Foto: Momen kedatangan USS Annapolis (SSN-760), sebuah kapal selam serang cepat kelas Los Angeles milik Angkatan Laut Amerika Serikat. di Pangkalan Angkatan Laut Jeju, Pulau Jeju, Korea Selatan, pada tanggal 24 Juli 2023. | South Korean Defence Ministry

Pentagon merilis National Defense Strategy (NDS) 2026 pada Jumat waktu setempat, menandai pergeseran mendasar pendekatan Amerika Serikat terhadap keamanan di Semenanjung Korea. Dalam dokumen tersebut, Korea Selatan ditempatkan sebagai aktor utama pencegahan ancaman Korea Utara, sementara peran AS ditegaskan sebagai dukungan yang bersifat “kritis namun lebih terbatas”.

“Korea Selatan mampu mengambil tanggung jawab utama untuk mencegah ancaman Korea Utara dengan dukungan AS yang kritis namun lebih terbatas,” tulis Pentagon dalam NDS 2026 yang dirilis Jumat (23/1/2026) dan dikutip Reuters

Dokumen itu menyebut pergeseran keseimbangan tanggung jawab tersebut sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat untuk memperbarui postur kekuatannya di Semenanjung Korea.

Langkah ini diumumkan di tengah penataan ulang strategi pertahanan AS di kawasan Indo-Pasifik, dengan fokus utama menahan pengaruh China sekaligus mendorong sekutu utama mengambil peran lebih besar dalam keamanan regional.

Pembagian beban jadi soros strategi

Sebagai panduan utama kebijakan dan prioritas Pentagon, NDS 2026 menetapkan empat prioritas inti: mempertahankan wilayah Amerika Serikat, mencegah China “melalui kekuatan, bukan konfrontasi”, memperdalam pembagian beban dengan sekutu, serta memperkuat basis industri pertahanan dalam negeri.

Penekanan pada pembagian beban ini mencerminkan arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump, yang sejak awal masa jabatannya mendorong sekutu di Asia dan Eropa meningkatkan kontribusi pertahanan masing-masing. Dalam konteks Semenanjung Korea, pendekatan tersebut menandai pergeseran dari pola lama yang menempatkan AS sebagai penopang utama pencegahan terhadap Pyongyang.

Korea Selatan saat ini menampung sekitar 28.500 personel United States Forces Korea (USFK). Seoul juga telah berkomitmen menaikkan belanja pertahanan hingga 3,5% dari produk domestik bruto, di tengah kenaikan anggaran pertahanan sebesar 7,5% pada tahun ini.

Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan, Elbridge Colby, sebelumnya menyebut Korea Selatan sebagai “sekutu teladan” karena kesiapan fiskal dan militernya dalam memperkuat pertahanan nasional.

Agenda sensitif aliansi

Peluncuran NDS 2026 bertepatan dengan rencana kunjungan Colby ke Seoul pada Minggu hingga Selasa pekan depan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepang. Kunjungan ini diperkirakan menjadi forum pembahasan rinci implikasi strategi baru tersebut terhadap aliansi AS–Korea Selatan.

Sejumlah isu sensitif dijadwalkan masuk agenda, mulai dari ambisi Seoul membangun kapal selam bertenaga nuklir, transfer kendali operasional masa perang berbasis kondisi (conditions-based wartime operational control transfer), hingga penguatan kerja sama keamanan trilateral antara Korea Selatan, AS, dan Jepang.

Colby, yang memimpin penyusunan NDS, selama ini konsisten menyuarakan pandangan bahwa militer Korea Selatan perlu memegang peran lebih besar dalam pertahanan semenanjung. Sementara itu, pasukan AS dinilai perlu mengalihkan fokus strategis ke potensi konflik dengan China. 

Sejumlah pengamat menilai pembahasan juga dapat menyentuh dorongan Washington agar Seoul dan Tokyo berperan lebih aktif dalam pencegahan regional, termasuk skenario terkait Selat Taiwan.

