Saudi Arabia dan UEA menolak wilayahnya dipakai AS untuk menyerang Iran, sementara Trump peringatkan waktu kesepakatan nuklir menipis. | ABC News

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran bahwa ruang waktu untuk mencapai kesepakatan nuklir semakin menyempit. Peringatan itu disampaikan bertepatan dengan tibanya armada besar Angkatan Laut AS—dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln—di perairan dekat Republik Islam tersebut, Rabu (28/1). 

Namun, di saat yang sama, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) secara tegas menolak penggunaan wilayah maupun pangkalan militer mereka untuk serangan terhadap Iran, membatasi opsi militer Washington di kawasan.

Peringatan Trump muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah, kawasan yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak global, bersamaan dengan pengetatan tekanan politik dan ekonomi terhadap Teheran. 

Penolakan dari dua sekutu utama Teluk menandai perubahan sikap penting dalam arsitektur keamanan regional, meski keduanya tetap menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Aset militer dalam posisi siaga

Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, yang didampingi tiga kapal perusak, memasuki kawasan Timur Tengah pada pekan ini. Pengerahan tersebut melengkapi aset militer AS lain yang telah lebih dulu ditempatkan, termasuk jet tempur F-15E Strike Eagle serta sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD.

Melalui platform Truth Social, Trump menyebut armada tersebut sebagai kekuatan yang siap digunakan jika diperlukan. 

“Ini adalah armada yang lebih besar, dipimpin oleh Kapal Induk Abraham Lincoln yang hebat, dibandingkan yang dikirim ke Venezuela,” tulis Trump. Ia menambahkan armada itu “siap, bersedia, dan mampu menyelesaikan misinya dengan cepat, dengan kecepatan dan kekerasan, jika diperlukan.”

Pengerahan ini berlangsung di tengah situasi domestik Iran yang bergejolak. Protes nasional yang pecah sejak akhir Desember 2025, dipicu krisis ekonomi, dibalas dengan tindakan keras aparat keamanan. Lembaga Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS melaporkan sedikitnya 6.000 demonstran tewas, meski sejumlah sumber menyebut angka korban berpotensi lebih tinggi.

Negara-negara Teluk tetapkan batasan

Di sisi lain, Arab Saudi dan UEA mengambil jarak dari skenario konflik terbuka. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Selasa memastikan Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun teritorialnya digunakan untuk serangan terhadap Iran. Pernyataan itu disampaikan setelah percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Sikap serupa lebih dulu diumumkan UEA pada Senin. Kedua negara menegaskan posisi tersebut meskipun memiliki kerja sama pertahanan jangka panjang dengan AS dan menjadi lokasi sejumlah pangkalan militernya.

Penolakan ini mencerminkan kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap risiko eskalasi regional yang lebih luas. Seorang analis keamanan kawasan, Danny Citrinowicz dari Institute for National Security Studies Israel, menilai pilihan yang dihadapi negara-negara tersebut sama-sama berisiko. 

“Ini bukan pilihan antara opsi yang baik dan yang buruk. Ini adalah pilihan di antara opsi-opsi buruk—pertanyaannya adalah mana yang paling tidak berbahaya,” tulisnya.

Dampak langsung ke pasar energi

Ketegangan geopolitik tersebut tercermin cepat di pasar energi. Harga minyak mentah global naik ke level tertinggi dalam empat bulan. Minyak Brent ditutup mendekati US$68 per barel pada Selasa, sementara West Texas Intermediate berada di atas US$62 per barel.

Data perdagangan menunjukkan adanya bullish call skew selama 14 sesi berturut-turut, rentetan terpanjang sejak akhir 2024. Sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari, menjadikan jalur sempit ini titik krusial bagi stabilitas pasokan energi global.

Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan jika diserang. Dalam pernyataan resminya, Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut Teheran akan merespons dengan cara yang “belum pernah terjadi sebelumnya” jika dipaksa. 

Garda Revolusi Iran dilaporkan meningkatkan kesiagaan, sementara kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran di Irak, Lebanon, dan Yaman menyatakan kesiapan terlibat apabila konflik pecah.

Meski demikian, jalur diplomasi masih terbuka. Oman dan Qatar disebut terus berperan sebagai mediator. Trump juga menyatakan bahwa Iran “ingin berbicara”, sementara pemerintahannya tetap menuntut penghentian menyeluruh program nuklir dan rudal Teheran sebagai syarat utama perundingan.