Bendera Israel dan Amerika berkibar di US Capitol selama unjuk rasa mendukung Israel dan memprotes antisemitisme di National Mall di Washington, 14 November 2023. (REUTERS/TOM BRENNER)


Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menyepakati skema kerja sama militer untuk memungkinkan serangan cepat terhadap Iran bila situasi mengharuskannya. Informasi itu pertama kali disiarkan stasiun televisi Israel Channel 14, menyusul pertemuan Komandan United States Central Command (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper dengan pejabat militer senior Israel di Tel Aviv pada Minggu (25/1/2026).

Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu keamanan kawasan, dengan Iran ditempatkan sebagai salah satu fokus utama. Laporan Channel 14 yang dikutip Middle East Monitor pada Selasa (27/1/2026) menyebut para peserta memiliki pandangan serupa mengenai perlunya koordinasi erat kedua militer, serta melanjutkan kerja sama operasional dalam menghadapi potensi eskalasi yang melibatkan Teheran.

Dalam laporan yang sama, Cooper disebut memaparkan pendekatan AS yang mengutamakan operasi bersifat cepat, mendadak, dan presisi. Kantor berita Palestina Ma’an mengutip pemaparan tersebut saat mengulas kemungkinan opsi militer terhadap Iran. 

Menurut Channel 14, sejumlah pejabat AS juga menilai perubahan rezim di Iran sebagai kebutuhan strategis, dengan target serangan—jika terjadi—difokuskan pada pihak yang dianggap bertanggung jawab atas tindakan terhadap warga sipil dan demonstran.

Cooper, menurut laporan itu, turut menegaskan komitmen AS untuk melindungi sekutu di Timur Tengah, termasuk Israel, sebagai bagian dari pesan yang dibawa dalam pertemuan tersebut.

Perkembangan ini berlangsung ketika kehadiran militer AS di kawasan kembali diperkuat. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan tiba di Timur Tengah pada Senin (26/1) waktu setempat. Informasi tersebut disampaikan Komando Pusat AS melalui unggahan di platform X dan dikutip kantor berita AFP. Gugus tempur kapal induk itu disebut dikerahkan untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional.

Penempatan tersebut dilakukan setelah Iran menghadapi gelombang protes domestik. Meski Presiden Donald Trump belakangan melunakkan retorika terkait aksi militer terhadap Iran, ia tetap menyatakan semua opsi tersedia.

Koordinasi militer AS–Israel yang disebut dalam laporan media Israel itu menunjukkan komunikasi kedua pihak tetap berlangsung di level komando, di tengah hubungan yang belum stabil antara Washington dan Teheran serta penguatan posisi militer AS dalam arsitektur keamanan kawasan.