Presiden Prabowo, saat menyampaikan pidato khusus di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss. | Foto: Youtube Sekretariat Presiden

Presiden Prabowo Subianto mendeklarasikan pemberantasan kemiskinan ekstrem sebagai agenda utama pemerintahannya dalam empat tahun ke depan. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato khusus di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), di hadapan para pemimpin dunia, investor global, dan pengambil kebijakan internasional.

Dalam forum ekonomi global tersebut, Prabowo menegaskan bahwa penghapusan kemiskinan ekstrem ditempatkan sebagai prioritas kebijakan nasional, didorong melalui perluasan program sosial, pendidikan, dan layanan kesehatan. Ia menyebut agenda itu sebagai komitmen personal yang akan dikejar sepanjang masa kepemimpinannya.

“Saya bertekad dalam empat tahun ke depan kita akan menghapuskan kemiskinan ekstrem dan menurunkan kemiskinan secara keseluruhan. Itulah misi hidup saya. Itulah misi saya di sisa tahun-tahun hidup saya,” kata Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tren penurunan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin ekstrem pada Maret 2025 mencapai 2,38 juta orang atau 0,85% dari total populasi, turun dari 3,56 juta orang pada Maret 2024.

Prabowo menautkan komitmen kebijakan itu dengan pandangan kepemimpinan yang ia sebut sebagai fondasi arah pemerintahannya. Dalam pidato yang disambut tepuk tangan peserta WEF, ia mengutip pesan para sesepuh yang membentuk cara pandangnya dalam memimpin negara.

“Tugas seorang pemimpin sangat sederhana. Jika kamu ingin menjadi pemimpin negeri ini, kamu harus bekerja agar si miskin dan si lemah bisa tersenyum dan tertawa,” ujarnya.

Menurut Prabowo, senyum kelompok masyarakat rentan menjadi penanda bahwa kebijakan negara berjalan ke arah yang tepat, terutama dalam meningkatkan akses terhadap penghidupan dan layanan dasar. 

“Jika si miskin dan si lemah bisa tersenyum, itu berarti mata pencaharian mereka sedang ditingkatkan,” jelasnya.

Presiden juga menyoroti upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan antargenerasi yang selama ini menjadi tantangan di banyak negara berkembang. Ia menilai tanpa intervensi negara, kondisi sosial-ekonomi keluarga miskin cenderung diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Biasanya anak petani miskin akan menjadi petani miskin. Anak pemulung akan menjadi pemulung. Saya bertekad memutus lingkaran ini,” tegasnya.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimulai pada 6 Januari 2025. Program ini saat ini memproduksi sekitar 59,8 juta porsi makanan per hari bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia, dengan target peningkatan menjadi 82,9 juta porsi per hari pada 2026.

Di sektor pendidikan, pemerintah telah membangun 166 sekolah berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga termiskin. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga 500 sekolah dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, pemerintah merencanakan renovasi 60.000 sekolah serta pembangunan 1.000 sekolah terpadu modern yang dilengkapi laboratorium dan fasilitas pendukung pembelajaran.

Akses layanan kesehatan juga diperluas melalui program pemeriksaan kesehatan gratis. Saat ini, sekitar 70 juta warga Indonesia menerima layanan tersebut setiap tahun. Pemerintah menilai deteksi dini penyakit melalui program ini berpotensi menghemat belanja kesehatan negara hingga miliaran dolar AS dalam jangka panjang.

Kehadiran Prabowo di WEF 2026 menandai kembalinya Indonesia ke forum ekonomi global tersebut setelah lebih dari satu dekade absen. Dalam pidato yang sama, Prabowo turut memperkenalkan Danantara, sovereign wealth fund Indonesia dengan aset kelolaan mencapai US$1 triliun, sebagai instrumen pendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.