anggota Brigade Izz ad-Din al-Qassam yang bertopeng, sayap militer dari kelompok perlawanan Palestina Hamas. | DPA


Polisi regional Catalonia menangkap seorang warga negara China berusia 38 tahun di L'Hospitalet de Llobregat, pinggiran Barcelona, atas dugaan mendanai Hamas melalui transfer mata uang kripto senilai sekitar €600.000 atau setara US$715.000. Penangkapan diumumkan pada Jumat (30/1/2026) oleh kepolisian Mossos d'Esquadra setelah penyidik melacak puluhan transaksi digital dari dompet virtual yang dikendalikan tersangka ke alamat yang diduga terkait entitas pendukung organisasi tersebut.

Penyidik mengidentifikasi sedikitnya 31 transaksi kripto yang mengarah ke alamat yang diyakini digunakan jaringan pendanaan Hamas. Perkara ini terungkap saat aparat mengembangkan penyelidikan terpisah terkait dugaan penipuan dan pencucian uang pada Juni 2025. 

Dari situ, salah satu pihak yang diselidiki diketahui melakukan pengiriman aset digital ke alamat yang kemudian dikaitkan dengan Hamas, menurut pernyataan resmi Mossos d'Esquadra.

Penggeledahan dilakukan di salon rambut milik tersangka serta di kediamannya. Polisi menyita lebih dari €100.000 uang tunai, aset kripto, perhiasan mewah, sekitar 9.000 batang cerutu, komputer, ponsel, serta dua senjata api. Sejumlah rekening bank juga dibekukan sehingga total aset yang disita dan diblokir melampaui €370.000, berdasarkan keterangan kepolisian Catalonia.

Setelah pemeriksaan awal, pria tersebut dibebaskan dengan jaminan oleh hakim. Ia diwajibkan menyerahkan paspor dan melapor ke pengadilan setiap pekan. Perkara ini berada di bawah yurisdiksi National Court Spanyol dan ditetapkan sebagai kasus tertutup. 

Otoritas menolak membeberkan motif tersangka maupun memastikan apakah ia berinteraksi langsung dengan Hamas atau berperan sebagai perantara dengan alasan penyelidikan masih berjalan.

Hamas telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa serta sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Serangan kelompok tersebut ke Israel pada 7 Oktober 2023 menjadi pemicu perang yang masih berlangsung di Jalur Gaza. 

Dalam beberapa tahun terakhir, aparat di Eropa dan AS berulang kali memperingatkan bahwa kelompok militan makin memanfaatkan mata uang kripto untuk memindahkan dana lintas batas sehingga pelacakan aliran dana menjadi lebih rumit.

Perusahaan analisis blockchain TRM Labs sebelumnya melaporkan bahwa meskipun Hamas sempat mengumumkan penghentian penerimaan donasi kripto pada 2023, kelompok itu disebut masih menerima dana dalam bentuk aset digital senilai puluhan ribu dolar. 

Pada 21 Januari lalu, Office of Foreign Assets Control Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap enam organisasi nirlaba di Gaza yang dituding menjadi kedok pendanaan bagi sayap militer Hamas.