bendera Amerika Serikat dan Uni Eropa berkibar di depan gedung kantor Komisi Eropa di Brussels, Belgia. | REUTERS/FRANCOIS LENOIR


Sebuah survei terbaru mencatat kemerosotan tajam kepercayaan publik Eropa terhadap Amerika Serikat. Hanya 16% warga Uni Eropa yang kini memandang AS sebagai sekutu, sementara satu dari lima responden mengklasifikasikannya sebagai rival atau musuh.

Temuan itu berasal dari survei yang dilakukan European Council on Foreign Relations (ECFR) bersama Universitas Oxford. Survei dipublikasikan pada 15 Januari 2026, berbasis hampir 26.000 responden di 21 negara Eropa yang disurvei pada November 2025, atau sekitar satu tahun setelah kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.

Data ECFR menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, sebanyak 21% warga Eropa masih menganggap AS sebagai sekutu. Dalam periode yang sama, proporsi responden yang memandang Washington sebagai rival atau musuh hampir dua kali lipat sejak Maret 2025. ECFR mencatat perubahan ini terjadi di tengah kebijakan luar negeri AS yang dinilai semakin transaksional dan berjarak dengan mitra Eropa.

Perubahan persepsi tersebut tidak hanya terjadi di Uni Eropa. Di Rusia, survei merekam pergeseran sikap yang kontras. Dua tahun lalu, 64% warga Rusia memandang AS sebagai musuh. Angka itu kini turun tajam menjadi 37%. Sebaliknya, sentimen bermusuhan Moskwa justru beralih ke Eropa, dengan 72% responden di Rusia kini menganggap Uni Eropa sebagai musuh atau saingan.

Direktur ECFR Mark Leonard menempatkan temuan itu dalam konteks perubahan lanskap persepsi global.

“Survei ini menunjukkan bahwa dunia percaya Barat sudah mati. Orang Eropa tidak lagi melihat Amerika sebagai sekutu,” ujar Leonard dalam laporan pendamping survei. “Rakyat Ukraina kini menengok ke Brussels daripada Washington untuk mendapatkan dukungan, dan rakyat Rusia melihat Eropa bukan Amerika sebagai musuh terbesar mereka.”

Sejalan dengan itu, survei mencatat publik Ukraina semakin membedakan peran AS dan Eropa. Hampir dua pertiga responden di Ukraina memperkirakan hubungan dengan Uni Eropa akan menguat, sementara hanya sekitar sepertiga yang memiliki ekspektasi serupa terhadap hubungan dengan Washington.

Persepsi publik Eropa terhadap China juga mengalami pergeseran. Data ECFR menunjukkan 54% warga Eropa memperkirakan pengaruh global Beijing akan meningkat dalam satu dekade ke depan. Meski hanya 5% responden Uni Eropa yang secara eksplisit menyebut China sebagai sekutu, sebanyak 45% menilainya sebagai “mitra yang diperlukan”, proporsi yang relatif setara dengan pandangan terhadap AS dalam kategori yang sama.

Dalam laporannya, ECFR mencatat adanya ruang gerak baru bagi negara-negara Eropa dalam memandang hubungan dengan Beijing.

“Secara paradoks, penolakannya terhadap tatanan internasional liberal mungkin telah memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan Beijing, karena mereka tidak lagi merasa perlu untuk sejalan dengan sistem aliansi yang dipimpin AS,” demikian pernyataan dalam laporan tersebut.

Secara rinci, perubahan persepsi terhadap AS terlihat jelas di sejumlah negara besar Uni Eropa. Di Jerman, Prancis, dan Spanyol, hampir 30% responden kini mengklasifikasikan AS sebagai pesaing atau lawan. Di Swiss, angkanya bahkan mencapai 39%, menurut data ECFR.

Survei ini dilakukan sebelum Trump kembali menyuarakan keinginan untuk menguasai Greenland serta sebelum publikasi National Security Strategy AS terbaru. Leonard menilai perkembangan kebijakan tersebut berpotensi memperlebar jarak antara persepsi publik dan sikap resmi pemerintah Eropa, yang hingga kini masih menjaga hubungan diplomatik erat dengan Washington.

Dalam opini pendamping survei, Leonard mencatat bahwa sementara para pemimpin Eropa berupaya meredam dampak kebijakan AS, sentimen publik justru bergerak ke arah sebaliknya. ECFR menilai temuan ini mencerminkan kesenjangan yang kian nyata antara arah kebijakan pemerintah dan pandangan masyarakat terhadap fondasi hubungan transatlantik.