![]() |
| Warga mengikuti aksi unjuk rasa pro-pemerintah pada 12 Januari 2026 di Teheran, Iran. | Morteza Nikoubazi/NurPhoto |
Pemerintah Iran dilaporkan menahan jenazah demonstran yang tewas dalam gelombang protes nasional sejak akhir Desember 2025, lalu memaksa keluarga membayar uang dalam jumlah besar atau menyampaikan pernyataan publik yang mendukung narasi pemerintah untuk dapat mengambil jenazah.
Praktik itu dilaporkan terjadi di sejumlah kota, termasuk Tehran dan Rasht, dan dikonfirmasi oleh organisasi hak asasi manusia serta otoritas Amerika Serikat.
Laporan BBC dan Human Rights Watch, serta sanksi baru Departemen Keuangan AS yang diumumkan pada 15 Januari, menyebut aparat keamanan Iran menggunakan rumah sakit, kamar mayat, dan rumah duka sebagai instrumen tekanan politik. Keluarga korban diminta membayar ribuan dolar AS atau menyatakan bahwa korban merupakan pendukung pemerintah yang tewas akibat tindakan pengunjuk rasa.
Tekanan tersebut berlangsung di tengah penindasan terhadap protes nasional yang meletus pada 28 Desember 2025. Aksi bermula dari kemarahan publik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah, lalu berkembang menjadi demonstrasi antipemerintah di berbagai wilayah Iran.
Sejumlah keluarga mengatakan kepada BBC Persian bahwa jenazah kerabat mereka ditahan di rumah sakit hingga pembayaran dilakukan. Di Rasht, Iran utara, satu keluarga diminta membayar 700 juta toman atau sekitar US$5.000 untuk mengambil jenazah dari Rumah Sakit Poursina. Menurut kesaksian warga, sedikitnya 70 jenazah demonstran lain juga ditahan di fasilitas tersebut.
Kasus serupa dilaporkan terjadi di Tehran. Keluarga seorang pekerja konstruksi asal Kurdistan diminta membayar satu miliar toman, setara sekitar US$7.000, untuk mengambil jenazah anak mereka. Nilai itu disebut setara dengan lebih dari lima tahun upah buruh rata-rata di Iran.
Bagi keluarga yang tidak mampu membayar, aparat menawarkan alternatif lain. Di kamar mayat Behesht-e Zahra, Tehran, pejabat setempat meminta keluarga menyatakan bahwa korban adalah anggota pasukan paramiliter Basij yang tewas dibunuh pengunjuk rasa, bukan oleh aparat keamanan. Dengan pernyataan tersebut, jenazah dapat diambil tanpa biaya.
“Kami diminta ikut serta dalam aksi unjuk rasa pro-pemerintah dan mempresentasikan jenazah itu sebagai martir. Kami menolak,” ujar salah satu anggota keluarga kepada BBC.
Organisasi hak asasi manusia menilai praktik ini sebagai upaya pemerintah mengendalikan narasi korban tewas. Departemen Keuangan AS menyatakan keluarga korban dipaksa memberikan kesaksian palsu di televisi nasional untuk mendukung klaim pemerintah. Jika menolak, jenazah tidak dikembalikan.
Pejabat AS juga melaporkan insiden di Provinsi Lorestan, ketika aparat keamanan disebut “menculik jenazah dan menahannya sebagai sandera” untuk memaksa keluarga mengidentifikasi korban sebagai martir pro-pemerintah.
Di sisi lain, Human Rights Watch mendokumentasikan penguburan jenazah tanpa persetujuan keluarga. Pemakaman dilakukan di lokasi jauh dari kampung halaman korban untuk mencegah pelayat berkumpul dan menjadikan prosesi pemakaman sebagai ajang protes.
Dalam satu kasus di Tehran, keluarga seorang perempuan muda yang tewas pada 8 Januari dipaksa menguburkan korban di lokasi terpencil dengan alasan keamanan.
Situasi ini terjadi ketika fasilitas forensik Iran kewalahan menampung korban. Video yang diverifikasi BBC dan Human Rights Watch menunjukkan pusat forensik Kahrizak di selatan Tehran menampung sedikitnya 400 jenazah. Dalam rekaman tersebut, keluarga terlihat mencari kerabat mereka di antara tumpukan mayat.
Jumlah korban tewas masih simpang siur akibat pemadaman komunikasi nasional yang diberlakukan sejak 8 Januari. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat lebih dari 2.435 demonstran tewas.
Sementara itu, Iran International memperkirakan sedikitnya 12.000 warga sipil meninggal, terutama pada 8–9 Januari, dalam operasi yang mereka gambarkan sebagai penindasan terkoordinasi oleh Korps Garda Revolusi Islam dan milisi Basij.
BBC juga melaporkan kisah seorang perempuan yang baru mengetahui kematian suaminya setelah dihubungi staf rumah sakit. Ia diminta segera mengambil jenazah sebelum aparat datang menuntut pembayaran. Perempuan itu menempuh perjalanan tujuh jam menuju kampung halamannya di Iran barat dengan membawa jenazah suaminya di bak truk pikap.
“Saya duduk di bak truk pikap, menangisi jenazahnya selama tujuh jam,” ujarnya.

0Komentar