Patung La Mano Mineral di Venezuela melambangkan kekayaan sumber daya alam negara tersebut. Kini minyak Venezuela menjadi medan persaingan kepentingan ekonomi Amerika Serikat dan China. | CARLOS BECCERA/BLOMMBERG


Upaya Presiden Donald Trump mengendalikan minyak Venezuela berhadapan dengan kepentingan ekonomi China di negara Amerika Selatan tersebut. Beijing memiliki piutang minimal US$10 miliar dari Caracas, hasil lebih dari satu dekade hubungan finansial erat antara kedua negara.

China National Petroleum Corp. dan Sinopec—dua perusahaan milik negara China—memegang hak atas cadangan minyak Venezuela sebesar 4,4 miliar barel, alokasi terbesar untuk negara asing mana pun menurut riset Morgan Stanley. China juga membeli sekitar 80% ekspor minyak mentah Venezuela, menjadikannya pelanggan dominan.

Kompleksitas ini muncul saat Trump bertemu eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih pada hari Jumat (9/1) untuk mencari investasi US$100 miliar guna merevitalisasi infrastruktur minyak Venezuela. 

Pemerintahan Trump minggu ini mengumumkan akan mengawasi penjualan minyak Venezuela tanpa batas waktu, dengan hasil mengalir ke rekening yang dikontrol Amerika Serikat. Langkah awal dimulai dengan 30 hingga 50 juta barel dari fasilitas penyimpanan minyak mentah negara tersebut.

Akar hubungan Venezuela-China

Ketergantungan Venezuela pada China bermula tahun 2006 di era Presiden Hugo Chávez. Caracas mencari alternatif pembiayaan karena hubungan yang memburuk dengan lembaga keuangan tradisional seperti IMF dan World Bank. China Development Bank menyalurkan sekitar US$60 miliar dalam bentuk pinjaman antara 2006 dan 2016.

Mekanisme pembayaran yang digunakan adalah oil-backed loans—skema di mana Venezuela mengirim 200.000 hingga 400.000 barel minyak per hari ke China, dengan hasil penjualan masuk ke rekening khusus untuk melunasi cicilan utang. Ketika harga minyak anjlok mulai 2014, dari lebih dari US$100 per barel menjadi sekitar US$50, Venezuela harus mengirim lebih banyak minyak untuk membayar utang yang sama.

Produksi minyak Venezuela sendiri mengalami penurunan drastis. Dari 3,4 juta barel per hari pada 1998, produksi turun menjadi sekitar 900.000 barel per hari pada 2025. Penurunan ini dipicu mismanajemen perusahaan minyak negara PDVSA, infrastruktur yang tidak terawat selama puluhan tahun, dan eksodus tenaga ahli akibat krisis ekonomi berkepanjangan.

Respons Beijing terhadap penangkapan Maduro

China mengecam penangkapan militer AS terhadap Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026 sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional. Di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pejabat China menyebut operasi tersebut sebagai perundungan yang mengancam stabilitas regional.

"Hak dan kepentingan sah China dan negara-negara lain di Venezuela harus dilindungi," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers 7 Januari. 

Juru bicara Kementerian Perdagangan He Yadong menambahkan bahwa kesediaan China untuk memperdalam kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral tidak akan berubah, bagaimanapun situasi politik di Venezuela berkembang.

Para pengamat menyatakan Trump kemungkinan akan berupaya menghindari eskalasi ketegangan dengan Beijing. 

"Pemerintahan ini tampaknya fokus menghindari eskalasi yang tidak perlu atau hal-hal yang dapat memicu ketegangan baru dengan Beijing sambil tetap menjaga daya ungkit dengan tegas di tangan Washington," kata Craig Singleton, direktur senior program China di Foundation for Defense of Democracies.

Risiko hukum dan preseden Libya

Situasi ini mengingatkan pada Libya setelah kejatuhan Moammar Gadhafi pada 2011, ketika perusahaan-perusahaan China terpaksa meninggalkan investasi senilai miliaran dolar. 

Cui Shoujun, profesor di Universitas Renmin di Beijing, mengatakan kepada media China guancha.cn bahwa pemerintahan transisi Venezuela bisa menyatakan perjanjian-perjanjian era Maduro sebagai tidak sah dan menganggap utang kepada China sebagai ilegal.

Keterlibatan China tidak hanya terbatas pada minyak. Perusahaan-perusahaan China telah berinvestasi dalam telekomunikasi, kereta api, dan pelabuhan di Venezuela. 

Antara tahun 2000 dan 2023, Venezuela menerima pinjaman senilai US$106 miliar dari kreditor resmi China, menjadikannya penerima kredit terbesar keempat dari Beijing menurut AidData, laboratorium riset di William & Mary.

Sikap industri minyak AS

Pada pertemuan Trump hari Jumat (9/1) dengan para pemimpin perusahaan minyak—termasuk eksekutif dari Chevron, ExxonMobil, ConocoPhillips, dan Shell—pejabat industri berencana menghindari komitmen investasi yang pasti, mengutip volatilitas dan kurangnya jaminan, menurut orang-orang yang mengetahui persiapan pertemuan tersebut, sebagaimana diberitakan The Wall Street Journal.

Cadangan terbukti Venezuela yang sangat besar tetap menarik jika kondisi politik stabil. Chevron, yang tidak pernah meninggalkan negara tersebut, melihat sahamnya melonjak lebih dari 5% setelah penangkapan Maduro.

Medan ranjau Diplomatik

Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing pada bulan April untuk menjaga gencatan senjata perdagangan selama satu tahun yang dinegosiasikan dengan Presiden China Xi Jinping pada Oktober lalu. Kunjungan ini terjadi di tengah ketegangan mengenai Venezuela, yang menciptakan medan ranjau diplomatik bagi Washington.

Departemen Energi AS telah menerapkan mekanisme di mana hasil penjualan minyak Venezuela harus disetorkan ke rekening yang dikendalikan AS di bank-bank internasional terkemuka. Trump secara eksplisit menyatakan niat untuk melarang kerja sama minyak dengan China dan mengalihkan pasokan ke mitra-mitra AS.

Pertanyaan tentang bagaimana klaim internasional yang bersaing akan diselesaikan masih belum terjawab. Produksi Venezuela saat ini berada di kisaran 800.000 hingga 900.000 barel per hari, dengan pasar global mengalami oversupply dan harga minyak sekitar US$55 per barel. Situasi politik yang masih cair, ditambah kompleksitas klaim utang dan investasi dari berbagai negara, membuat prospek penyelesaian jangka pendek tampak sulit dicapai.