Batasan kongres atas postur pasukan

Meski Pentagon mengisyaratkan pengurangan tanggung jawab langsung, ruang gerak eksekutif AS tetap dibatasi oleh Kongres. Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional tahun fiskal 2026 melarang penggunaan anggaran pertahanan untuk menurunkan jumlah pasukan USFK di bawah 28.500 personel, kecuali Menteri Pertahanan menyatakan langkah tersebut melayani kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.

Di sisi lain, Seoul terus memperkuat kemampuan pencegahan konvensionalnya. Pada akhir 2025, Korea Selatan mulai menempatkan rudal balistik Hyunmoo-5 ke unit-unit garis depan. Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back menyebut sistem senjata tersebut sebagai “sebanding kekuatannya dengan nuklir”.

Hyunmoo-5 merupakan bagian dari sistem pencegahan three-axis Korea Selatan, yang mencakup Kill Chain, Korea Air and Missile Defense (KAMD), serta Korea Massive Punishment and Retaliation (KMPR). Rudal ini memiliki berat peluncuran sekitar 36 ton dengan hulu ledak konvensional 8–9 ton, dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah yang terkubur lebih dari 100 meter.

Fokus China, semenanjung Korea bukan fokus utama

NDS 2026, yang berjudul Restoring peace through strength for a new golden age of America, menempatkan pertahanan dalam negeri AS sebagai prioritas utama. 

Di Indo-Pasifik, dokumen tersebut secara eksplisit menekankan tujuan memastikan China tidak mampu mendominasi Amerika Serikat maupun sekutu-sekutunya, sebagaimana dilaporkan Fox News dan The Korea Herald.

Dalam kerangka ini, Semenanjung Korea diposisikan sebagai bagian dari arsitektur keamanan regional yang lebih luas, dengan tuntutan kontribusi yang lebih besar dari mitra lokal, bukan lagi sebagai pusat utama perhatian militer AS.

Denuklirisasi Korea Utara tak lagi disorot

Baik NDS 2026 maupun National Security Strategy (NSS) yang dirilis pada Desember 2025 tidak lagi mencantumkan tujuan denuklirisasi Korea Utara. Langkah ini menjadi perubahan signifikan, mengingat denuklirisasi telah menjadi pilar kebijakan keamanan AS sejak 2003.

Sejumlah analis menilai absennya isu tersebut membuka ruang manuver diplomatik bagi Presiden Trump dalam negosiasi potensial dengan Kim Jong-un. 

Namun, Pyongyang tetap bersikap keras. Dalam pernyataan Kantor Berita KCNA pada 18 Februari, Korea Utara menuduh AS, Korea Selatan, dan Jepang “menghasut konfrontasi kolektif” serta menyebut tujuan denuklirisasi sebagai “ketinggalan zaman dan absurd”.

Kim Jong-un sebelumnya juga menyatakan tidak akan kembali ke meja perundingan selama Washington masih mempertahankan apa yang disebutnya sebagai “obsesi terhadap denuklirisasi”.

Spekulasi penyesuaian USFK

Strategi baru Pentagon turut memicu spekulasi mengenai penyesuaian postur USFK. Mengutip laporan Politico dan lembaga riset pertahanan menyebutkan kemungkinan penarikan atau relokasi sebagian pasukan, termasuk sekitar 4.500 personel Stryker Brigade Combat Team (SBCT), ke Guam atau wilayah AS lainnya.

Hingga kini, belum ada pengumuman resmi terkait perubahan jumlah pasukan. Pentagon menegaskan setiap penyesuaian akan mempertimbangkan komitmen aliansi serta ketentuan hukum yang berlaku.

Di tengah perubahan strategi tersebut, Seoul dan Washington telah menyepakati perjanjian pembagian biaya pertahanan untuk periode 2026–2030. Kontribusi Korea Selatan pada 2026 ditetapkan sebesar 1,5192 triliun won, setara sekitar US$1,14 miliar, naik 8,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Reformasi dalam kesepakatan ini menegaskan dana tersebut hanya boleh digunakan untuk aset yang ditempatkan di Semenanjung Korea, sekaligus mengakhiri praktik pendanaan pemeliharaan aset militer AS di luar wilayah Korea Selatan.