![]() |
| Rumah-rumah berwarna yang tertutup salju terlihat dari laut di Nuuk, Greenland, Kamis, 6 Maret 2025. | AP Photo/Evgeniy Maloletka |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman untuk mengambil alih Greenland “suka atau tidak suka”, di tengah meningkatnya aktivitas investasi investor global di sektor pertambangan wilayah Arktik tersebut. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Jumat (2/1/2026), ketika sejumlah perusahaan dan dana investasi Barat telah menanamkan modal besar pada eksplorasi mineral strategis di Greenland.
Ancaman tersebut muncul bersamaan dengan masuknya modal dari tokoh-tokoh besar teknologi dan keuangan global. Mengutup Reuters, Jeff Bezos dan Bill Gates, melalui dana iklim mereka Breakthrough Energy, tercatat berinvestasi di KoBold Metals, perusahaan pertambangan berbasis kecerdasan buatan yang tengah mengeksplorasi pantai barat Greenland untuk mencari nikel, tembaga, kobalt, serta elemen tanah jarang yang dibutuhkan industri kendaraan listrik dan sistem pertahanan.
Pada Januari 2025, KoBold Metals menggalang pendanaan US$537 juta yang mendorong valuasi perusahaan mendekati US$3 miliar. Pendanaan itu juga melibatkan CEO OpenAI Sam Altman dan investor Marc Andreessen.
KoBold menguasai 51% saham proyek Disko–Nuussuaq dan berencana memulai pengeboran untuk menargetkan cadangan mineral besar di bawah lapisan es Greenland yang mencair.
Di luar KoBold, kepentingan investor lain juga tercatat di wilayah tersebut. Ronald Lauder, pewaris Estée Lauder yang dikenal memiliki kedekatan dengan Trump, memiliki investasi langsung di Greenland.
Ia menanamkan modal di sejumlah perusahaan lokal, termasuk usaha air kemasan yang kepemilikannya melibatkan tokoh partai pemerintah Greenland. Keterkaitan bisnis dan politik ini menambah sorotan terhadap kepentingan ekonomi di balik isu kedaulatan Greenland.
Sejumlah pengamat menempatkan gelombang investasi tersebut sebagai langkah strategis jangka panjang. Sarjana Arktik Marc Jacobsen mengatakan kepada harian Denmark Politiken bahwa investasi di Greenland tidak bisa dilepaskan dari kepentingan geopolitik. “Ini jelas merupakan investasi strategis dari pihaknya,” ujarnya.
Trump sendiri membingkai ancaman pengambilalihan Greenland sebagai isu keamanan nasional. Ia menyatakan Amerika Serikat perlu bertindak agar wilayah tersebut tidak jatuh ke tangan Rusia atau China. Pandangan itu diperkuat oleh mantan penasihat keamanan nasional Mike Waltz, yang secara terbuka menyebut kepentingan Washington berada pada “mineral kritis” dan “sumber daya alam”.
Greenland diketahui memiliki cadangan setidaknya 25 dari 30 bahan baku yang dikategorikan Uni Eropa sebagai critical minerals. Kondisi ini membuat investor Barat melihat wilayah tersebut sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada China dalam pengolahan logam tanah jarang.
Pemerintah Amerika Serikat juga disebut tengah mempertimbangkan investasi pada proyek pertambangan yang dijalankan Amaroq Minerals. Kabar itu mendorong saham perusahaan tersebut melonjak sekitar 19%. Namun, sebagian pelaku industri mengingatkan bahwa tantangan teknis tetap besar.
Ahli geologi Jon Mavrogenes menilai ekspektasi jangka pendek tidak realistis. “Gagasan bahwa ini akan berhasil dalam jangka pendek sangatlah tidak masuk akal,” katanya, merujuk pada kondisi alam Greenland yang ekstrem, kadar bijih relatif rendah, serta keterbatasan fasilitas pengolahan. Menurut dia, mineral yang ditambang kemungkinan tetap harus dimurnikan di China.
Pemerintah Greenland, yang memegang kendali penuh atas hak mineral, hingga kini baru menerbitkan tiga izin eksploitasi. Kebijakan tersebut diambil di tengah penolakan sebagian masyarakat lokal yang khawatir terhadap dampak lingkungan dan implikasi terhadap otonomi politik. Menanggapi pernyataan Trump, Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen menegaskan bahwa wilayah itu tidak untuk dijual.

0Komentar