Ilustrasi KF-21 Boramae, program jet tempur Korea Selatan yang dikembangkan bersama Indonesia. | RoKAF 


Pesawat tempur KF-21 Boramae buatan Korea Selatan memasuki fase baru pada awal 2026, ketika program ini bersiap beralih dari tahap pengembangan menuju produksi massal. Dengan banderol harga yang disebut jauh lebih rendah dibandingkan pesawat siluman generasi kelima buatan Barat, KF-21 kini menjadi salah satu fokus utama dalam diskusi industri pertahanan global, terutama terkait rasio biaya dan kemampuan tempur.

Kemunculan KF-21 tidak terlepas dari ambisi Korea Selatan membangun kemandirian industri militernya. Program ini dikembangkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) dengan dukungan penuh pemerintah Seoul dan berada di bawah pengawasan Defense Acquisition Program Administration (DAPA). 

Sejak awal, KF-21 dirancang untuk mengisi celah antara pesawat tempur generasi keempat yang telah mapan dan jet siluman generasi kelima yang relatif mahal serta memiliki pembatasan ekspor ketat.

Harga setengah F-35 dan logika biaya perang modern

Isu harga menjadi perhatian utama. Versi KF-21 Block 1 diperkirakan berada di kisaran US$80 juta per unit. Secara nominal, angka ini mendekati fly-away cost F-35, namun tetap jauh lebih rendah dibandingkan biaya total kepemilikan F-35 yang bisa melampaui US$200 juta per unit setelah memasukkan paket pelatihan, suku cadang, dan dukungan logistik jangka panjang. 

Dalam konteks inilah KF-21 mulai dipandang sebagai alternatif bagi negara yang membutuhkan pesawat tempur modern, tetapi memiliki keterbatasan anggaran.

Sinyal kesiapan operasional awal KF-21 ditunjukkan pada awal Januari 2026, ketika saluran YouTube resmi pemerintah Korea Selatan, KoreaNow, menayangkan rekaman KF-21 yang terbang dalam misi patroli bersama F-35 dan F-15K di atas wilayah udara Korea Selatan. 

Penerbangan pada 2 Januari tersebut memperlihatkan KF-21 membawa persenjataan lengkap di hardpoint eksternal, termasuk rudal udara-ke-udara dan tangki bahan bakar tambahan. Tayangan ini menegaskan bahwa KF-21 telah melampaui fase prototipe, meski produksi massal baru dijadwalkan dimulai pada Maret 2026.

Strategi bertahap menuju generasi kelima

Dalam kronologi pengembangannya, KF-21 dirancang melalui pendekatan bertahap. Block 1 difokuskan pada kemampuan udara-ke-udara, sementara Block 2 direncanakan memperluas kemampuan multi-peran, termasuk serangan udara-ke-darat. 

Pada tahap lanjutan, yang sering disebut sebagai Block 3 atau KF-21 EX, pesawat ini direncanakan memiliki internal weapons bay, salah satu ciri pesawat generasi kelima untuk menurunkan radar cross section. Menurut DAPA, pendekatan bertahap ini dipilih untuk menekan risiko teknis sekaligus menjaga biaya pengembangan tetap terkendali.

Pasar ekspor mulai terbuka dari Asia Tenggara

Dampak dari kemunculan KF-21 mulai terlihat di pasar ekspor. Filipina disebut sebagai salah satu kandidat pembeli awal di Asia Tenggara. Pemerintah Filipina telah merevisi undang-undang untuk memungkinkan penggunaan pinjaman luar negeri dalam pembelian alutsista, dan sejak Oktober 2025 melakukan negosiasi intensif terkait KF-21. 

Pengalaman Manila mengoperasikan FA-50PH buatan Korea Selatan kerap disebut pelaku industri sebagai faktor penting dalam membangun kepercayaan terhadap produk Korea. Seorang sumber industri menyebutkan, Filipina mempertimbangkan pengiriman KF-21 setelah 2027, seiring dimulainya produksi massal penuh.

Minat juga dilaporkan datang dari kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara di wilayah tersebut disebut tengah menjajaki KF-21 sebagai alternatif pesawat tempur buatan Amerika Serikat dan Eropa. 

Rasio harga dan kemampuan menjadi pertimbangan utama, terutama bagi negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada satu pemasok persenjataan. DAPA menyatakan, hingga kini proses tersebut masih berada pada tahap awal berupa negosiasi dan seleksi mitra prioritas.

Pengembangan senjata domestik di balik proyek KF-21

Seiring dengan itu, Korea Selatan juga mempercepat pengembangan sistem persenjataan pendukung. DAPA bersama Agency for Defense Development (ADD) tengah mengkaji pengembangan rudal hipersonik yang dirancang untuk diluncurkan dari KF-21, serta rudal soft-kill yang ditujukan untuk melumpuhkan jaringan listrik dan komunikasi lawan. 

Selain itu, proyek pengembangan rudal udara-ke-udara jarak pendek buatan dalam negeri telah diluncurkan dengan total investasi 435,9 miliar won untuk periode 2025–2032. Sejumlah perusahaan besar, termasuk LIG Nex1, Hanwha Aerospace, dan KAI, dilibatkan dalam proyek ini.

Dari sudut pandang otoritas pertahanan Korea Selatan, pengembangan persenjataan domestik diposisikan sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang. 

Seorang pejabat DAPA menjelaskan bahwa kemampuan mengintegrasikan senjata buatan dalam negeri dengan persenjataan dari Amerika Serikat dan Eropa akan memperkuat otonomi operasional sekaligus meningkatkan daya tarik ekspor KF-21. 

Pendekatan ini juga mencerminkan pelajaran dari pengalaman sejumlah negara pengguna alutsista Barat yang menghadapi pembatasan pasokan karena faktor politik.

Di antara F-16V, Rafale, dan F-35

Dalam persaingan global, KF-21 kerap dibandingkan dengan pesawat tempur lain di kelasnya. F-16V Viper dikenal luas karena kemudahan operasional dan jaringan pengguna yang besar, sementara Dassault Rafale memiliki rekam jejak operasional di berbagai konflik.

Perbandingan Singkat (Estimasi 2026)
 
KF-21, di sisi lain, menawarkan kombinasi teknologi yang relatif baru, biaya yang lebih terkendali, serta peta jalan pengembangan bertahap menuju fitur generasi kelima. Perbandingan ini menjadi relevan bagi negara-negara yang tengah mengevaluasi modernisasi angkatan udara mereka.

Untuk kebutuhan domestik, Korea Selatan berencana mengerahkan 120 unit KF-21 ke Angkatan Udara Korea Selatan hingga 2032. Harga per unit diperkirakan berada di kisaran 1,3–1,4 miliar won, angka yang disebut kompetitif dibandingkan pesawat sekelasnya. 

Program ini juga melibatkan Indonesia sebagai mitra pengembangan, meski partisipasi Jakarta sempat menghadapi kendala pendanaan sebelum kesepakatan lanjutan dicapai pada akhir 2025.

Pada tahap ini, KF-21 Boramae mencerminkan pergeseran lanskap industri pertahanan global, ketika negara pengekspor baru mulai menawarkan opsi di luar dominasi tradisional produsen Barat. Dengan memasuki produksi massal pada 2026, KF-21 kini berada pada posisi sebagai proyek strategis nasional Korea Selatan sekaligus bagian dari dinamika pasar pesawat tempur internasional yang terus berubah.