Seoul dan Tokyo sepakat melanjutkan kembali latihan SAR bersama sebagai bagian penguatan koordinasi keamanan kawasan Asia Timur. | AFP


Korea Selatan dan Jepang menyepakati pengaktifan kembali latihan pencarian dan penyelamatan angkatan laut bersama yang terhenti hampir satu dekade. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back dan Menteri Pertahanan Jepang Koizumi Shinjiro di pangkalan Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) Yokosuka, selatan Tokyo, Jumat (30/1/2026).

Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri sepakat melanjutkan kembali search and rescue exercise (SAREX) antara Angkatan Laut Korea Selatan dan JMSDF. Latihan ini sebelumnya digelar rutin dua tahunan sejak 1999, namun dihentikan pada 2018 seiring memburuknya hubungan bilateral. 

Pengaktifan kembali SAREX ditempatkan sebagai bagian dari penguatan kerja sama keamanan dua sekutu Amerika Serikat di tengah meningkatnya ancaman rudal dan nuklir Korea Utara.

Selain SAREX, Ahn dan Koizumi juga berkomitmen meregulasikan kunjungan tahunan menteri pertahanan serta memperluas kolaborasi di bidang teknologi canggih. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, dan kemampuan antariksa. Pertemuan berlangsung di salah satu basis utama operasional maritim Jepang.

Latihan gabungan itu sebelumnya ditangguhkan setelah muncul perselisihan terkait rencana Jepang mengibarkan Bendera Matahari Terbit dalam peninjauan armada—simbol yang di Korea Selatan dipandang sarat sejarah imperialisme. 

Pada tahun yang sama, hubungan kedua negara kian memburuk menyusul insiden tudingan penguncian radar kendali tembak oleh kapal perang Korea Selatan terhadap pesawat patroli Jepang, tuduhan yang dibantah Seoul.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan, dalam pernyataan pers bersama, menyebut kedua menteri sepakat memperluas interaksi militer. 

“Kedua menteri sepakat untuk mengaktifkan pertukaran personel dan unit guna meningkatkan saling pengertian dan kepercayaan antara militer Korea dan Pasukan Bela Diri Jepang,” demikian pernyataan resmi Seoul.

Pembahasan kerja sama pertahanan tersebut berlangsung di tengah situasi keamanan kawasan yang sensitif. Beberapa hari sebelum pertemuan, militer Korea Selatan melaporkan Korea Utara meluncurkan rudal balistik yang diduga mengarah ke laut. Isu ini turut menjadi perhatian utama dalam pembicaraan kedua menteri, termasuk penegasan komitmen terhadap denuklirisasi penuh Semenanjung Korea.

Koizumi menekankan urgensi penguatan kerja sama pertahanan. “Kerja sama pertahanan antara kedua negara, dan dengan AS, lebih penting dari sebelumnya,” kata Koizumi kepada Ahn, seperti dikutip Yonhap News Agency.

Di luar kerja sama bilateral, kedua kepala pertahanan juga sepakat memperkuat koordinasi trilateral dengan Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman nuklir dan rudal Korea Utara. Sehari sebelum pertemuan tersebut, Sekretariat Koordinasi Trilateral AS–Jepang–Republik Korea (ROK) menggelar pertemuan untuk meninjau perkembangan kerja sama di berbagai sektor keamanan.

Kunjungan Ahn ke Jepang ini menjadi yang pertama dalam sekitar 18 bulan terakhir oleh seorang menteri pertahanan Korea Selatan, setelah kunjungan pendahulunya, Shin Won-sik, ke Tokyo pada Juli 2024. Usai pembicaraan resmi, kedua menteri terlihat bermain tenis meja di pangkalan angkatan laut tersebut, menyesuaikan dengan hobi Ahn.

Koizumi menyatakan rencana kunjungan balasan dalam waktu mendatang. “Lain kali, saya akan mengunjungi Korea Selatan untuk meningkatkan komunikasi antara otoritas pertahanan kedua negara,” ujarnya kepada wartawan setelah pertemuan.