Foto ilustrasi sekolah rakyat di kabupaten Banyuwangi. | Pemkab Banyuwangi

Menteri Sosial Saifullah Yusuf meresmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1), dalam acara yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan ditempatkan sebagai instrumen utama pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui perluasan akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas.

Peresmian tersebut berlangsung di tengah target pemerintah memperluas jangkauan Sekolah Rakyat secara nasional. Kementerian Sosial menyebut program ini menyasar keluarga pada desil 1 hingga 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah. Skema sekolah berasrama dan dukungan sosial terintegrasi dipilih agar intervensi pendidikan dapat berlangsung berkelanjutan.

Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan Sekolah Rakyat dirancang sebagai jalur transisi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh pendidikan formal yang layak. 

“Sekolah Rakyat berfungsi sebagai jembatan masa depan dan mengubah nasib dari keluarga-keluarga kurang mampu,” kata Gus Ipul dalam pidato peresmian.

Data Kementerian Sosial menunjukkan mayoritas peserta didik berasal dari latar belakang ekonomi sangat rentan. Dari total 15.954 siswa Sekolah Rakyat, sekitar 67% berasal dari keluarga dengan penghasilan di bawah Rp1 juta per bulan. Sekitar 60% orang tua siswa bekerja di sektor informal sebagai buruh harian lepas, termasuk kuli bangunan, buruh tani, nelayan, dan pemulung.

Kemensos juga mencatat tingginya kerentanan pendidikan di kalangan peserta. Sebanyak 454 siswa tercatat belum pernah mengenyam pendidikan formal, sementara 298 siswa lainnya merupakan anak putus sekolah. 

“Sebagian dari mereka bahkan sudah bekerja di usia yang sangat muda,” ujar Gus Ipul, merujuk pada kondisi sosial ekonomi keluarga siswa.

Di tingkat kebijakan, Presiden Prabowo Subianto menetapkan target pengembangan Sekolah Rakyat hingga 2029. Pemerintah menargetkan pendirian 500 Sekolah Rakyat dengan kapasitas masing-masing hingga 1.000 siswa, sehingga total daya tampung mencapai 500 ribu peserta didik. 

“Cita-cita saya di akhir masa jabatan saya tahun 2029, mereka yang berada di kemiskinan ekstrem bisa kita ubah nasibnya,” kata Prabowo.

Survei internal terhadap lebih dari 6.000 siswa SMA Sekolah Rakyat menunjukkan sekitar 60% responden berencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara sisanya menyatakan minat menjadi pekerja terampil atau berwirausaha. 

Pengukuran potensi berbasis kecerdasan buatan yang dilakukan Kemensos menemukan sekitar 37,4% siswa memiliki kecenderungan di bidang STEM.

Untuk mendukung keberlanjutan pendidikan, Kementerian Sosial bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dalam pendampingan masuk perguruan tinggi dan penyediaan beasiswa. Program Sekolah Rakyat juga terintegrasi dengan layanan Cek Kesehatan Gratis, Makan Bergizi Gratis, serta program pemberdayaan ekonomi keluarga.

Gus Ipul menegaskan pendekatan program tidak hanya berfokus pada anak sebagai peserta didik, tetapi juga pada penguatan keluarga. 

“Tidak hanya anaknya yang tumbuh dan lulus, tapi sesuai harapan Bapak Presiden, keluarganya pun ikut berdaya dan naik kelas,” kata dia.