dominan AS dalam sistem internasional.
“Kita tahu bahwa kisah tentang tatanan berbasis aturan internasional itu sebagian keliru,” kata Carney di Davos, dilansir Reuters. “Fiksi ini bermanfaat, dan hegemoni Amerika, khususnya, membantu menyediakan barang publik: jalur laut yang terbuka, sistem keuangan yang stabil, keamanan kolektif.”
Dalam pidato yang sama, Carney mendorong negara-negara kekuatan menengah memperkuat kerja sama untuk menghadapi tekanan ekonomi dari negara yang lebih besar. Ia juga menegaskan bahwa situasi global saat ini bukan sekadar peralihan kekuasaan.
“Saya akan terus terang. Kita berada di tengah-tengah perpecahan, bukan transisi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memicu respons langsung dari Trump. Sehari kemudian, saat tampil di Davos, Trump menyinggung posisi Kanada dalam hubungan bilateral dengan AS dan menyatakan Ottawa selama ini terlalu diuntungkan oleh Washington.
“Kanada mendapat banyak fasilitas gratis dari kami, ngomong-ngomong. Mereka juga seharusnya bersyukur, tapi mereka tidak,” kata Trump di hadapan peserta WEF, sebagaimana dikutip dari Associated Press. “Kanada bisa hidup karena Amerika Serikat. Ingat itu, Mark, lain kali saat kamu membuat pernyataan.”
Nada serupa disampaikan pejabat tinggi AS. Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Kamis, menilai pidato Carney sebagai “kebisingan politik” dan bagian dari manuver domestik.
“Jangan bercanda,” ujar Lutnick. “Mereka punya kesepakatan terbaik kedua di dunia, tapi saya harus mendengarkan orang ini mengeluh dan merengek.”
Lutnick juga memperingatkan bahwa perjanjian dagang terbaru Kanada dengan China berpotensi mempersulit proses peninjauan wajib Perjanjian Kanada–Amerika Serikat–Meksiko yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Pernyataan itu menambah tekanan terhadap Ottawa di tengah ketidakpastian arah kebijakan perdagangan regional Amerika Utara.
Di sisi lain, Carney menanggapi pernyataan Trump dengan sikap tegas namun terukur. Dalam sambutannya pada rapat kabinet di Quebec City, Kamis, ia menekankan bahwa hubungan bilateral dibangun atas dasar kemitraan, bukan ketergantungan sepihak.
“Kanada dan Amerika Serikat telah membangun kemitraan luar biasa dalam urusan ekonomi, keamanan, dan pertukaran budaya yang dinamis,” kata Carney. “Namun, Kanada tidak ada karena Amerika Serikat; Kanada berkembang karena kami adalah orang Kanada.”
Pada hari yang sama, Kanada tidak tampak dalam upacara pendirian keanggotaan Board of Peace yang digelar di Davos. Kantor Carney sebelumnya menyebut Ottawa telah menyetujui keanggotaan tersebut “secara prinsip”, namun masih menyimpan kekhawatiran terkait tata kelola dan mekanisme pengambilan keputusan dalam dewan itu.
Board of Peace merupakan inisiatif baru yang dipimpin Trump sebagai anggota seumur hidup. Anggota pendirinya meliputi Mesir, Hongaria, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab. Sejumlah negara Eropa Barat, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, sebelumnya menyatakan sikap skeptis terhadap inisiatif tersebut, menurut keterangan sejumlah delegasi WEF di Davos.

0Komentar