![]() |
| Mari Rutte, Sekretaris Jendral NATO selama Konferensi Keamanan Munich (MSC) pada Februari 2025 . | NATO/Flickr (CC BY-NC-ND) |
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa Eropa tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri secara efektif tanpa dukungan militer Amerika Serikat. Ia memperingatkan, upaya mengejar strategic autonomy atau otonomi strategis di luar kerangka NATO akan menuntut lonjakan besar anggaran pertahanan sekaligus menghilangkan perlindungan payung nuklir AS.
Pernyataan itu disampaikan Rutte saat berbicara di hadapan Komite Urusan Luar Negeri serta Komite Keamanan dan Pertahanan Parlemen Eropa di Brussel, Senin (26/1/2026).
Ia menanggapi menguatnya kembali perdebatan di Eropa soal gagasan membangun pertahanan mandiri, seiring sinyal pergeseran prioritas keamanan Washington.
“Jika ada yang berpikir Uni Eropa atau Eropa secara keseluruhan dapat membela diri tanpa AS, teruslah bermimpi. Kalian tidak bisa,” kata Rutte. “Kita saling membutuhkan.”
Rutte tolak usulan pembentukan Angkatan Bersenjata Eropa
Pernyataan tersebut menjadi penolakan langsung terhadap seruan pembentukan angkatan bersenjata Eropa yang terpisah dari NATO. Gagasan itu kembali mengemuka dalam beberapa pekan terakhir, termasuk dari Komisioner Eropa Andrius Kubilius, serta didorong kalangan politik Prancis yang mengampanyekan konsep otonomi strategis Eropa.
Dorongan tersebut menguat setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa fokus keamanan AS kian terarah ke kawasan lain. Namun, Rutte menilai jalur itu tidak realistis dalam waktu dekat, baik dari sisi biaya maupun kesiapan kemampuan militer.
Ia menyebut pertahanan Eropa yang benar-benar independen akan menuntut belanja militer sekitar 10% dari produk domestik bruto. Angka itu dua kali lipat dari target 5% PDB yang disepakati negara-negara NATO dalam KTT di Den Haag tahun lalu.
Selain aspek konvensional, Rutte juga menyoroti dimensi nuklir. Menurutnya, otonomi penuh berarti Eropa harus membangun kemampuan nuklir sendiri dari nol dan, pada saat yang sama, kehilangan penjamin utama keamanan kawasan.
“Anda akan kehilangan penjamin utama kebebasan kita, yaitu payung nuklir AS. Jadi, ya, semoga beruntung!” ujarnya, seperti dikutip Reuters dan sejumlah media Eropa.
Rutte menilai pembentukan kekuatan militer Eropa yang terpisah justru berpotensi melemahkan struktur pertahanan yang sudah ada.
“Ini akan membuat segalanya lebih rumit. Saya rasa Putin akan menyukainya. Jadi pikir-pikir lagi,” katanya, merujuk pada kepentingan Rusia di tengah konflik yang masih berlangsung di Ukraina.
Pujian untuk Trump
Dalam forum yang sama, Rutte juga menyampaikan pujian terbuka kepada Presiden Donald Trump. Ia menyebut Trump sebagai figur yang “sangat penting bagi NATO”, terutama dalam mendorong peningkatan belanja pertahanan negara-negara sekutu.
Menurut Rutte, tekanan konsisten dari Trump telah mendorong sejumlah negara Eropa termasuk Spanyol, Italia, dan Belgia serta Kanada untuk menaikkan anggaran pertahanan mereka dari sekitar 1,5% PDB hingga memenuhi target 2%. Seluruh sekutu NATO, kata dia, akhirnya mencapai ambang tersebut pada akhir 2025.
Tanpa tekanan tersebut, Rutte menilai peningkatan belanja pertahanan tidak akan terjadi secepat sekarang. Pernyataan ini disampaikan di tengah relasi NATO–AS yang sempat diwarnai ketegangan, terutama terkait pendekatan Trump yang lebih transaksional terhadap aliansi.
Pujian itu muncul meski masih ada kontroversi seputar gagasan Trump untuk mengambil alih Greenland. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen sebelumnya menyebut wacana tersebut berpotensi menandai “akhir dari NATO”. Namun, Rutte menyatakan krisis itu mereda setelah tercapai kesepakatan framework dengan Trump dalam pertemuan di Davos pekan lalu.
Kerangka kerja Greenland dan Arktik
Terkait Greenland, Rutte menjelaskan bahwa terdapat dua jalur kerja yang disepakati. Pertama, NATO akan mengambil peran lebih besar dalam memperkuat pertahanan Arktik, seiring meningkatnya aktivitas Rusia dan Tiongkok di kawasan tersebut. Kedua, pembahasan mengenai status dan kepentingan Greenland akan dilakukan melalui jalur bilateral antara Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat.
“Saya tidak memiliki mandat untuk bernegosiasi atas nama Denmark, jadi saya tidak melakukannya, dan saya tidak akan melakukannya,” ujar Rutte, menegaskan batas perannya sebagai Sekjen NATO.
Di sisi lain, Rutte juga mendorong Parlemen Eropa agar memberi fleksibilitas dalam penggunaan paket pinjaman Uni Eropa senilai €90 miliar untuk Ukraina. Ia menilai industri pertahanan Eropa saat ini belum mampu memproduksi persenjataan dan amunisi dalam jumlah yang memadai sesuai kebutuhan Kyiv.
Menurutnya, tanpa kelonggaran tersebut, bantuan militer ke Ukraina berisiko tersendat, sementara perang dengan Rusia masih berlangsung dan menuntut suplai senjata dalam skala besar serta berkelanjutan.

0Komentar