![]() |
| Pesawat Wing of Zion. LLHZ2805/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) |
Pesawat resmi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Wing of Zion, meninggalkan wilayah udara Israel pada Rabu (14/1/2026). Penerbangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional terkait Iran, menyusul gelombang protes mematikan di Republik Islam itu.
Data pelacakan penerbangan dan pantauan komunitas open-source intelligence menunjukkan Boeing 767-338ER tersebut lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Nevatim di Israel selatan, sempat mendarat singkat di Pulau Kreta, Yunani, sebelum kembali ke Israel. Otoritas Israel menyatakan penerbangan itu merupakan latihan rutin yang telah dijadwalkan sebagai bagian dari program pemeliharaan tahunan pesawat.
Meski demikian, pergerakan Wing of Zion segera memicu spekulasi karena preseden sebelumnya. Pesawat yang sama beberapa kali diterbangkan keluar dari Israel pada periode eskalasi dengan Iran.
Pada Juni 2025, pesawat ini meninggalkan Bandara Ben Gurion beberapa jam setelah Israel melancarkan serangan ke fasilitas nuklir dan rudal balistik Iran dalam konflik yang dikenal sebagai “Perang 12 Hari”. Pada April 2024, pesawat tersebut juga dipindahkan dari Pangkalan Nevatim menjelang serangan rudal dan drone Iran ke Israel yang kemudian menyasar pangkalan itu.
Keberangkatan pesawat terjadi saat Netanyahu diketahui berada di Pengadilan Distrik Tel Aviv untuk memberikan kesaksian dalam persidangan korupsi yang masih berjalan. Sejumlah media Israel, termasuk The Times of Israel, mengutip pejabat militer yang menegaskan tidak ada kaitan antara penerbangan tersebut dengan Iran.
Di tingkat regional, situasi keamanan menjadi sorotan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa hari terakhir meningkatkan retorika terhadap Teheran, seiring meluasnya protes di Iran yang dipicu tekanan ekonomi sejak akhir Desember.
Laporan Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS menyebutkan sedikitnya 2.571 orang tewas akibat penindakan aparat, sementara lebih dari 18.000 orang dilaporkan ditahan.
Melalui platform Truth Social, Trump menyerukan dukungan terbuka kepada para demonstran Iran. “Patriot Iran, TERUS BERPROTES – AMBIL ALIH INSTITUSI KALIAN!!!” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan,” tanpa merinci bentuk bantuan yang dimaksud.
Di kawasan Teluk, sejumlah personel di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar—instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah dengan sekitar 10.000 tentara—disarankan untuk meninggalkan pangkalan pada Rabu malam. Sejumlah diplomat menggambarkan langkah itu sebagai “perubahan postur”, serupa dengan langkah pencegahan sebelum serangan rudal Iran ke pangkalan tersebut pada Juni lalu.
Dari Teheran, peringatan juga disampaikan. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya telah memperingatkan negara-negara kawasan yang menjadi tuan rumah pasukan AS bahwa pangkalan mereka akan menjadi sasaran jika Washington melancarkan serangan. Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam, Majid Mousavi, menyatakan persediaan rudal Iran meningkat sejak konflik dengan Israel tahun lalu.
“Kami berada dalam kesiapan puncak,” ujar Mousavi melalui media pemerintah Iran.
Media Israel melaporkan tingkat kewaspadaan keamanan nasional dinaikkan dalam beberapa jam terakhir. Penilaian keamanan Israel, menurut Reuters, mengarah pada keyakinan bahwa Trump telah mengambil keputusan untuk melakukan intervensi terhadap Iran, meski waktu dan skala langkah tersebut masih belum jelas.

0Komentar