Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO, berbicara dalam sesi Finding Europe’s New Growth pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2023 di Davos-Klosters, Swiss, 19 Januari 2023. | Foto: World Economic Forum / Sandra Blaser (CC BY-NC-SA 2.0).


Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut kerugian militer Rusia dalam perang di Ukraina telah mencapai tingkat yang sangat tinggi, dengan 20.000 hingga 25.000 tentara tewas setiap bulan. Angka tersebut, menurut Rutte, hanya mencakup korban tewas dan tidak termasuk prajurit yang terluka.

Pernyataan itu disampaikan Rutte pada 13 Januari dalam forum Renew Europe Global Europe Forum di Brussels, Belgia, saat menanggapi perkembangan terbaru konflik Rusia–Ukraina. Ia membandingkan tingkat kerugian tersebut dengan perang Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an untuk menekankan skala korban yang dinilainya tidak berkelanjutan.

"Dalam sebulan, ini adalah 20.000 hingga 25.000 orang Rusia yang tewas. Saya tidak membicarakan yang terluka parah. Tewas. Mati. 20.000–25.000 sebulan," kata Rutte, dilansir United24 Media. "Jika Anda bandingkan dengan perang Afghanistan di tahun 1980-an, mereka kehilangan 20.000 dalam 10 tahun. Sekarang mereka kehilangan jumlah sebanyak itu dan lebih dalam satu bulan. Jadi itu juga tidak berkelanjutan di pihak mereka."

Rutte menyampaikan pernyataan tersebut di tengah meningkatnya intensitas serangan Rusia ke Ukraina, termasuk penggunaan rudal hipersonik Oreshnik yang berkemampuan nuklir. 

Ia menanggapi pertanyaan soal serangan Rusia ke kota Lviv, Ukraina barat, pada 8 Januari, yang menjadi penggunaan kedua rudal tersebut setelah serangan perdana di Dnipro pada November 2024.

"Rudal-rudal Oreshnik ini adalah senjata kematian dan kehancuran," ujar Rutte kepada sidang Parlemen Eropa. "Tadi malam kami melihat lagi, ratusan drone dan puluhan rudal menghantam Ukraina, dan khususnya kini menyerang infrastruktur sipil, warga sipil yang tidak bersalah."

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Rusia meluncurkan hampir 300 drone, 18 rudal balistik, dan tujuh rudal jelajah dalam serangan semalam pada 12–13 Januari. Serangan tersebut menyebabkan ratusan ribu rumah tangga di wilayah Kyiv kehilangan aliran listrik saat suhu udara turun hingga minus 12 derajat Celsius. Di wilayah Kharkiv, empat orang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap terminal pos.

Angka korban yang disampaikan Rutte sejalan dengan berbagai penilaian independen. Analisis BBC pada Desember lalu memverifikasi hampir 160.000 nama tentara Rusia yang tewas di Ukraina. Para ahli memperkirakan jumlah kematian sebenarnya berada di kisaran 243.000 hingga 352.000 orang. 

NATO sendiri memperkirakan total korban Rusia—termasuk tewas dan terluka—telah melampaui 1,1 juta orang sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022.

Pejabat Ukraina juga melaporkan kerugian Rusia yang tinggi. Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Ukraina Oleksandr Syrskii menyatakan bahwa pada Desember 2025 saja, lebih dari 33.000 personel Rusia telah dieliminasi. 

Sementara itu, Misi Pemantauan Hak Asasi Manusia PBB mencatat 2025 sebagai tahun paling mematikan bagi warga sipil Ukraina sejak 2022, dengan jumlah korban meningkat 31 persen dibandingkan 2024.

Penggunaan rudal Oreshnik turut menuai reaksi internasional. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam penggunaan senjata tersebut dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya. 

Sejumlah analis pertahanan menilai rudal yang diturunkan dari rudal balistik antarbenua RS-26 Rubezh itu menghadirkan tantangan baru bagi NATO, karena sistem pertahanan udara yang ada, termasuk Patriot buatan AS, tidak dirancang untuk menghadapi ancaman dengan karakteristik tersebut.