![]() |
| Kapal eksplorasi Chikyu akan menurunkan pipa 5.500 meter di bawah permukaan laut untuk mengekstraksi tanah jarang. | JAMSTEC |
Kapal riset Jepang Chikyu berlayar menuju Pulau Minamitori di Samudra Pasifik pada Senin untuk memulai proyek perdana dunia mengekstraksi rare earth dari lumpur laut dalam—langkah strategis Tokyo di tengah upaya mempercepat pengurangan ketergantungan pasokan mineral kritis dari China menyusul pembatasan ekspor terbaru Beijing.
Kapal pengeboran ilmiah itu bertolak dari pelabuhan Shizuoka dan menempuh perjalanan sekitar 1.900 kilometer ke arah tenggara Tokyo. Selama satu bulan, tim peneliti dijadwalkan mengambil sedimen kaya mineral dari kedalaman sekitar 6.000 meter. Menurut Reuters, ini menjadi upaya pertama untuk mengangkat material tanah jarang secara berkelanjutan dari laut dalam ke atas kapal.
Langkah tersebut berlangsung di tengah ketegangan dagang mineral antara Jepang dan China. Pada 6 Januari, Kementerian Perdagangan China melarang ekspor seluruh barang dual-use ke Jepang untuk keperluan militer dan penggunaan lain yang dinilai dapat memperkuat kemampuan pertahanan negara itu. Kebijakan ini muncul setelah sengketa diplomatik terkait pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai Taiwan.
Di sisi lain, The Wall Street Journal melaporkan Beijing telah memperketat pembatasan ekspor rare earth dan magnetnya ke Jepang secara lebih luas. Sejumlah eksportir bahkan menghentikan pengiriman logam tanah jarang ke pasar Jepang, sebagaimana dikutip Jiji Press dari sumber industri yang menyebutkan bahwa mereka tidak lagi dapat mengekspor ke negara tersebut.
Saat ini, Jepang masih mengandalkan China untuk lebih dari 60% impor rare earth, meski upaya diversifikasi sudah dilakukan sejak sengketa serupa pada 2010. Ketergantungan itu lebih tinggi pada heavy rare earth—logam tanah jarang berat yang krusial untuk motor kendaraan listrik dan hibrida—yang pasokannya hampir sepenuhnya berasal dari China.
Proyek eksplorasi laut dalam ini didukung pendanaan pemerintah sebesar 40 miliar yen atau sekitar US$250 juta sejak 2018. Area perairan di sekitar Pulau Minamitori diperkirakan menyimpan lebih dari 16 juta ton tanah jarang, termasuk cadangan dysprosium yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan industri selama ratusan tahun, dari magnet ponsel hingga kendaraan listrik.
Kepala proyek yang didukung pemerintah, Shoichi Ishii, menegaskan tujuan strategis misi tersebut. Ia mengatakan pembangunan rantai pasok domestik ditempatkan sebagai prioritas untuk menjaga stabilitas pasokan mineral penting bagi industri Jepang.
“Salah satu misi kami adalah membangun rantai pasokan tanah jarang produksi dalam negeri untuk memastikan pasokan mineral yang stabil yang penting bagi industri,” ujar Ishii kepada wartawan.
Meski begitu, uji coba penambangan skala penuh baru direncanakan pada Februari 2027 jika fase riset ini berjalan sesuai target. Isu pasokan tanah jarang juga akan dibahas dalam pertemuan para menteri keuangan G7 di Washington pada Senin ini, dengan fokus pada penetapan harga dasar mineral kritis guna mendorong investasi di luar China.

0Komentar