Pemecatan dua jenderal berpangkat tertinggi China pada akhir pekan lalu membuat pemerintah Barat kehilangan salah satu saluran komunikasi paling penting dengan militer Beijing, di tengah meningkatnya ketegangan keamanan global. Langkah tersebut menyasar Jenderal Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli, dua figur kunci di pucuk struktur Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army/PLA).
Pemecatan diumumkan pada Sabtu (waktu Beijing) melalui mekanisme internal Partai Komunis China yang mengawasi militer. Menurut diplomat dan pejabat keamanan Barat, keputusan itu secara efektif menutup akses terhadap figur-figur yang selama ini berperan sebagai penghubung utama dalam mengelola risiko salah perhitungan militer antara China dan negara-negara Barat.
Meski penyelidikan terhadap Zhang Youxia—wakil ketua Central Military Commission (KMP) dan tokoh nomor dua dalam hierarki militer China—mendominasi perhatian internasional, sejumlah pejabat Barat menilai pembidikan simultan terhadap Liu Zhenli justru lebih mengkhawatirkan.
Liu selama ini dikenal sebagai kontak utama yang relatif terbuka dalam komunikasi militer-ke-militer dengan Barat, menurut diplomat yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas isu keamanan.
Pembersihan ini berlangsung di tengah upaya Amerika Serikat dan sekutunya menjaga jalur komunikasi militer tetap terbuka dengan Beijing, terutama terkait Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik. Liu Zhenli, yang menjabat sebagai kepala staf Joint Staff Department KMP, dipandang sebagai perwira profesional yang memahami mekanisme pencegahan krisis dan manajemen eskalasi.
Sebelum pemecatan, kontak informal maupun semi-formal melalui Liu kerap dimanfaatkan untuk menyampaikan sinyal, klarifikasi, serta pesan peringatan guna mencegah salah tafsir di lapangan.
Dengan tersingkirnya Liu, pejabat Barat menilai risiko miskomunikasi meningkat, terutama ketika aktivitas militer di Selat Taiwan dan Laut China Selatan kian intens.
Figur penyeimbang yang disingkirkan
Pembersihan ini juga menghilangkan figur senior yang dinilai mampu menyampaikan penilaian objektif kepada Presiden China Xi Jinping dalam pengambilan keputusan militer.
Drew Thompson, mantan pejabat Pentagon yang kini menjadi peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, menilai Zhang Youxia memiliki peran penting sebagai penyeimbang di lingkaran kepemimpinan militer.
Dalam buletin analisanya, Thompson menyebut Zhang memahami secara realistis kemampuan militer Amerika Serikat dan Taiwan, sekaligus mampu menjelaskan kepada Xi risiko serta biaya dari setiap opsi militer.
“Saya rasa dia bisa menilai kemampuan militer AS dan Taiwan secara objektif dan menjelaskan kepada Xi Jinping apa risiko dan biaya militer dari operasi untuk merebut Taiwan,” tulis Thompson. “Seorang penjilat tanpa pengalaman tempur harus mengatakan kepada Xi apa yang ingin didengar Xi.”
Menurut Thompson, efektivitas strategi pencegahan Amerika Serikat sebagian bergantung pada keberadaan jenderal-jenderal berpengalaman di sekitar Xi. Dengan tersingkirnya Zhang, ia menilai risiko kesalahan perhitungan meningkat.
Pandangan serupa disampaikan Steve Tsang, Direktur SOAS China Institute di University of London. Tsang menilai pemecatan perwira senior seperti Zhang berpotensi menghilangkan figur di pucuk komando yang berani menyampaikan peringatan keras kepada Xi ketika diperlukan, sehingga meningkatkan risiko salah penilaian strategis dalam penggunaan kekuatan militer.
Dampak pembersihan
Dampak pembersihan juga dirasakan pada struktur formal Central Military Commission, lembaga tertinggi pengendali militer China.
Penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli membuat KMP yang semula beranggotakan tujuh orang kini praktis hanya menyisakan dua figur aktif: Xi Jinping sebagai ketua dan Jenderal Zhang Shengmin, yang bertanggung jawab atas pengawasan disiplin serta kampanye antikorupsi.
Jonathan Czin, peneliti senior di Brookings Institution dan mantan analis CIA untuk China, menyebut situasi tersebut sebagai kondisi yang tidak lazim dan menimbulkan pertanyaan besar terkait fungsi rantai komando militer.
“Jujur saja, tidak jelas bagaimana rantai komando seharusnya berfungsi, terutama karena begitu banyak perwira yang seharusnya memenuhi syarat untuk menggantikan anggota KMP yang dicopot justru telah disingkirkan sendiri,” kata Czin.
Menurut Czin, penyelidikan beruntun terhadap elite militer menandai pergeseran penting dalam politik internal China, khususnya dalam cara Xi mengonsolidasikan kendali atas militer.
Pembersihan ini juga berdekatan dengan rilis National Defense Strategy 2026 oleh Pentagon. Dokumen tersebut secara eksplisit menyerukan pembukaan “rentang komunikasi militer-ke-militer yang lebih luas dengan Tentara Pembebasan Rakyat” guna mendukung stabilitas strategis dan mencegah konflik terbuka. Dengan tersingkirnya figur-figur penghubung utama di Beijing, tujuan itu dinilai semakin sulit dicapai.
Di kawasan, Taiwan turut mencermati perkembangan ini. Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo pada Senin mengatakan pihaknya memantau secara ketat perubahan yang dinilainya “tidak normal” dalam kepemimpinan militer China.
“Kami tidak akan membiarkan kejatuhan individu mana pun mengurangi kewaspadaan kami atau menurunkan tingkat kesiapsiagaan militer yang perlu kami pertahankan,” kata Koo kepada wartawan.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya aktivitas militer China di sekitar Taiwan, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Beijing dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

0Komentar