Donald Trump, sedang berpidato pada pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. | Foto: Youtube Fox 35 Orlando


Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos menjadi panggung adu arah kebijakan ekonomi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, Rabu (22/1/2026). Trump mempertahankan kebijakan tarif agresif AS, sementara China menegaskan dorongan terhadap multilateralisme dan perdagangan bebas di tengah pergeseran peta aliansi ekonomi global.

Dalam pidatonya di hadapan peserta WEF, Trump menyoroti dampak kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahannya. Ia mengklaim langkah tersebut menurunkan defisit perdagangan bulanan AS hingga 77% dalam satu tahun dan menyebutnya sebagai “keajaiban ekonomi”, sebagaimana dikutip dari situs resmi Word Economy Forum.

Pada kesempatan yang sama, Trump melontarkan kritik terhadap kebijakan ekonomi Eropa dan menilai sejumlah wilayah di benua itu “sudah tidak bisa dikenali lagi”.

Pandangan tersebut berseberangan dengan pernyataan yang disampaikan He Lifeng sehari sebelumnya di forum yang sama. Tanpa menyebut nama Trump, He mengkritik pendekatan sepihak dalam perdagangan internasional dan menekankan pentingnya aturan yang setara bagi semua negara.

“Aturan harus berlaku sama untuk semua orang. Segelintir negara tidak boleh menikmati hak istimewa berdasarkan kekuatan mereka, dan dunia tidak boleh kembali ke hukum rimba, di mana yang kuat menindas yang lemah,” kata He.

He menegaskan China memilih jalur keterbukaan ekonomi dan berkomitmen membangun kerja sama lintas negara. Menurutnya, perang tarif tidak menguntungkan pihak mana pun. 

Selama berada di Davos, He juga menggelar pertemuan dengan sejumlah eksekutif global, termasuk CEO Apple Tim Cook, CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon, pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio, CEO FedEx Raj Subramaniam, serta CEO Mastercard Michael Miebach, sebagaimana disampaikan di sela forum.

Perbedaan sikap itu memicu respons dari sejumlah pemimpin Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang dikutip dari CNN, mengkritik kebijakan tarif Washington dan menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”. Ia juga meminta negara-negara Eropa tidak tunduk pada apa yang ia gambarkan sebagai intimidasi ekonomi.

Dari Amerika Utara, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengisyaratkan pendekatan baru terhadap Beijing dengan mengumumkan kemitraan strategis bersama China, sembari mengkritik tekanan ekonomi dari Amerika Serikat.

Forum tahun ini berlangsung di tengah dampak kebijakan tarif AS yang mencapai level tertinggi dalam hampir satu abad pada 2025. Sejumlah negara mulai mencari mitra dagang alternatif. Boston Consulting Group dalam proyeksinya menyebut pangsa Amerika Serikat dalam perdagangan barang global berpotensi turun dari 12% menjadi 9% dalam satu dekade ke depan.

“Kecepatan, besaran, dan cakupan perubahan ini benar-benar mengguncang dunia,” ujar Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne dalam sebuah panel di Davos.

Seiring perkembangan tersebut, beberapa pemimpin Eropa memperkuat komunikasi ekonomi dengan Asia. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan berkunjung ke Beijing pekan depan bersama delegasi bisnis untuk memulihkan hubungan dagang Inggris–China. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga merencanakan kunjungan ke China pada akhir Februari.

Dalam pidatonya di Davos, He Lifeng kembali menegaskan pendekatan kolaboratif yang ditempatkan Beijing sebagai pilihan strategis. 

“Memperbesar kue bersama-sama lebih penting daripada memperebutkan kue, dan menyelesaikan masalah bersama-sama lebih efektif daripada saling menyalahkan,” ujarnya.