Formasi udara gabungan yang melibatkan kapal induk Angkatan Laut AS dan beberapa pesawat, termasuk pesawat pengebom B-52 Stratofortress Angkatan Udara AS. | Navytimes


Pemberontak Houthi Yaman dan milisi Kataib Hezbollah Irak mengeluarkan ancaman aksi militer terkoordinasi untuk mendukung Iran, seiring masuknya gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (26/12026), di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dan militer Amerika Serikat terhadap Teheran, sekaligus memicu kekhawatiran meluasnya eskalasi kawasan.

Ancaman datang dari kelompok-kelompok yang dikenal sebagai bagian dari poros perlawanan pro-Iran. Mereka memberi sinyal kesiapan bertindak jika AS mengambil langkah militer terhadap Iran, setelah sebelumnya bersikap pasif pada Juni 2025 ketika Teheran terlibat perang 12 hari melawan Israel yang juga disertai serangan AS ke fasilitas nuklir Iran.

Sinyal Houthi soal Laut Merah

Kelompok Houthi pada Senin (26/1) merilis sebuah video pendek berisi rekaman lama kapal yang terbakar, dengan keterangan singkat “Segera”, seperti dilaporkan Associated Press. Video tersebut tidak menyebut target secara spesifik, namun dibaca sebagai sinyal kemungkinan kembalinya operasi maritim mereka di Laut Merah.

Sebelumnya, Houthi melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap kapal-kapal niaga sejak pecahnya perang Israel–Hamas di Gaza. Serangan itu sempat dihentikan menyusul gencatan senjata, meski kelompok tersebut berulang kali menyatakan operasi dapat dilanjutkan jika situasi menuntut.

Sejumlah analis menempatkan langkah ini sebagai dukungan tidak langsung kepada Teheran di tengah meningkatnya kehadiran militer AS dan tekanan internasional terhadap Iran. Hingga kini, belum ada konfirmasi mengenai target maupun jadwal aksi lanjutan dari pihak Houthi.

Milisi Irak siaga tempur

Dari Irak, pemimpin Kataib Hezbollah Abu Hussein al-Hamidawi pada Minggu malam mengeluarkan pernyataan yang menyerukan kesiapan tempur. Ia menyebut adanya upaya terkoordinasi untuk melemahkan Iran, yang ia gambarkan sebagai “benteng dan kebanggaan” dunia Muslim.

“Kami meyakinkan musuh-musuh kami bahwa berperang melawan Republik Islam tidak akan menjadi upaya yang mudah,” ujar al-Hamidawi. Ia menambahkan, “Sebaliknya, kalian akan mengalami bentuk kematian yang paling mengerikan, dan tidak akan ada yang tersisa dari kalian di kawasan kami.”

Al-Hamidawi juga menekankan perlunya mendukung Iran “dengan cara apa pun yang memungkinkan”, menandai potensi perubahan sikap milisi Irak dibandingkan konflik Israel–Iran tahun lalu, ketika respons mereka relatif terbatas.

Posisi pasukan AS di dekat Iran

Di sisi lain, gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan telah memasuki wilayah tanggung jawab US Central Command di Samudra Hindia. Informasi tersebut disampaikan oleh Fox News dan CNN, menyusul keputusan Presiden Donald Trump mengerahkan aset militer tambahan ke kawasan.

Trump menyatakan pengerahan itu dilakukan “untuk berjaga-jaga” jika ia memutuskan mengambil tindakan terhadap Iran. Ia juga menetapkan dua garis merah, yakni pembunuhan terhadap pengunjuk rasa damai dan eksekusi massal tahanan di tengah penindasan protes nasional di Iran.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran Jenderal Reza Talaei-Nik memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap negaranya “akan dibalas dengan respons yang lebih menyakitkan dan lebih tegas dibandingkan masa lalu”.

Protes di Iran sendiri meletus sejak 28 Desember, dipicu jatuhnya nilai tukar rial. Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, hingga Minggu lalu sedikitnya 5.848 kematian telah diverifikasi, sementara lebih dari 41.280 orang dilaporkan ditangkap dalam penindakan aparat.