Presiden Prabowo Subianto saat peresmian di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Banjarbaru, Kalimantan Selatan. | YouTube Setpres


Presiden Prabowo Subianto menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau sekitar 58 juta penerima manfaat per hari hingga Januari 2026. Sejak dijalankan pemerintah, program nasional tersebut disebut telah menyalurkan sekitar 3 miliar porsi makanan kepada anak-anak sekolah, ibu hamil, dan lansia.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat secara serentak di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). Dalam agenda tersebut, Presiden memaparkan capaian MBG sekaligus proyeksi perluasan penerima manfaat hingga akhir tahun.

Dalam sambutannya, Prabowo menyebut jumlah penerima MBG saat ini telah mencapai 58 juta orang per hari. Skala distribusi tersebut, menurut dia, membuat total porsi makanan yang disalurkan menembus angka miliaran hanya dalam kurun satu tahun berjalan.

“MBG hari ini kalau tidak salah sudah mencapai 58 juta penerima manfaat, 58 juta anak-anak, ibu hamil, dan lansia menerima makan. Tiap hari, tiap hari sekolah. Kalau ibu-ibu hamil tujuh hari diberi,” kata Prabowo.

Ia menambahkan, capaian tersebut dinilai belum pernah dilakukan negara lain dalam waktu singkat. 

“Lima puluh delapan juta dalam satu tahun, negara mana yang bisa berbuat itu? Total yang sudah kita beri makan itu 3 miliar porsi,” ujarnya.

MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi kelompok rentan, khususnya anak sekolah, ibu hamil, dan lansia. 

Program ini dijalankan setiap hari sekolah untuk peserta didik, sementara bagi ibu hamil diberikan sepanjang pekan. Pemerintah menargetkan cakupan penerima manfaat mencapai 82 juta orang pada akhir 2026.

Prabowo menyebut target tersebut berpotensi tercapai lebih cepat dari jadwal. Namun, ia meminta pelaksanaan program tetap dilakukan secara bertahap dan cermat. Presiden menegaskan percepatan tidak boleh mengorbankan ketelitian, terutama dalam aspek distribusi dan kualitas makanan.

“Walaupun Kepala Badan Gizi Nasional mengatakan bisa lebih cepat dari Desember, saya minta jangan dipaksa. Teliti,” tutur Prabowo.

Dalam beberapa kesempatan, pemerintah juga membandingkan MBG dengan program serupa di negara lain untuk menggambarkan skala capaian. 

Prabowo menyinggung Brasil yang memiliki school feeding program sejak dekade 1940-an dan membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk menjangkau sekitar 40 juta penerima manfaat. Ia juga mengibaratkan jumlah penerima MBG saat ini setara dengan memberi makan sekitar sembilan kali populasi Singapura setiap hari.

Perbandingan tersebut digunakan pemerintah untuk menekankan besarnya cakupan MBG dalam waktu relatif singkat. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai ukuran keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah penerima. Aspek tata kelola, keamanan pangan, dan dampak gizi dinilai sama pentingnya untuk dievaluasi.

Anggota MBG Watch, Galau D. Muhammad, sebelumnya menyampaikan bahwa klaim capaian kuantitatif belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan. Ia menyoroti masih adanya laporan kasus keracunan massal serta persoalan distribusi di beberapa daerah. Menurutnya, hingga kini pemerintah belum mempublikasikan evaluasi komprehensif yang memuat indikator objektif keberhasilan program.

Pemerintah, melalui Badan Gizi Nasional, menyatakan perluasan MBG akan terus dilakukan secara bertahap sepanjang 2026. Target akhir tahun dipatok pada sekitar 82,9 juta penerima manfaat, seiring penambahan dapur produksi dan penguatan rantai pasok pangan di daerah. 

Hingga awal tahun ini, total porsi makanan bergizi yang telah disalurkan disebut telah mencapai sekitar 3 miliar porsi, sejalan dengan klaim Presiden dalam peresmian Sekolah Rakyat di Banjarbaru.