![]() |
| Formasi udara gabungan yang melibatkan kapal induk Angkatan Laut AS dan beberapa pesawat, termasuk pesawat pengebom B-52 Stratofortress Angkatan Udara AS. | Navytimes |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran telah berulang kali menghubungi Washington untuk membuka jalur pembicaraan, bersamaan dengan pengerahan gugus tempur kapal induk AS ke kawasan dekat Iran. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin waktu setempat dalam wawancara di Oval Office, saat pemerintahannya kembali menegaskan syarat-syarat ketat bagi Tehran jika ingin bernegosiasi.
Trump menyebut kontak tersebut terjadi seiring masuknya gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS di Samudra Hindia bagian barat.
Menurut dia, pengerahan militer itu dimaksudkan untuk memperluas opsi kebijakan AS, baik diplomatik maupun militer, dalam menghadapi Iran.
“Kami memiliki armada besar di samping Iran. Lebih besar dari Venezuela. Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu. Mereka menelepon berkali-kali. Mereka ingin berbicara,” ujar Trump kepada Axios.
Pada hari yang sama, pejabat pertahanan AS mengonfirmasi bahwa kelompok tempur USS Abraham Lincoln telah resmi memasuki area operasi Komando Pusat AS. Kapal induk bertenaga nuklir itu dikawal sejumlah kapal perusak yang dilengkapi rudal jelajah Tomahawk, yang mampu menjangkau sasaran jauh di dalam wilayah Iran.
Kehadiran armada tersebut, menurut pejabat pertahanan, ditujukan untuk memperkuat postur pencegahan sekaligus memberi ruang manuver lebih luas bagi Gedung Putih. Pemerintah AS menyatakan jalur diplomasi tetap terbuka selama Iran bersedia memenuhi prasyarat yang telah disampaikan.
Seorang pejabat senior AS, yang memberi pengarahan kepada wartawan beberapa jam setelah wawancara Trump, mengatakan pemerintah tetap “terbuka untuk berbisnis” dalam konteks perundingan. Menurut dia, Iran telah berulang kali menerima penjelasan mengenai kerangka kesepakatan yang diinginkan Washington.
“Syarat-syaratnya sudah jelas. Jika mereka ingin menghubungi kami dan mereka tahu apa syarat-syaratnya, maka kami akan melakukan pembicaraan,” kata pejabat tersebut.
Syarat yang dimaksud mencakup penghapusan seluruh uranium yang diperkaya dari Iran, pembatasan persediaan rudal jarak jauh, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional seperti Hizbullah dan Houthi, serta larangan total pengayaan uranium di dalam negeri. Menurut pejabat AS, Iran menunjukkan minat berdialog tetapi belum menyetujui poin-poin tersebut.
Tekanan diplomatik dan militer ini berlangsung di tengah situasi dalam negeri Iran yang masih bergejolak. Lembaga Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS melaporkan sedikitnya 6.126 orang telah dikonfirmasi tewas akibat tindakan keras aparat Iran terhadap gelombang protes nasional, dengan lebih dari 41.800 orang ditangkap.
Pemerintah Iran, di sisi lain, mengakui jumlah korban tewas mencapai 3.117 orang. Perbedaan data muncul di tengah pembatasan ketat arus informasi dari dalam negeri Iran.
Protes pecah sejak 28 Desember, dipicu oleh merosotnya nilai mata uang nasional. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyebut respons pemerintah Iran sebagai “penindasan paling brutal dalam sejarah kontemporer Iran”. Sejak itu, pemadaman internet berskala luas diberlakukan, membatasi verifikasi independen atas jumlah korban.
Tehran merespons pengerahan militer AS dengan peringatan keras. Dalam opini di Wall Street Journal, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya akan membalas “dengan segala yang kami miliki” jika terjadi serangan, sembari menuding Washington memanfaatkan kerusuhan domestik untuk mendorong konflik regional yang lebih luas.
Sejumlah pejabat AS mengatakan Trump sempat hampir menyetujui serangan awal bulan ini, tetapi memilih menahan diri sambil memposisikan ulang aset militer. Ia dijadwalkan bertemu para penasihat keamanan nasionalnya pekan ini untuk meninjau opsi tambahan yang kini diperkuat oleh kehadiran kelompok tempur Lincoln.
Farzin Nadimi, analis senior Iran di Washington Institute for Near East Policy, mengatakan kepada Asharq Al-Awsat bahwa penumpukan militer tersebut, terlepas dari pernyataan publik Trump soal diplomasi, mengarah pada kemungkinan serangan terbatas dan terarah jika jalur politik tidak membuahkan hasil.

0Komentar