Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperbarui tekanan kepada sekutu NATO untuk memenuhi komitmen belanja pertahanan sebesar 5% dari PDB aliansi, sekaligus meragukan kesediaan negara-negara Eropa memenuhi kewajiban pertahanan bersama.
Pernyataan itu disampaikan pada Selasa (20/1) di Gedung Putih, bertepatan dengan peringatan satu tahun masa jabatan keduanya, di tengah polemik kampanyenya untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, dilansir Al Jazeera.
Trump menegaskan kembali pandangannya bahwa beban pertahanan aliansi selama ini tidak dibagi secara adil. Dalam konferensi pers, ia mempertanyakan komitmen timbal balik para mitra Eropa jika AS berada dalam posisi terancam.
"Saya telah berbuat lebih banyak untuk NATO daripada orang lain," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih pada hari Selasa (20/1/2026). "Kekhawatiran besar saya dengan NATO adalah kita menghabiskan banyak sekali uang untuk NATO, dan saya tahu kita akan membantu mereka, tetapi saya benar-benar mempertanyakan apakah mereka akan membantu kita atau tidak."
Tekanan tersebut merujuk pada kesepakatan terbaru para anggota aliansi. Pada KTT NATO 2025 di Den Haag, negara-negara anggota berkomitmen menginvestasikan 5% dari PDB per tahun untuk belanja pertahanan dan keamanan hingga 2035. Dari jumlah itu, sedikitnya 3,5% dialokasikan untuk pengeluaran militer inti dan hingga 1,5% untuk infrastruktur, pertahanan siber, serta inovasi. Spanyol memperoleh pengecualian dari komitmen tersebut.
Target baru ini lebih dari dua kali lipat pedoman lama NATO sebesar 2% yang ditetapkan pada 2014. Data NATO menunjukkan, sejauh ini hanya Polandia yang telah melampaui ambang 4%, sementara Estonia dan AS berada di kisaran 3,4%.
Di sisi lain, Trump juga mendorong peningkatan signifikan anggaran pertahanan domestik. Awal bulan ini, ia mengusulkan anggaran pertahanan AS sebesar US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027, naik lebih dari 50% dari level saat ini sekitar US$901 miliar.
Mengutip Reuters, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut rencana itu sebagai sinyal pemulihan kekuatan militer AS, yang jika disetujui Kongres akan menjadi anggaran Pentagon terbesar sepanjang sejarah.
Perdebatan belanja pertahanan ini berlangsung bersamaan dengan langkah agresif Trump terkait Greenland, wilayah otonom Denmark yang juga merupakan anggota NATO.
Pada 17 Januari, Trump mengumumkan tarif 10% terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Belanda, dan Finlandia, berlaku mulai 1 Februari 2026. Tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan terkait “pembelian Greenland secara lengkap dan total.”
Para pemimpin Eropa merespons dengan sikap kolektif. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan Uni Eropa akan mengambil langkah yang “tegas, bersatu, dan proporsional.” Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut ancaman tarif itu “sangat tidak dapat diterima,” sementara Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa “Eropa tidak akan dipeeras.”
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings pada Senin memperingatkan bahwa ancaman tarif tersebut meningkatkan risiko geopolitik di Eropa. Menurut Fitch, tarif 10% berpotensi memangkas PDB Eropa sekitar 0,5% pada akhir 2027. Lembaga itu juga menilai keberlanjutan NATO dan kredibilitas pertahanan kolektif dapat melemah, yang berisiko memicu penyesuaian peringkat kredit negara-negara Eropa, terutama yang berdekatan dengan Rusia.
Meski begitu, dukungan terhadap NATO di dalam negeri AS tetap terlihat. Kongres menyatakan dukungan “sangat kuat” terhadap aliansi tersebut melalui RUU pendanaan Pentagon senilai US$839 miliar.
Delapan negara Eropa yang terdampak tarif juga mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu, menegaskan kembali komitmen pada integritas teritorial dan kedaulatan, serta memperingatkan bahwa ancaman tarif dapat melemahkan hubungan transatlantik.
Menjelang kehadirannya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Trump menepis kekhawatiran soal potensi penolakan dari Uni Eropa.
"Saya tidak percaya mereka akan menentang terlalu keras," katanya kepada wartawan. "Kita perlu melakukan ini."

0Komentar