![]() |
| Tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said. |
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mulai membongkar 98 tiang proyek monorail yang mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu pekan ini. Pembongkaran dilakukan setelah proyek tersebut terbengkalai lebih dari 17 tahun dan dinilai mengganggu keselamatan serta kelancaran lalu lintas di salah satu kawasan bisnis utama ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan Pemprov DKI menyiapkan anggaran hingga Rp100 miliar dari APBD 2026 untuk membiayai pembongkaran sekaligus penataan ulang kawasan Rasuna Said. Pekerjaan mencakup perbaikan badan jalan, trotoar, serta penataan lingkungan sekitar agar fungsi ruang jalan kembali optimal.
Pramono menegaskan alokasi anggaran tersebut tidak hanya difokuskan pada pembongkaran struktur beton tiang monorail. Dana juga digunakan untuk membenahi infrastruktur pendukung di koridor jalan tersebut.
“Rp100 miliar yang dikeluarkan itu bukan hanya untuk membongkar, tetapi untuk membuat jalan, trotoar, merapikan dan sebagainya,” ujar Pramono saat ziarah ke Makam M.H. Thamrin, Minggu (11/1/2026).
Penjelasan serupa disampaikan Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo. Ia mengatakan pembongkaran tiang monorail dan penataan kawasan Rasuna Said dirancang sebagai satu paket pekerjaan agar hasilnya menyeluruh.
“Anggaran pembongkaran ini jadi satu dengan penataan jalan dan trotoarnya. Totalnya semua sekitar Rp100 miliar,” kata Heru.
Dari sisi keselamatan dan kelancaran lalu lintas, Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Yustinus Prastowo menilai keberadaan tiang-tiang beton di median jalan selama ini menjadi hambatan visual dan fisik di kawasan Kuningan. Ia menempatkan Rasuna Said sebagai kawasan strategis yang merepresentasikan wajah Jakarta.
“Kawasan Kuningan merupakan pusat ekonomi, bisnis, dan diplomasi. Kuningan adalah wajah Jakarta. Tidak kurang dari 11 kantor kedutaan berada di kawasan ini,” ujar Yustinus.
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah DKI Jakarta Afan Adriansyah menyebut keberadaan tiang monorail kerap dikaitkan dengan insiden kecelakaan lalu lintas.
Karena itu, pembongkaran dinilai mendesak untuk mengurangi risiko bagi pengguna jalan. Pemprov DKI juga memperkirakan langkah ini dapat membantu mengurai kemacetan di Rasuna Said hingga 18 persen sekaligus memperbaiki kualitas tata kota.
Proyek monorail Jakarta memiliki riwayat panjang. Pembangunannya diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 Juni 2004, pada masa Gubernur Sutiyoso. Saat itu, PT Jakarta Monorail bertindak sebagai pengembang dan investor, sementara PT Adhi Karya ditunjuk sebagai kontraktor.
Proyek tersebut terhenti pada 2007 setelah PT Jakarta Monorail mengalami kesulitan pendanaan dan investasi. Pada 2011, Gubernur Fauzi Bowo secara resmi menghentikan proyek. Upaya menghidupkan kembali monorail sempat dilakukan pada 2013 di era Gubernur Joko Widodo, namun kembali gagal karena perjanjian kerja sama tidak pernah tuntas.
Saat ini, sebanyak 122 tiang monorail tercatat sebagai aset milik PT Adhi Karya, meski berdiri di atas lahan milik Pemprov DKI Jakarta. Pramono sebelumnya telah memberikan tenggat waktu satu bulan kepada PT Adhi Karya untuk membongkar tiang-tiang tersebut secara mandiri. Karena tidak ada tindak lanjut, Pemprov DKI memutuskan mengambil alih proses pembongkaran.
Pemprov DKI menargetkan seluruh proses pembongkaran dan penataan kawasan Rasuna Said rampung pada September 2026, seiring penataan ulang koridor jalan utama yang selama ini menjadi salah satu urat nadi lalu lintas Jakarta.

0Komentar