Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan ambisinya agar Greenland berada di bawah kendali AS. Pernyataan itu disampaikan pada Jumat (9/1/2026) di Gedung Putih saat ia bertemu dengan sejumlah eksekutif perusahaan minyak. Trump menilai kepemilikan langsung atas Greenland diperlukan untuk menghalangi Rusia dan China memperluas pengaruh di kawasan Arktik.
Menurut Trump, AS tidak cukup hanya mengandalkan perjanjian pertahanan yang selama ini mengatur kehadiran militernya di pulau tersebut. Pendekatan berbasis kerja sama atau “sewa” wilayah, katanya, tidak memberi jaminan keamanan jangka panjang bagi Washington.
“Negara-negara harus memiliki kepemilikan dan Anda mempertahankan kepemilikan, bukan menyewa. Dan kita harus mempertahankan Greenland,” ujar Trump, dilansir CNN, Sabtu (10/1) “Kita akan melakukannya dengan cara mudah atau cara sulit,” tambahnya, merujuk pada kemungkinan langkah tegas untuk mendapatkan wilayah itu.
Greenland merupakan wilayah semi-otonomi Kerajaan Denmark dengan sekitar 57.000 penduduk. Letaknya yang strategis di antara Amerika Utara dan kawasan Arktik menjadikannya penting bagi sistem peringatan dini terhadap ancaman rudal serta pemantauan aktivitas militer di lintasan utara.
Selama ini, AS menempatkan lebih dari 100 personel militernya secara permanen di Pangkalan Pituffik, ujung barat laut Greenland, berdasarkan perjanjian pertahanan dengan Denmark sejak 1951. Fasilitas itu menjadi bagian dari jaringan pertahanan udara dan luar angkasa Washington di wilayah Arktik.
Meski demikian, Trump menilai pengaturan tersebut tidak lagi memadai. Ia berulang kali menyebut kehadiran Rusia dan China sebagai alasan utama dorongan pengambilalihan Greenland. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan mengklaim tanpa bukti bahwa perairan di sekitar Greenland dipenuhi kapal kedua negara tersebut.
“Saya mencintai rakyat China, saya mencintai rakyat Rusia. Tetapi saya tak ingin mereka menjadi tetangga di Greenland, itu tak akan terjadi. Dan NATO harus memahami hal itu,” kata Trump.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Denmark dan negara-negara Eropa. Pemerintah di Kopenhagen menegaskan Greenland tidak untuk dijual dan menolak keras segala bentuk ancaman penggunaan kekuatan militer. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan bahwa jika AS menempuh jalur militer, langkah itu bisa mengakhiri tatanan keamanan trans-Atlantik yang dibangun sejak akhir Perang Dunia II.
Tujuh negara Eropa—Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris—mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan hanya Greenland dan Denmark yang berhak menentukan masa depan hubungan mereka. Pernyataan itu menegaskan kembali bahwa kedaulatan wilayah tidak dapat ditentukan secara sepihak, termasuk oleh sekutu di dalam NATO.
Di dalam negeri AS, respons datang dari berbagai arah. Ketua DPR Mike Johnson menyatakan Kongres tidak sedang mempertimbangkan opsi militer terhadap Greenland. Namun, Wakil Presiden JD Vance menyebut pulau tersebut penting bagi sistem pertahanan rudal dan kepentingan keamanan nasional AS di kawasan utara.
Gedung Putih mengonfirmasi pemerintah tengah membahas sejumlah skenario untuk membawa Greenland ke bawah kendali AS. Opsi yang dikaji mencakup pendekatan diplomatik, insentif ekonomi bagi warga Greenland, hingga kemungkinan langkah militer, meski belum ada keputusan resmi terkait arah kebijakan tersebut.
Sementara itu, Denmark mengumumkan peningkatan signifikan anggaran pertahanan untuk Greenland. Menteri Pertahanan Denmark menyebut pemerintah akan mengalokasikan sekitar 88 miliar krone Denmark setara sekitar US$13,8 miliar untuk memperkuat kemampuan militer di wilayah itu seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Arktik.
Di Moskwa, Kremlin belum memberikan komentar resmi atas pernyataan Trump. Sejumlah analis internasional menilai Rusia lebih mencermati dampak politik isu ini terhadap kohesi NATO dibandingkan ambisi teritorial AS itu sendiri.
Data pelacakan kapal dari sejumlah lembaga pemantau maritim internasional tidak menunjukkan kehadiran signifikan armada China atau Rusia di sekitar Greenland, berbeda dengan klaim yang disampaikan Trump. Pemerintah Greenland juga membantah tudingan bahwa wilayahnya “dipenuhi” kapal asing.
Meski demikian, Trump tetap menegaskan posisinya bahwa kepemilikan langsung atas Greenland adalah satu-satunya cara untuk menjamin keamanan AS di Arktik.
“Anda membela kepemilikan. Anda tidak membela sewa. Dan kita harus mempertahankan Greenland. Jika kita tidak melakukannya, China atau Rusia akan melakukannya,” katanya.

0Komentar