![]() |
| Jenderal Alexus G. Grynkewich, Panglima Tertinggi Sekutu Eropa NATO (Supreme Allied Commander Europe/SACEUR). | Foto: NATO/Flickr (CC BY-NC-ND 4.0) |
NATO menyatakan kesiapan untuk mulai merancang misi pertahanan di kawasan Arktik menyusul tercapainya kesepakatan kerangka kerja antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte terkait Greenland. Pernyataan itu disampaikan Kamis (waktu setempat), sehari setelah kesepakatan diumumkan dan meredakan polemik diplomatik yang sempat berlangsung selama beberapa pekan.
Kesiapan tersebut disampaikan Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR) Jenderal Alexus Grynkewich kepada wartawan di markas besar NATO di Brussels. Ia menegaskan, meski belum ada arahan politik resmi, jajaran perencana aliansi telah mulai mempertimbangkan bentuk dan kerangka awal misi pertahanan Arktik.
“Kami belum melakukan perencanaan apa pun. Kami belum menerima arahan politik untuk melangkah,” kata Grynkewich. “Kami sedang memikirkan bagaimana cara mengorganisirnya—belum ada perencanaan yang dimulai, tapi kami siap.”
Kerangka kerja mulai terbentuk
Pernyataan Grynkewich disampaikan setelah Trump melunakkan sikapnya dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Rabu. Dalam forum tersebut, Trump mencabut ancaman tarif terhadap delapan negara Eropa serta mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk memperoleh Greenland, menyusul pertemuan tertutup dengan Rutte.
Trump kemudian mengklaim telah mengamankan akses AS yang “total dan permanen” ke wilayah otonom Denmark tersebut. Rutte, dalam keterangannya kepada Reuters, menyebut kesepakatan kerangka kerja itu memberi ruang bagi komando militer NATO untuk segera bergerak pada aspek teknis dan operasional.
“Saya tidak ragu kami bisa melakukan ini dengan cukup cepat. Tentu saja saya berharap untuk tahun 2026, bahkan saya berharap di awal 2026,” kata Rutte.
Presiden Finlandia Alexander Stubb menyatakan harapan agar rencana keamanan Arktik yang lebih komprehensif dapat dibahas dan dirampungkan pada KTT NATO di Ankara, Juli mendatang. Ia mendorong penguatan kerja sama negara-negara Nordik anggota NATO bersama AS dan Kanada.
Di internal NATO, diskusi mengarah pada kemungkinan pembentukan misi bertajuk Arctic Sentry, yang dimodelkan dari operasi Baltic Sentry. Operasi tersebut diluncurkan tahun lalu untuk melindungi infrastruktur kritis di Laut Baltik.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengonfirmasi bahwa usulan itu mencakup latihan terkoordinasi, operasi bersama, serta berbagi intelijen di wilayah Greenland, Islandia, Finlandia, dan jalur pelayaran Arktik yang kian padat.
Kekhawatiran terhadap Rusia–Tiongkok
Dalam penjelasannya, Grynkewich menyoroti meningkatnya kerja sama militer Rusia dan Tiongkok sebagai salah satu faktor utama perhatian NATO di kawasan Arktik.
“Kami telah melihat bahwa selama beberapa tahun terakhir, hal ini terjadi baik di domain maritim dengan peningkatan patroli bersama maupun di domain udara dengan patroli pembom jarak jauh yang dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya. “Kami terus berupaya meningkatkan postur kami dan memikirkan cara-cara bagi negara-negara untuk memperkuat postur kami di Arktik.”
Ketua Komite Militer NATO Laksamana Giuseppe Cavo Dragone menambahkan bahwa aliansi telah merencanakan sejumlah latihan militer di kawasan Arktik dalam beberapa bulan ke depan, meski belum ada yang secara khusus digelar di Greenland. Ia menyebut kepemimpinan militer NATO masih berada pada tahap awal dan menunggu arahan politik sebelum masuk ke perencanaan terperinci.
Isu kedaulatan Greenland
Di sisi lain, isu kedaulatan Greenland tetap menjadi perhatian. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan tidak ada negosiasi terkait status wilayah tersebut.
“Situasinya masih sulit dan serius, tetapi ada juga kemajuan yang dicapai,” katanya, seraya menambahkan bahwa diskusi kini dapat difokuskan pada keamanan bersama di kawasan Arktik.
Wakil Perdana Menteri Greenland Mute Egede menegaskan bahwa masa depan wilayah tersebut tidak menjadi objek tawar-menawar. “Apa pun tekanan yang mungkin diberikan pihak lain, negara kami tidak akan diserahkan, dan masa depan kami tidak akan dipertaruhkan.”

0Komentar