Ilustrasi bendera Pakistan, Turki, dan Arab Saudi. | APLUSWIRE/Robin Santoso

Pakistan, Arab Saudi, dan Turki tengah mematangkan pembentukan pakta pertahanan trilateral untuk memperkuat kerja sama militer di tengah eskalasi operasi Israel di Timur Tengah dan memburuknya situasi keamanan kawasan. Draf perjanjian aliansi tersebut telah dibahas intensif selama sekitar 10 bulan terakhir, dengan fokus pada pertahanan kolektif dan kolaborasi industri militer.

Pembahasan pakta itu dikonfirmasi Menteri Produksi Pertahanan Pakistan Raza Hayat Harraj. Ia menyatakan diskusi berlangsung aktif hingga pertengahan Januari 2026 dan diarahkan untuk memperdalam kerja sama pertahanan antara Islamabad, Riyadh, dan Ankara, termasuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) serta pengembangan teknologi militer secara mandiri.

Inisiatif tersebut mengemuka di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara kawasan terhadap meluasnya operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Pada saat yang sama, ketergantungan pada dukungan militer Barat dinilai semakin tidak sejalan dengan kepentingan keamanan masing-masing negara, terutama dalam konteks relasi Barat dengan Israel.

Dalam kerangka aliansi yang dirancang, masing-masing negara membawa keunggulan strategis berbeda. Pakistan dikenal sebagai satu-satunya negara bersenjata nuklir di dunia Islam dengan kapasitas militer besar. 

Turki memiliki industri pertahanan yang berkembang pesat, terutama pada teknologi drone dan platform persenjataan modern. Arab Saudi, di sisi lain, memiliki kekuatan finansial besar dan posisi geopolitik strategis di Timur Tengah.

Dari Ankara, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan membenarkan adanya pembahasan tersebut. Ia menegaskan diskusi masih berada pada tahap perumusan dan penyelarasan kepentingan, serta belum ada dokumen resmi yang ditandatangani.

Rencana aliansi trilateral ini juga bertumpu pada kerja sama pertahanan yang telah lebih dulu terbangun. Arab Saudi dan Pakistan menandatangani pakta pertahanan bilateral pada 17 September 2025 di Istana Al-Yamamah, Riyadh. 

Perjanjian itu memuat klausul bahwa setiap agresi terhadap salah satu pihak akan diperlakukan sebagai agresi terhadap keduanya. Kesepakatan tersebut diteken tak lama setelah serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada awal September 2025, yang memicu kekhawatiran luas di kawasan Teluk.

Sumber-sumber diplomatik yang dikutip Reuters dan Dawn menyebutkan, pakta trilateral Pakistan–Arab Saudi–Turki diarahkan untuk membangun platform kerja sama jangka panjang dalam menghadapi ancaman keamanan regional, terorisme lintas negara, serta dominasi kekuatan eksternal di Timur Tengah. 

Media Middle East Eye melaporkan, Turki memandang inisiatif ini sebagai langkah memperkuat pencegahan regional di tengah keraguan atas konsistensi dukungan Amerika Serikat, meski ketiga negara sama-sama memiliki hubungan militer dengan Washington.

Kerja sama pertahanan antara Turki dan Pakistan sendiri telah berlangsung lama. Ankara saat ini membangun kapal korvet untuk angkatan laut Pakistan, melakukan modernisasi pesawat tempur F-16, serta berbagi teknologi drone. Turki juga mendorong Arab Saudi dan Pakistan terlibat dalam pengembangan jet tempur generasi kelima Kaan.

Sementara itu, Arab Saudi juga memperluas jejaring militernya di kawasan. Riyadh diketahui tengah merampungkan pembentukan koalisi militer lain bersama Mesir dan Somalia. Sejumlah analis menilai langkah tersebut mencerminkan upaya rekalibrasi keamanan regional di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik di Timur Tengah, Afrika, dan kawasan Laut Merah.

Mantan Perdana Menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani sebelumnya mendorong pembentukan blok pertahanan regional yang lebih luas, mencakup Mesir, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Ia menyebut kerja sama semacam itu sebagai kebutuhan mendesak di tengah perubahan cepat konstelasi kekuatan global dan regional.