![]() |
| Ribuan penggemar panda memadati Kebun Binatang Ueno pada Januari 2026 untuk melihat mereka pada hari terakhir penayangan publik sebelum dikembalikan ke Tiongkok. | REUTERS |
Tokyo akan kehilangan seluruh panda raksasa untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima dekade. Dua panda terakhir di Jepang, Xiao Xiao dan Lei Lei, dijadwalkan dipulangkan ke Tiongkok pada Selasa (27/1), mengakhiri keberadaan panda di Negeri Sakura sejak 1972. Peristiwa ini terjadi di tengah memburuknya hubungan diplomatik Tokyo–Beijing, yang sekaligus memperkecil peluang kedatangan panda pengganti dalam waktu dekat.
Ribuan penggemar panda memadati Kebun Binatang Ueno, Tokyo, pada Minggu (25/1), untuk mengikuti perpisahan terakhir dengan pasangan panda kembar berusia empat tahun tersebut.
Manajemen kebun binatang memberlakukan sistem lotere guna membatasi jumlah pengunjung. Pemenang undian hanya diberi waktu satu menit untuk melihat panda dari jarak dekat, sementara antrean tetap mengular sejak pagi dengan waktu tunggu lebih dari tiga jam. Sejumlah warga datang meski tidak memperoleh tiket, sekadar ingin berada di sekitar area kebun binatang.
Kepada Reuters, Machiko Seki (54), pekerja sektor keuangan, mengatakan kunjungannya merupakan ungkapan terima kasih pribadi. “Panda-panda ini telah memberiku begitu banyak hal — energi, keberanian, kesembuhan. Aku ingin datang hari ini untuk menyampaikan rasa terima kasihku,” ujarnya.
Pengunjung lain, Akiko Kawakami, ibu rumah tangga, menyampaikan alasan serupa. “Aku datang karena ingin menghirup udara yang sama dengan para panda,” katanya, masih kepada Reuters.
Xiao Xiao dan Lei Lei lahir di Kebun Binatang Ueno pada 2021 dari induk Shin Shin dan Ri Ri. Kedua induk tersebut telah dipulangkan ke Tiongkok pada 2024, setahun setelah kakak betina mereka, Xiang Xiang, kembali ke negara asalnya. Sejak saat itu, Ueno Zoo hanya menyisakan dua panda kembar tersebut hingga masa peminjaman berakhir pada awal 2026.
Isu Taiwan membebani hubungan
Pemulangan panda berlangsung dalam konteks hubungan Jepang–Tiongkok yang sedang menegang. Relasi kedua negara memburuk sejak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, pada November lalu, menyatakan bahwa serangan militer China terhadap Taiwan dapat menjadi “krisis eksistensial bagi Jepang” dan berpotensi memicu respons militer. Beijing menilai pernyataan itu melampaui garis merah dan secara resmi menuntut klarifikasi serta pencabutan.
Sejak itu, Beijing meluncurkan sejumlah langkah balasan. Pemerintah China melarang impor makanan laut dari Jepang, memperketat ekspor material tanah jarang dan barang dual-use yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer, serta mengeluarkan peringatan perjalanan agar warganya menunda kunjungan ke Jepang.
Data resmi menunjukkan jumlah wisatawan China daratan ke Jepang pada Desember 2025 turun sekitar 45% secara tahunan menjadi sekitar 330.000 orang.
Dalam konteks tersebut, pemulangan panda kerap dibaca sebagai indikator memburuknya iklim diplomatik, meski secara formal tetap merujuk pada kontrak peminjaman yang disepakati jauh hari.
Panda dan hubungan bilateral
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pengiriman panda pengganti ke Jepang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyampaikan pernyataan singkat.
“Saya tahu panda raksasa sangat disukai banyak orang di Jepang, dan kami menyambut teman-teman Jepang untuk mengunjungi mereka di Tiongkok,” ujarnya, dikutip NBC News.
Pihak Kebun Binatang Ueno menyatakan tetap berharap kerja sama konservasi dengan Tiongkok dapat berlanjut. Namun, sejumlah analis menilai ketiadaan panda berpotensi berdampak ekonomi.
Profesor Khiro Miyazaki dari Universitas Kansai memperkirakan absennya panda dapat menggerus aktivitas ekonomi terkait pariwisata dan ritel di sekitar Ueno hingga sekitar 20 miliar yen per tahun.
Sejak 1949, Tiongkok dikenal aktif menggunakan apa yang kerap disebut panda diplomacy, dengan meminjamkan panda raksasa sebagai simbol hubungan baik antarnegara.
Dalam skema ini, kepemilikan panda tetap berada di tangan Tiongkok, termasuk anak yang lahir di luar negeri. Negara tuan rumah umumnya membayar sekitar US$1 juta per tahun untuk setiap pasangan panda dalam perjanjian jangka panjang.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan Jepang akan kembali menerima panda, di tengah hubungan bilateral yang masih dibayangi isu geopolitik dan perdagangan.

0Komentar