Kapal tanker besar yang terlihat sedang berlabuh di Pertamina RU IV Cilacap adalah MT. Ratu Ruwaidah. 

Kapal tanker MT Spyros bersandar di perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah, pada akhir Januari 2026, membawa 1 juta barel minyak mentah asal Aljazair. Pengapalan ini menjadi pengiriman perdana minyak hasil produksi Pertamina dari Afrika Utara ke Indonesia, sekaligus bagian dari strategi perusahaan memperkuat ketahanan energi nasional.

Kargo minyak mentah tersebut berasal dari Wilayah Kerja Migas yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP). MT Spyros berangkat dari Port Arzew, Oran, Aljazair, pada 24 Desember 2025 dan menempuh pelayaran lebih dari satu bulan sebelum tiba di Cilacap. 

Pengiriman ini merupakan tindak lanjut perpanjangan kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) Blok 405A yang memastikan keberlanjutan operasi Pertamina di Aljazair hingga 25 tahun ke depan.

Pengapalan ini ditempatkan sebagai implementasi kebijakan internal Pertamina, Bring Barrels Home, yang mendorong pemanfaatan minyak hasil produksi luar negeri untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik. Sebelumnya, minyak dari blok tersebut lebih banyak dipasarkan di kawasan Mediterania dan Eropa.

Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan, pengapalan ini menandai fase baru operasi perusahaan di Afrika Utara. 

“Bersandarnya kapal yang telah mengarungi samudera sebulan lebih ini menjadi harapan untuk visi ketahanan energi nasional. Ini merupakan bukti nyata Pertamina dalam mewujudkan amanah Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya dalam keterangan perusahaan.

Proses penerimaan kargo dipantau secara terintegrasi dari Grha Pertamina Jakarta, Control Room Refinery Unit (RU) IV Cilacap, serta lokasi operasional Pertamina di Aljazair. Skema ini melibatkan sejumlah entitas dalam grup Pertamina, dengan PIEP sebagai produsen, Pertamina International Shipping sebagai operator pengapalan, dan Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai pembeli sekaligus pengelola pengolahan minyak di dalam negeri.

Menurut Simon, pola kerja tersebut menunjukkan kemampuan pengelolaan rantai pasok energi secara terpadu. 

“Sinergi ini telah mampu memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi global, membuktikan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri,” katanya.

Dari sisi pengawasan, Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan menyatakan keberhasilan pengapalan perdana ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran perusahaan. 

“Seluruh jajaran komisaris akan terus memberikan dukungan untuk mengawal proses di Pertamina hingga minyak mentah ini mampu menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Pertamina dan perusahaan minyak nasional Aljazair, Sonatrach, telah menjalin hubungan komersial sejak 2002–2003 melalui kontrak tahunan penjualan minyak. Kerja sama tersebut diperkuat pada 2014 ketika Pertamina mengakuisisi hak pengelolaan blok Menzel Lejmat (MLN) di Aljazair.

Menjelang pengiriman ke Indonesia, Pertamina dan Sonatrach menandatangani Lifting Service Contract pada 22 Desember 2025 di kantor pusat Sonatrach. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Algeria EP (PAEP) Jon Erwin dan Vice President Commercialization Sonatrach Mayouf Belgacem.

Hingga Januari 2026, rata-rata produksi minyak di blok tersebut tercatat sekitar 14.100 barel per hari. Minyak mentah yang tiba di Cilacap selanjutnya akan diolah di kilang dalam negeri untuk menghasilkan produk energi yang dipasok ke pasar domestik.