![]() |
| Mette Frederiksen, Perdana Menteri Denmark. | AP PHOTO |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu menyampaikan ancaman terbaru untuk merebut Greenland, wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. Berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One, Trump mengatakan Amerika Serikat “membutuhkan” Greenland demi kepentingan keamanan nasional dan memberi tenggat sekitar dua bulan untuk menangani isu tersebut.
Pernyataan ini disampaikan menyusul operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro, memicu kekhawatiran di Eropa bahwa Greenland bisa menjadi sasaran berikutnya.
Respons keras datang dari Kopenhagen. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan wacana pengambilalihan Greenland oleh AS tidak berdasar dan berbahaya bagi hubungan transatlantik.
Dalam pernyataannya yang dikutip Bloomberg, Frederiksen memperingatkan bahwa serangan terhadap sekutu akan berdampak langsung pada masa depan aliansi NATO.
“AS tidak memiliki hak untuk menganeksasi salah satu dari tiga negara di Kerajaan Denmark,” kata Frederiksen. Ia mendesak Washington untuk “menghentikan ancaman terhadap sekutu yang secara historis dekat”.
Dukungan terhadap Denmark segera mengalir dari kawasan Nordik. Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson menyatakan bahwa hanya Denmark dan Greenland yang berhak mengambil keputusan terkait wilayah tersebut, seraya menegaskan dukungan penuh Stockholm kepada Kopenhagen. Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre juga menyampaikan solidaritas, menegaskan bahwa Greenland merupakan bagian integral dari Kerajaan Denmark.
Pernyataan senada disampaikan Presiden Finlandia Alexander Stubb serta Perdana Menteri Islandia Kristrún Frostadóttir dalam jam-jam berikutnya. Dari Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan kepada BBC bahwa ia “berdiri bersama” Frederiksen dan menegaskan masa depan Greenland hanya dapat ditentukan oleh Greenland dan Kerajaan Denmark.
Di Washington, Trump menegaskan kembali niatnya kepada wartawan. Ia mengatakan AS akan “mengkhawatirkan Greenland dalam waktu sekitar dua bulan” dan akan mulai “membicarakan Greenland dalam 20 hari”.
Trump juga mengecilkan kontribusi keamanan Denmark di kawasan Arktik, dengan menyebut negara tersebut hanya “menambahkan satu kereta luncur anjing lagi” untuk mempertahankan Greenland.
Ia bersikeras bahwa “Uni Eropa membutuhkan kami untuk memilikinya dan mereka tahu itu,” meski Uni Eropa menegaskan kembali komitmennya pada kedaulatan nasional dan integritas teritorial negara anggotanya.
Ketegangan turut dipicu unggahan media sosial Katie Miller, istri Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller. Unggahan tersebut menampilkan peta Greenland berwarna bendera Amerika dengan tulisan “SOON”.
Menanggapi hal itu, Duta Besar Denmark untuk AS menyatakan bahwa Kopenhagen mengharapkan “penghormatan penuh terhadap integritas teritorial” Kerajaan Denmark.
Dari Nuuk, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyampaikan penolakan tegas terhadap tekanan dari Washington. Ia menyatakan bahwa pemerintah dan masyarakat Greenland tidak menerima wacana aneksasi dalam bentuk apa pun.
“Cukup sudah,” ujarnya. “Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi.”

0Komentar