Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. | The Times of Israel

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dipindahkan ke tempat perlindungan bawah tanah yang dibentengi di Teheran setelah penilaian pejabat militer dan keamanan senior menyimpulkan meningkatnya risiko serangan militer Amerika Serikat, menurut dua sumber yang dekat dengan pemerintah Iran kepada Iran International. Relokasi ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan Teheran–Washington dan pengerahan kekuatan militer AS ke kawasan.

Langkah tersebut menandai kali kedua dalam tujuh bulan terakhir Khamenei, 86 tahun, mencari perlindungan di bunker. Insiden sebelumnya terjadi menjelang serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Fasilitas yang digunakan digambarkan sebagai kompleks diperkuat dengan terowongan-terowongan saling terhubung, dirancang untuk menahan amunisi berdaya hancur tinggi.

Perpindahan Khamenei berlangsung saat Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa sebuah “armada” AS bergerak menuju Iran. Kekuatan angkatan laut itu mencakup kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln yang didampingi kapal perusak berpeluru kendali USS Frank E. Petersen Jr., USS Michael Murphy, dan USS Spruance. AS juga mengirim tambahan pesawat tempur F-15E untuk memperkuat kemampuan serangan di kawasan.

Di saat yang sama, laporan Iran International menyebutkan adanya pergeseran sementara pengelolaan operasional harian kantor Pemimpin Tertinggi. Masoud Khamenei, putra ketiga Khamenei, disebut mengambil alih koordinasi rutin dan menjadi saluran komunikasi utama dengan cabang-cabang eksekutif pemerintahan. 

Media tersebut juga melaporkan Khamenei membatasi kontak langsung dan berkomunikasi melalui kurir, sementara sejumlah sumber berspekulasi Mojtaba Khamenei—putra lain yang kerap disebut sebagai calon penerus—juga berada di kompleks perlindungan.

Pemerintah Iran membantah klaim bahwa Khamenei bersembunyi di bunker. Saeid Reza Mosayeb Motlagh, Konsul Jenderal Iran di Mumbai, mengatakan kepada NDTV bahwa Khamenei “mendapatkan pengamanan; namun, dia tidak bersembunyi di bunker”. 

Menurutnya, Pemimpin Tertinggi tetap menggelar pertemuan dengan para pejabat melalui konferensi video dan sarana lain, sembari mengonfirmasi bahwa pengamanan di sekitarnya telah diperkuat.

Pengumuman Trump soal pengerahan kekuatan militer menjadi katalis terbaru dalam rangkaian tekanan AS terhadap Iran. Kepada wartawan di dalam Air Force One, Trump mengatakan, “Kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah sana untuk berjaga-jaga. Kami memiliki armada besar yang menuju ke arah sana. Dan kita lihat nanti apa yang terjadi,” kata Trump kepada wartawan di dalam Air Force One.

Respons dari Teheran datang cepat. Seorang pejabat senior Iran pada Jumat memperingatkan bahwa setiap serangan akan diperlakukan “sebagai perang habis-habisan terhadap kami,” dengan pembalasan yang menargetkan “semua kepentingan, pangkalan, dan pusat pengaruh AS”. 

Komandan Garda Revolusi Jenderal Mohammad Pakpour menyatakan kesiapan pasukan Iran tetap tinggi dan menggambarkan kondisi militer “lebih siap dari sebelumnya, jari di pelatuk”.

Eskalasi eksternal ini beririsan dengan tekanan domestik yang masih membayangi Iran. Ketegangan meningkat sejak gelombang protes pecah pada 28 Desember menyusul anjloknya mata uang nasional. 

Badan Berita Aktivis Hak Asasi Manusia berbasis di AS (HRANA) menyatakan telah mengonfirmasi 5.002 kematian, sembari menyelidiki hampir 9.800 kemungkinan kematian tambahan. Pelapor Khusus PBB untuk hukuman mati memperkirakan jumlah korban dapat melampaui 20.000.

Sebelumnya, Trump juga mengaitkan sikap keras Washington dengan isu hak asasi manusia di Iran. Ia memperingatkan Teheran bahwa konsekuensi lanjutan akan membuat serangan-serangan sebelumnya terhadap program nuklir Iran “tampak seperti kacang” jika eksekusi terhadap para pengunjuk rasa berlanjut.