Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Yerussalem, Israel, pada 18 Novrmber 2020. | State Department/Ron Przysucha/ Public Domain

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan peringatan keras kepada Iran pada Senin (26/1/2026), dengan menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Israel akan dibalas secara tegas dan menjadi “satu kesalahan yang terlalu banyak” bagi Teheran. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang khusus Knesset di Yerusalem, yang digelar bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Albania Edi Rama, di tengah meningkatnya eskalasi keamanan di Timur Tengah.

Peringatan tersebut disampaikan saat Amerika Serikat mengerahkan kekuatan militer tambahan ke kawasan, sementara Hizbullah di Lebanon mengancam akan melakukan pembalasan luas jika Iran diserang. Situasi regional itu berlangsung bersamaan dengan tekanan domestik di Iran akibat gelombang protes dan meningkatnya sorotan internasional terhadap respons aparat keamanan Teheran.

Pengerahan militer AS

Pernyataan Netanyahu bertepatan dengan pergerakan gugus tempur angkatan laut AS menuju Teluk Oman. Sejumlah sumber pertahanan menyebutkan pengerahan itu mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln serta tiga kapal perusak yang dilengkapi rudal jelajah Tomahawk.

Presiden Donald Trump, pekan lalu, menyebut langkah tersebut sebagai pengiriman “armada” ke Timur Tengah. Ia mengatakan Washington “mengawasi Iran” dan telah menempatkan “kekuatan besar” di kawasan tersebut.

Pengerahan militer AS berlangsung di tengah kondisi domestik Iran yang belum stabil. Aksi protes anti-pemerintah yang meletus sejak 28 Desember dipicu oleh krisis ekonomi yang memburuk. Menurut Human Rights Activists News Agency, tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap demonstran telah menewaskan lebih dari 5.900 orang.

Amnesty International menggambarkan Januari 2026 sebagai periode penindasan paling mematikan oleh otoritas Iran dalam beberapa dekade terakhir, sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional dan lembaga hak asasi manusia.

Dalam konteks itu, Netanyahu mengaitkan ancaman terhadap Israel dengan aktivitas regional Iran dan sekutunya, seraya menyampaikan pesan pencegahan langsung dari parlemen Israel.

Hizbullah bersolidaritas, UEA ambil jarak

Di Beirut, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyatakan solidaritas terbuka terhadap Iran dalam rapat umum pada hari yang sama. Ia memperingatkan bahwa konflik terhadap Teheran akan berdampak luas ke seluruh kawasan.

“Perang terhadap Iran kali ini akan membakar seluruh kawasan,” kata Qassem dalam pidato yang disiarkan televisi. Ia menegaskan Hizbullah akan menganggap dirinya sebagai target langsung dari setiap agresi terhadap Iran.

Qassem juga menyebut adanya informasi dari mediator bahwa pejabat AS dan Israel mempertimbangkan langkah militer terhadap Hizbullah jika konflik dengan Iran meletus. Dalam pernyataannya, ia memuji Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menyebutnya sebagai figur sentral dalam poros perlawanan regional.

Sikap berbeda disampaikan Uni Emirat Arab. Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara, daratan, maupun perairannya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Iran. 

Pemerintah UEA juga menyatakan tidak akan memberikan dukungan logistik untuk operasi semacam itu, dengan menekankan komitmen pada dialog, deeskalasi, kepatuhan terhadap hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui kanal resmi pemerintah dan dikutip oleh Reuters, di tengah kekhawatiran negara-negara Teluk akan meluasnya konflik bersenjata.

Respons Teheran dan Sikap Israel

Dari Teheran, pejabat-pejabat Iran merespons dengan nada keras. Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap serangan akan diperlakukan sebagai “perang habis-habisan” dan dibalas dengan respons cepat serta menyeluruh. Ancaman terhadap Ayatollah Ali Khamenei, menurut pernyataan resmi, akan dianggap sebagai pemicu “perang suci”.

Sejumlah laporan media internasional menyebut Netanyahu telah membahas kemungkinan putaran serangan lanjutan terhadap Iran dengan Trump dalam pertemuan di Mar-a-Lago pada akhir Desember lalu. 

Kepala Staf Angkatan Darat Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir sebelumnya menyatakan Israel siap menyerang balik “di mana pun diperlukan, baik di front dekat maupun jauh”, merujuk pada spektrum ancaman regional yang dihadapi Tel Aviv.

Rangkaian pernyataan politik, ancaman terbuka, dan pergerakan militer ini menandai meningkatnya kewaspadaan aktor-aktor utama di Timur Tengah, dengan keterlibatan langsung Amerika Serikat di tengah situasi regional yang belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.