Lokasi operasi pertambangan milik PT Freeport Indonesia (PTFI) yang terletak di daerah dataran tinggi Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Indonesia. | PTFI


Produksi emas dan tembaga PT Freeport Indonesia anjlok sepanjang 2025 setelah insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg, Papua, memaksa penghentian operasi selama berminggu-minggu. Laporan kinerja kuartal keempat yang dirilis Rabu (21/1/2026) mencatat penurunan produksi emas 49,7% menjadi 937 ribu ons dari 1,86 juta ons pada 2024, sementara produksi tembaga merosot 44% dari 1,8 miliar pon menjadi 1,01 miliar pon.

Gangguan produksi dipicu masuknya sekitar 800.000 metrik ton material basah ke area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025. Peristiwa itu menewaskan tujuh pekerja dan menghentikan sebagian besar aktivitas produksi bawah tanah, menempatkan fokus perusahaan pada investigasi keselamatan serta pemulihan infrastruktur.

Tahapan pemulihan kini dijalankan bertahap. CEO Freeport Kathleen Quirk menyampaikan restart tambang bawah tanah utama dijadwalkan dimulai pada kuartal kedua 2026.

“Prioritas kami adalah keselamatan dan keberlanjutan. Kami berada pada jalur yang tepat untuk melakukan restart bertahap tambang bawah tanah utama, Grasberg Block Cave, yang dijadwalkan mulai beroperasi kembali pada kuartal kedua 2026,” ujar Quirk dalam laporan kinerja perusahaan.

Investigasi dan rencana perbaikan pasca-insiden dinyatakan rampung pada kuartal keempat 2025. Rencana tersebut mencakup dimulainya kembali operasi di Blok Produksi 2 dan 3 pada kuartal kedua 2026, disusul Blok Produksi 1 pada 2027. Perusahaan memperkirakan sekitar 85% kapasitas produksi normal dapat pulih pada semester kedua 2026.

Di tengah pelemahan volume, kinerja keuangan tetap ditopang harga komoditas. Pada kuartal keempat 2025, Freeport membukukan laba per saham US$0,47, melampaui estimasi pasar US$0,28, dengan pendapatan US$5,63 miliar.

Realisasi harga emas sepanjang 2025 mencapai US$3.418 per troy ons, naik 41,4% dibanding tahun sebelumnya, menjadi penopang pendapatan saat produksi turun. Perusahaan juga mengajukan klaim asuransi properti dan gangguan usaha (business interruption) dengan perlindungan hingga US$1 miliar.

Dalam kondisi operasi normal, tambang bawah tanah Grasberg menghasilkan sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun. Operasi ini tercatat sebagai salah satu tambang berbiaya rendah dalam portofolio global Freeport.

Untuk pasokan jangka panjang, perusahaan mengandalkan pengembangan tambang Kucing Liar. Proyek tersebut diperkirakan memiliki cadangan sekitar 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas, dengan kontribusi produksi awal ditargetkan sekitar 2030, sebagaimana dipaparkan dalam dokumen kinerja korporasi.