Mural raksasa propaganda anti-Amerika Serikat yang dipasang di Lapangan Enghelab (Revolusi Islam) di Teheran, Iran. | AFP


Iran menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi militer dengan Amerika Serikat seiring tibanya kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah. Serangkaian peringatan disampaikan pejabat Teheran pada Senin (26/1/2026), di tengah pengerahan aset militer AS di wilayah operasi Komando Pusat AS (CENTCOM) dan meningkatnya tekanan domestik akibat penindakan terhadap gelombang protes dalam negeri.

Perwakilan Tetap Iran untuk Kantor PBB di Jenewa, Ali Bahreini, menegaskan Teheran siap menghadapi “segala skenario”, termasuk potensi serangan militer. Ia menyebut sikap Washington sulit diprediksi, meski terdapat komunikasi terbatas antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff. Kontak tersebut, menurut Bahreini, tidak dapat dikategorikan sebagai perundingan resmi.

Sinyal serupa disampaikan Kementerian Pertahanan Iran. Juru bicara kementerian, Reza Talaei-Nik, mengatakan setiap agresi militer dari AS atau Israel akan dibalas dengan respons yang “lebih menyakitkan dan tegas” dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut kesiapan militer Iran saat ini lebih tinggi dibandingkan periode konflik pada Juni 2025.

Pernyataan itu merujuk pada apa yang dikenal sebagai Perang Dua Belas Hari pada Juni lalu, ketika Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah fasilitas nuklir dan militer Iran. Amerika Serikat kemudian menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, yang dibalas Teheran dengan peluncuran ratusan rudal balistik sebelum gencatan senjata diumumkan.

Dalam artikel opini di The Wall Street Journal pada 20 Januari, Araghchi menegaskan Iran tidak akan lagi menahan diri jika diserang. Ia menyatakan angkatan bersenjata Iran siap menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki sebagai bentuk pembalasan.

Nada peringatan juga datang dari Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour. Pada Sabtu sebelumnya, ia mengatakan pasukannya berada dalam kondisi siaga penuh dan memperingatkan AS serta Israel agar tidak melakukan kesalahan perhitungan.

Dari pihak Washington, pejabat AS mengonfirmasi bahwa USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak berpeluru kendali telah memasuki wilayah tanggung jawab CENTCOM. 

Presiden Donald Trump pada Kamis (22/1) menyebut pengerahan armada tersebut dilakukan “untuk berjaga-jaga” jika diperlukan tindakan lebih lanjut, seraya memperingatkan bahwa respons militer berikutnya dapat membuat serangan sebelumnya tampak tidak signifikan.

Pengerahan militer ini berlangsung di tengah penindakan aparat Iran terhadap protes yang meletus sejak 28 Desember, dipicu anjloknya nilai mata uang nasional. 

Media Iran International, mengutip dokumen internal IRGC, melaporkan lebih dari 36.500 orang diduga tewas dalam rangkaian penanganan unjuk rasa. Trump sebelumnya menyatakan AS dapat melakukan intervensi jika Iran membunuh pengunjuk rasa damai atau mengeksekusi demonstran yang ditahan.

Dari kawasan Teluk, Uni Emirat Arab menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara, daratan, maupun perairannya digunakan untuk tindakan militer terhadap Iran. Sementara itu, pemimpin Hizbullah Naim Qassem memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas, dan menyebut ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sebagai ancaman langsung terhadap kelompoknya.

Laporan terpisah menyebut Khamenei telah dipindahkan ke bunker bawah tanah di Teheran menyusul meningkatnya risiko serangan AS. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim bahwa Teheran mengirim pesan kepada Witkoff untuk meminta penundaan kemungkinan aksi militer, dan menyebut laporan tersebut tidak benar.