Presiden Trump dan pemimpin China Xi Jinping berjabat tangan di Busan, Korea Selatan, 30 OktoberAndrew Caballero-Reynolds/AFP


Gencatan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang dicapai pada akhir 2025 masih bertahan memasuki awal 2026. Situasi itu berlangsung di tengah persiapan Presiden AS Donald Trump untuk melakukan kunjungan resmi ke Beijing pada April mendatang, yang dipandang berpotensi memengaruhi arah hubungan ekonomi dua negara dengan nilai perdagangan bilateral sekitar US$660 miliar per tahun.

Gencatan tersebut berakar dari kesepakatan kerangka kerja yang dicapai Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam KTT APEC Oktober 2025 di Busan, Korea Selatan. Kesepakatan itu menunda eskalasi lanjutan konflik dagang yang sempat memburuk sepanjang awal 2025, ketika kedua negara saling menaikkan tarif dan memperketat kebijakan perdagangan.

Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat menurunkan tarif atas sejumlah barang asal Tiongkok serta menangguhkan pembatasan ekspor baru. Sebagai imbalannya, Tiongkok menunda penerapan kontrol ekspor logam tanah jarang secara menyeluruh dan menyepakati pembelian jutaan ton kedelai dari AS.

Secara teknis, gencatan tarif memangkas bea masuk AS terhadap barang-barang China menjadi sekitar 47 persen dari level puncak 145 persen saat eskalasi terjadi pada awal 2025. 

Di sisi lain, China menangguhkan tarif balasan atas produk pertanian AS—termasuk kedelai, gandum, jagung, dan kapas—serta menunda penerapan pembatasan ekspor unsur tanah jarang selama satu tahun.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan pada awal Desember bahwa China sejauh ini mematuhi ketentuan perjanjian tersebut. Ia mencatat Beijing telah menyelesaikan sekitar sepertiga dari komitmen pembelian kedelai yang disepakati. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menambahkan bahwa harga kedelai global telah naik sekitar 12 hingga 15 persen sejak kesepakatan diberlakukan.

Dari sisi Beijing, Wakil Menteri Perdagangan Li Chenggang diperkirakan menjadi figur kunci dalam lanjutan negosiasi sepanjang 2026. Meski Bessent sebelumnya menyebut Li “tidak terkendali” karena dianggap melanggar etiket diplomatik menjelang KTT Oktober, sejumlah diplomat dan pelaku usaha menggambarkannya sebagai pejabat yang cerdas, pragmatis, dan memiliki kehadiran eksekutif yang kuat.

Analis Asia Society, Neil Thomas, menempatkan peran Li dalam konteks yang lebih luas. “Prioritas jangka pendek Li adalah mempertahankan gencatan senjata perdagangan bilateral dan menciptakan lingkungan positif untuk kunjungan Trump ke China,” kata Thomas kepada The Economic Times. Ia menambahkan, “Tantangan terbesar tim perdagangan China adalah membuat pemerintahan Trump melonggarkan lebih banyak kontrol ekspor AS tanpa menimbulkan reaksi keras yang luar biasa di Washington.”

Bessent juga menyebut kemungkinan adanya hingga empat pertemuan antara Trump dan Xi sepanjang 2026. Agenda tersebut mencakup kunjungan Trump ke Beijing pada April, potensi pertemuan APEC di Shenzhen pada November, serta dua kunjungan Xi ke Amerika Serikat. “Jika ada empat pertemuan sepanjang tahun, saya rasa itu akan memberikan stabilitas yang besar bagi hubungan kedua negara,” ujar Bessent.

Meski demikian, respons pasar dan pelaku usaha tetap diliputi kehati-hatian. Sejumlah analis menilai arah kebijakan perdagangan AS masih berpotensi berubah seiring dinamika internal di Gedung Putih. 

“Menurut saya, tahun 2026 akan terus mengalami ketidakstabilan di bidang perdagangan, karena Gedung Putih terus mendefinisikan ulang tujuan-tujuannya,” tulis salah satu penilaian dari Foresight.

Sejumlah ketentuan utama dalam kesepakatan dagang ini bersifat sementara dan dijadwalkan berakhir pada November 2026, sehingga dunia usaha tetap harus beroperasi di tengah ketidakpastian sambil menunggu kejelasan arah kebijakan lanjutan dari Washington dan Beijing.