Gambar yang dirilis kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperlihatkan Khamenei berbicara dalam pertemuan dengan mahasiswa di Teheran, 3 November 2025. | KHAMENEI.IR 


Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan telah menyiapkan rencana darurat untuk meninggalkan Teheran menuju Moskwa bersama sekitar 20 orang rekan dekat dan anggota keluarga. Rencana itu akan diaktifkan jika aparat keamanan gagal meredam protes nasional atau mulai membelot, menurut laporan intelijen yang dibagikan kepada The Times pada Minggu.

Rencana yang disebut sebagai “Rencana B” tersebut mencakup putra Khamenei, Mojtaba, yang kerap dipandang sebagai kandidat penerus, serta sejumlah pembantu kunci. Persiapan ini disusun di tengah gelombang demonstrasi yang memasuki pekan kedua, dipicu tekanan ekonomi dan menyebar ke puluhan wilayah di Iran.

Situasi keamanan di dalam negeri memburuk sejak protes pecah pada 28 Desember 2025. Human Rights Activists News Agency melaporkan sedikitnya 16 orang tewas dan ratusan lainnya ditangkap. Kerusuhan dilaporkan meluas ke sedikitnya 22 provinsi, dengan bentrokan paling intens terjadi di wilayah barat Iran.

Dalam konteks itu, sejumlah pejabat senior Iran yang dikutip The New York Times menyebut kepemimpinan Republik Islam kini berada dalam apa yang mereka gambarkan sebagai mode bertahan hidup. 

Dalam pertemuan tertutup, para pejabat tersebut mengakui rezim menghadapi krisis yang mengancam keberlanjutan kekuasaan, sekaligus menilai ketidakstabilan domestik berpotensi dimanfaatkan Israel untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap target Iran.

Beni Sabti, mantan petugas intelijen Israel yang meninggalkan Iran pascarevolusi 1979, menilai Rusia menjadi satu-satunya tujuan realistis bagi Khamenei. “Tidak ada tempat lain untuknya,” ujar Sabti kepada The Times. Ia menambahkan Khamenei mengagumi Presiden Vladimir Putin dan memandang budaya Rusia memiliki kedekatan dengan Iran.

Menurut sumber intelijen yang sama, persiapan pelarian meliputi pengumpulan aset, properti di luar negeri, serta uang tunai guna memastikan jalur keluar yang aman. Khamenei diketahui mengendalikan jaringan kekayaan besar melalui Setad, sebuah yayasan amal semi-negara. 

Investigasi Reuters pada 2013 memperkirakan nilai aset Setad mencapai sekitar US$95 miliar, mencakup kepemilikan real estat, saham di puluhan perusahaan, serta kendali atas operator telekomunikasi terbesar di Iran.

Sementara itu, sebuah profil psikologis Khamenei yang disusun badan intelijen Barat menggambarkan pemimpin berusia 86 tahun itu sebagai figur yang “paranoid” dan dinilai melemah secara mental maupun fisik sejak konflik 12 hari dengan Israel tahun lalu. Selama periode tersebut, Khamenei dilaporkan berlindung di bunker, yang disebut memperkuat obsesinya terhadap kelangsungan hidup.

Laporan intelijen menyebut rencana pelarian akan dipicu jika terjadi pembelotan atau desersi di tubuh militer dan aparat keamanan. Pasukan ini, termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps dan milisi Basij, berada langsung di bawah komando Khamenei dan telah menggunakan gas air mata, meriam air, hingga amunisi langsung untuk membubarkan demonstran.

Di tengah kondisi tersebut, Khamenei tercatat membatasi kemunculan publik sejak gelombang protes berlangsung dan belum menyampaikan pernyataan langsung terkait demonstrasi yang masih berlanjut di berbagai kota.