Tentara Norwegia ambil bagian dalam latihan militer 'Serigala Besi 2025-I' di Area Pelatihan Gaiziunai dekat Vilnius, 16 Mei, 2025. | AP Photo


Ribuan warga Norwegia menerima surat resmi dari Angkatan Bersenjata Norwegia yang memperingatkan kemungkinan rekuisisi rumah, kendaraan, perahu, hingga mesin milik sipil jika negara memasuki kondisi perang. Langkah ini mencerminkan meningkatnya kesiapan pertahanan Eropa di tengah kekhawatiran akan potensi ancaman militer dari Rusia.

Militer Norwegia menerbitkan sekitar 13.500 surat pemberitahuan rekuisisi pendahuluan pada awal pekan ini. Surat tersebut berlaku selama satu tahun dan tidak berdampak langsung, namun menegaskan bahwa aset sipil dapat dimobilisasi apabila negara menetapkan status darurat perang. Otoritas militer menyebut situasi keamanan saat ini sebagai yang paling serius sejak Perang Dunia II.

Pemberitahuan kepada warga sipil itu ditempatkan dalam konteks penguatan pertahanan yang lebih luas di Eropa. Sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, kebijakan pertahanan negara-negara Eropa bergeser signifikan, ditandai peningkatan anggaran, percepatan kesiapan logistik, serta pendalaman integrasi militer lintas negara.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos pada 20 Januari, menyatakan Uni Eropa berencana menggelontorkan dana hingga €800 miliar untuk pertahanan hingga 2030. 

Menurutnya, lonjakan belanja tersebut telah berdampak langsung pada industri, tercermin dari nilai pasar perusahaan pertahanan Eropa yang meningkat tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

“Skala dan kecepatan transformasi pertahanan Eropa kini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar von der Leyen dalam forum tersebut.

Di Jerman, pemerintah merampungkan dokumen operasional rahasia setebal sekitar 1.200 halaman yang dikenal sebagai OPLAN DEU. Dokumen ini menempatkan Jerman sebagai simpul logistik utama NATO dalam skenario konflik besar di Eropa Timur. Rencana tersebut mengatur pergerakan hingga 800.000 pasukan sekutu melalui pelabuhan, jalur kereta, dan jaringan jalan nasional menuju kawasan timur, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal.

Berlin telah menetapkan anggaran pertahanan sebesar €108 miliar pada 2026, tertinggi sepanjang sejarah Republik Federal Jerman. Pemerintah juga menargetkan belanja militer tahunan mencapai €150 miliar pada 2029 seiring penguatan peran Jerman dalam arsitektur keamanan NATO.

Di sisi lain, Polandia mempertahankan posisinya sebagai negara dengan rasio belanja pertahanan tertinggi di NATO. Dalam anggaran 2026, Warsawa mengalokasikan sekitar 4,8% dari produk domestik bruto, atau setara €46,8 miliar, untuk sektor militer. 

Pada KTT NATO di Den Haag, Juni 2025, negara-negara anggota menyepakati target baru belanja pertahanan sebesar 5% dari PDB pada 2035, naik dari ambang 2% yang berlaku sebelumnya.

Negara-negara Baltik juga mempercepat penguatan pertahanan darat. Estonia mulai memasang bunker beton pertama dari total 600 unit yang direncanakan di sepanjang perbatasan tenggara. Latvia mengalokasikan dana €303 juta hingga 2028 untuk pembangunan benteng pertahanan, sementara Lithuania mengembangkan sistem pertahanan berlapis sejauh 50 kilometer dari garis perbatasan, termasuk parit anti-tank, penghalang dragon’s teeth, dan ladang ranjau.

Langkah serupa terlihat di kawasan Skandinavia. Finlandia dan Swedia, yang kini telah terintegrasi penuh ke dalam NATO, tetap mempertahankan konsep pertahanan total yang melibatkan unsur sipil. Finlandia saat ini memiliki sekitar 280.000 personel aktif dengan cadangan mencapai 870.000 orang. Swedia, di sisi lain, merilis panduan nasional bagi lembaga sipil yang memetakan tujuh skenario ancaman, mulai dari sabotase hingga konflik bersenjata.

Persiapan pertahanan Eropa ini berlangsung di tengah dinamika hubungan transatlantik. Ketertarikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland mendorong sejumlah negara NATO Eropa termasuk Jerman, Prancis, Swedia, dan Norwegia mengirim personel militer ke wilayah Arktik tersebut untuk latihan bersama. Komisi Eropa menyatakan dukungan penuh terhadap Denmark dan mengumumkan paket keamanan khusus untuk kawasan Arktik.

“Solidaritas kami dengan Denmark tidak dapat dinegosiasikan,” kata von der Leyen saat menyinggung penguatan keamanan Arktik.

Dari Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskyy kembali menyerukan pembentukan angkatan bersenjata Eropa yang bersatu. Dalam pernyataannya pada 20 Januari, Zelenskyy menyebut Eropa membutuhkan setidaknya 3 juta personel militer terintegrasi untuk menghadapi rencana Rusia memperluas kekuatan bersenjatanya menjadi 2–2,5 juta tentara pada 2030.

“Sejauh ini belum ada satu langkah pun yang diambil untuk mewujudkan ide tersebut,” kata Zelenskyy, merujuk pada usulan yang pertama kali ia sampaikan setahun lalu.

Sementara itu, EU Institute for Security Studies menilai lingkungan keamanan Eropa pada 2026 berada dalam kondisi “suram dan tidak pasti”. Lembaga tersebut menyebut Rusia tetap berada di pusat ancaman keamanan kawasan, meski para analis tidak memperkirakan pecahnya perang langsung antara NATO dan Rusia dalam waktu dekat.