Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri Forum Arktik Internasional di Murmansk, Rusia, 27 Maret 2025. | Sputnik/Alexey Nikolskiy

Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa Moskwa tidak mengancam Greenland dan menyebut rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakuisisi wilayah otonom Denmark itu sebagai gagasan yang memiliki dasar strategis serta sejarah panjang. 

Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam forum Arktik di Murmansk, Rusia utara, pada 12 Januari 2026, di tengah meningkatnya tekanan Washington terkait masa depan Greenland.

Dalam pidatonya, Putin menempatkan isu Greenland di luar kepentingan Rusia. Ia menyampaikan hal itu saat Trump kembali mendorong pengambilalihan Greenland dengan alasan pencegahan terhadap pengaruh Rusia dan China di kawasan Arktik.

“Rusia adalah kekuatan Arktik terbesar… Greenland adalah masalah yang menyangkut dua negara tertentu dan tidak ada hubungannya dengan kami,” kata Putin, seperti dikutip kantor berita EFE.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat tidak bertindak, “Rusia atau China akan mengambil alih Greenland.” Dalam beberapa pekan terakhir, Trump meningkatkan retorika mengenai wilayah yang berstatus otonom di bawah Kerajaan Denmark itu dengan menekankan nilai strategisnya bagi keamanan dan kepentingan ekonomi AS.

Meski menolak tudingan ancaman, Putin untuk pertama kalinya secara terbuka menilai rencana Trump bukan sekadar retorika. Ia menyebut langkah itu memiliki pertimbangan strategis yang jelas dan berakar pada sejarah kebijakan Amerika Serikat di kawasan Arktik.

“Apa yang terjadi sekarang tidaklah mengejutkan. Amerika Serikat memiliki rencana serius terkait Greenland. Rencana-rencana ini memiliki akar sejarah yang dalam,” ujar Putin.

Ia mengingatkan bahwa Washington pernah mempertimbangkan akuisisi Greenland dan Islandia sejak dekade 1860-an, meski inisiatif tersebut kala itu ditolak Kongres. Putin membandingkannya dengan pembelian Alaska dari Kekaisaran Rusia pada 1867.

“Saat ini, akuisisi Alaska mungkin dipandang sangat berbeda di Amerika Serikat,” katanya, merujuk pada kritik media AS pada masa itu yang menyebut pembelian Alaska sebagai keputusan “gila.”

Di Rusia, penjualan Alaska seharga US$7,2 juta atau sekitar US$4,73 per kilometer persegi kerap dikenang oleh para komentator dengan nada penyesalan, terutama dalam konteks persaingan geopolitik modern.

Sikap Trump memicu respons keras dari Eropa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan negaranya tengah menghadapi “momen menentukan” dan memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer AS terhadap Greenland akan “menandai berakhirnya aliansi NATO.” Pernyataan itu disampaikan menyusul meningkatnya tekanan politik dari Washington.

Mengutip AFP, Sejumlah pemimpin Eropa, termasuk dari Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, Inggris Raya, dan Denmark, mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa hanya Denmark dan Greenland yang berhak menentukan masa depan wilayah tersebut. 

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson, di sisi lain, mengkritik “retorika mengancam” AS dan menyebut pengambilalihan Greenland sebagai pelanggaran hukum internasional.

Dari Nuuk, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen bersama para pemimpin lima partai parlemen menyatakan penolakan tegas terhadap wacana tersebut. 

“Kami tidak ingin menjadi orang Amerika, kami tidak ingin menjadi orang Denmark, kami ingin menjadi orang Greenland,” demikian pernyataan bersama mereka, sebagaimana dilansir Reuters.

Sementara itu, Putin membela langkah Rusia memperkuat kehadiran militernya di Arktik. Moskwa, menurutnya, tengah memodernisasi pangkalan-pangkalan era Soviet dan mengembangkan kembali fasilitas uji coba nuklir di Novaya Zemlya sebagai bagian dari perlindungan kedaulatan nasional.

“Rusia tidak pernah mengancam siapa pun di Arktik,” kata Putin. “Kami tidak akan membiarkan pelanggaran apa pun terhadap kedaulatan negara kami.”

Di sisi lain, Rusia tetap membuka peluang kerja sama dengan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Putin menyebut usulan eksploitasi bersama rare earths serta rencana pembangunan terowongan di Bering Strait. Moskwa juga mendorong investasi China untuk pengembangan Northern Sea Route sebagai alternatif jalur perdagangan global.

Namun, dua diplomat senior Nordik mengatakan kepada Financial Times bahwa tidak ada bukti kapal Rusia atau China beroperasi di sekitar Greenland dalam beberapa tahun terakhir. Pernyataan itu bertentangan dengan alasan keamanan yang kerap dikemukakan Trump untuk membenarkan rencana pengambilalihan wilayah tersebut.