![]() |
| Pertamina dan MIND ID mendorong pengembangan DME, SNG, dan metanol sebagai alternatif LPG guna mengurangi ketergantungan impor. | PERTAMINA |
PT Pertamina (Persero) menempatkan penyelesaian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan kerja sama hilirisasi batu bara dengan MIND ID sebagai dua poros utama penguatan kemandirian energi nasional. Kedua langkah strategis tersebut diumumkan pada Jumat (9/1/2026) dan diarahkan untuk menekan ketergantungan impor bahan bakar sekaligus memperkuat ketahanan pasokan energi dalam negeri.
Proyek RDMP Balikpapan yang dibangun sejak 2019 dengan nilai investasi Rp 123 triliun akan segera diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Informasi tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Kilang ini meningkatkan kapasitas pengolahan dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari, menjadikannya kilang terbesar di Indonesia.
Pemerintah menilai peningkatan kapasitas tersebut berdampak langsung terhadap pasokan bahan bakar minyak nasional, terutama solar. Bahlil menyampaikan bahwa tambahan produksi dari RDMP Balikpapan berpotensi mengubah posisi Indonesia dari importir menjadi surplus untuk komoditas tersebut mulai 2026.
“Solar nanti tahun 2026 itu, kalau RDMP kita sudah jadi, kita akan surplus kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter. Jadi agenda kami di 2026 itu tidak ada impor solar lagi,” ujar Bahlil.
Secara teknis, RDMP Balikpapan dirancang dalam tiga lingkup utama yang saling terintegrasi. Tahap awal mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan, dilanjutkan pembangunan 39 unit fasilitas kilang, termasuk 21 unit proses baru serta revitalisasi empat unit utama.
Pada sisi infrastruktur, proyek ini juga memperkuat fasilitas penerimaan minyak mentah melalui pembangunan dua tangki berkapasitas masing-masing satu juta barel serta fasilitas Single Point Mooring yang mampu melayani kapal hingga 320.000 DWT.
Di luar penguatan kilang, Pertamina memperluas perannya melalui kolaborasi dengan MIND ID dalam proyek hilirisasi batu bara. Kerja sama ini disaksikan Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa dan diarahkan untuk mengembangkan produk turunan seperti Synthetic Natural Gas (SNG), Dimethyl Ether (DME), dan metanol sebagai alternatif pengganti LPG.
Langkah tersebut diambil di tengah proyeksi defisit pasokan LPG nasional. Data Kementerian ESDM menunjukkan kebutuhan LPG Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai 10 juta metrik ton, sementara produksi domestik masih berada di kisaran 1,3–1,4 juta metrik ton. Kondisi ini membuat impor LPG masih mendominasi pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan perusahaan akan mengoptimalkan aset dan jaringan distribusinya untuk mendukung proyek hilirisasi tersebut. Menurut dia, kerja sama dengan MIND ID ditempatkan sebagai upaya jangka menengah untuk menekan impor LPG.
“Sebagai tulang punggung energi nasional, kami berkomitmen mengoptimalkan infrastruktur distribusi Pertamina untuk mendukung hilirisasi ini melalui kerja sama dengan MIND ID. Ini adalah langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau tersedia bagi rakyat,” kata Simon.
Dalam skema kerja sama tersebut, Pertamina berperan sebagai offtaker sekaligus agregator infrastruktur distribusi, sementara MIND ID melalui anak usahanya, Bukit Asam, bertindak sebagai pemasok batu bara.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menegaskan pihaknya akan mengawal setiap tahapan implementasi agar kerja sama tersebut dapat direalisasikan sesuai rencana dan memberikan manfaat ekonomi yang luas.
Penguatan kapasitas kilang melalui RDMP Balikpapan serta pengembangan hilirisasi batu bara ini ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemerintah dan BUMN energi dalam menyesuaikan struktur pasokan energi nasional dengan kebutuhan domestik yang terus meningkat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

0Komentar