![]() |
| Sejumlah drone terlihat di pangkalan bawah tanah di lokasi yang dirahasiakan di Iran. | Iranian Army/WANA (West Asia News Agency) |
Iran pada Kamis mengumumkan telah memasukkan 1.000 unit drone strategis ke dalam formasi tempur Angkatan Darat reguler, Pengumuman itu pertama kali dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim dan kemudian dikutip oleh sejumlah media yang berafiliasi dengan negara maupun media internasional.
Menurut laporan tersebut, drone-drone itu dikembangkan oleh spesialis Angkatan Darat Iran bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan, dengan kemampuan serang, pengintaian, dan electronic warfare.
Sistem tanpa awak tersebut disebut telah diintegrasikan ke empat matra Angkatan Darat Iran—darat, udara, angkatan laut, dan pertahanan udara—serta dirancang untuk menyerang target tetap maupun bergerak di wilayah maritim, udara, dan darat.
Mayor Jenderal Amir Hatami, yang dalam pemberitaan Iran disebut sebagai komandan tertinggi Angkatan Darat, mengatakan pengoperasian drone itu ditujukan untuk menjaga kesiapan tempur dan kemampuan respons cepat.
“Pengoperasian ini bertujuan mempertahankan kesiapsiagaan tempur yang cepat dan memberikan respons yang tegas terhadap agresi,” ujar Hatami, seperti dikutip Tasnim.
Iran tidak merilis gambar maupun spesifikasi teknis rinci dari sistem yang baru dioperasikan tersebut. Media Iran menyebut keputusan itu diambil atas pertimbangan keamanan militer.
Pengumuman ini disampaikan bersamaan dengan masuknya gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln ke wilayah tanggung jawab US Central Command. Pengerahan itu, menurut pejabat Amerika Serikat, dimaksudkan untuk memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan di tengah memburuknya hubungan dengan Teheran.
Kantor berita China, Xinhua, yang mengutip Tasnim, secara eksplisit mengaitkan pengumuman drone Iran dengan dinamika keamanan regional. Xinhua melaporkan bahwa langkah tersebut menyusul pengerahan gugus tempur yang dipimpin kapal induk AS ke kawasan itu pada awal pekan ini.
Pihak Iran menyatakan pengoperasian 1.000 drone tersebut mencerminkan pelajaran yang diambil dari perang Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025, yang berakhir dengan gencatan senjata mulai 24 Juni. Sejumlah analis konflik menilai serangan Israel pada fase awal perang, yang menargetkan sistem pertahanan udara serta jaringan command-and-control, telah menyingkap kerentanan dalam pertahanan udara terintegrasi Iran.
Di luar program Angkatan Darat reguler, pengembangan drone Iran juga dilaporkan berjalan melalui jalur paralel. Pada akhir 2025, Iran disebut mengembangkan platform drone serang baru yang dikaitkan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), terpisah dari program yang diumumkan kali ini.

0Komentar