![]() |
| Sistem Peringatan Dini Rudal Balistik (BMEWS) di Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, Greenland. Pangkalan ini, yang sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule. | Patrick Dickson/Stars and Stripes |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan “kerangka kerja” dengan NATO untuk memperluas akses militer AS ke Greenland, Rabu, saat berbicara di World Economic Forum di Davos, Swiss. Ia menempatkan langkah itu sebagai bagian dari kepentingan pertahanan antariksa AS dan peran strategis pulau Arktik tersebut bagi operasi Space Force, di tengah meningkatnya fokus keamanan kawasan Arktik dan aktivitas militer sekutu.
Trump menegaskan kembali nilai strategis Greenland bagi sistem pertahanan modern AS, termasuk pemantauan antariksa dan peringatan dini rudal. Ia menarik ancaman penggunaan kekuatan militer untuk mengakuisisi wilayah itu, tetapi menekankan perlunya kehadiran militer yang lebih luas.
“Kami akan memiliki militer yang kami inginkan,” katanya kepada Fox Business setelah pengumuman tersebut.
Greenland berada di bawah Kerajaan Denmark dengan otonomi internal luas, menjadikan isu kedaulatan segera mengemuka seiring rencana perluasan akses militer.
Radar dan misi antariksa AS terpusat di Pituffik
Perhatian Trump terpusat pada Pangkalan Antariksa Pituffik—sebelumnya Pangkalan Udara Thule—di pesisir barat laut Greenland. Instalasi ini menampung kurang dari 200 personel Guardians dari Space Force dan Angkatan Udara AS yang menjalankan misi pertahanan strategis, seperti dilaporkan Air & Space Forces Magazine.
Fasilitas tersebut mengoperasikan radar berteknologi tinggi untuk mendeteksi peluncuran rudal balistik antarbenua serta menyediakan data pengawasan antariksa secara langsung ke NORAD dan negara sekutu. Letaknya di atas Lingkaran Arktik menempatkannya pada jalur pemantauan potensial rudal dari Rusia atau Tiongkok menuju wilayah AS.
“Itu memberikan Amerika Serikat lebih banyak waktu untuk memikirkan apa yang harus dilakukan,” ujar analis nuklir berbasis di Jenewa, Pavel Podvig, kepada Fortune. “Greenland adalah lokasi yang baik untuk itu.”
Trump juga mengaitkan Greenland dengan sistem pertahanan rudal “Golden Dome” yang diusulkannya. Melalui platform Truth Social, ia menulis sistem itu hanya dapat bekerja maksimal jika wilayah tersebut terintegrasi.
Denmark dan Greenland tegaskan soal kedaulatan
Kerangka kerja yang diumumkan bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memuat peningkatan kerja sama keamanan Arktik. Opsi yang dibahas, menurut laporan The New York Times, mencakup model pangkalan militer AS berdaulat seperti instalasi Inggris di Siprus. Gagasan penyerahan wilayah langsung ditolak Denmark dan Greenland.
“Kedaulatan adalah garis merah,” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen pada Kamis. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan, “Kami dapat bernegosiasi tentang semua masalah politik … Tetapi kami tidak menegosiasikan kedaulatan kami.”
NATO kemudian menyatakan Rutte tidak mengusulkan kompromi terhadap kedaulatan dalam pembicaraan tersebut, menandai sensitivitas politik isu itu di dalam aliansi.
Latihan NORAD dan rencana investasi pangkalan
Pengumuman tersebut beriringan dengan konfirmasi NORAD pada 19 Januari bahwa pesawat AS dan Kanada akan diterjunkan ke Pituffik dalam latihan yang telah direncanakan berdasarkan perjanjian pertahanan dengan Denmark. Pentagon juga menyatakan rencana investasi hingga US$25 juta untuk peningkatan infrastruktur pangkalan.
Greenland diposisikan para analis di jalur strategis Arktik yang kian terbuka akibat perubahan iklim, sekaligus beririsan dengan orbit satelit dan sistem peringatan dini. Perjanjian Luar Angkasa 1967, menurut sejumlah pakar, tidak secara spesifik membayangkan peran instalasi darat seperti Pituffik dalam arsitektur keamanan antariksa modern.
Trump saat ini telah menarik ancaman tarif terhadap Denmark dan sejumlah negara Eropa yang menyatakan dukungan pada kedaulatan Greenland, menyusul retorika keras dalam beberapa pekan sebelumnya.

0Komentar