Iran mengklaim telah berhasil menguji coba rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) yang disebut memiliki jangkauan hingga pantai timur Amerika Serikat. Klaim itu muncul di tengah pengerahan kelompok serang angkatan laut AS ke Timur Tengah, serta meningkatnya tekanan internasional terhadap Tehran terkait penindasan protes domestik yang disebut paling mematikan sejak Revolusi Islam 1979.
Uji coba tersebut dilaporkan dilakukan Korps Pengawal Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) dari fasilitas peluncuran di Semnan, wilayah tengah-utara Iran. Media yang berafiliasi dengan pemerintah menyebut rudal ditembakkan ke arah Siberia dengan persetujuan Rusia, menempuh jarak sekitar 3.700 mil, dengan klaim jangkauan maksimum hingga 10.000 kilometer—jarak yang secara teoritis mencakup Washington, D.C.
Klaim itu disampaikan saat Washington meningkatkan kehadiran militernya di kawasan, menyusul perintah Presiden Donald Trump untuk mengerahkan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah.
Latar hubungan internasional
Peluncuran rudal terjadi di tengah memburuknya hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Tekanan terhadap Tehran meningkat seiring tudingan pelanggaran hak asasi manusia akibat penanganan keras aparat keamanan terhadap gelombang protes nasional.
Dewan Hak Asasi Manusia PBB menyebut tindakan pemerintah Iran sebagai penindasan paling mematikan sejak 1979. Pada saat yang sama, aktivitas rudal Iran berlangsung di tengah dinamika geopolitik yang sensitif, terutama menyangkut hubungan militernya dengan Rusia.
Hubungan Tehran–Moskwa dilaporkan semakin erat sejak konflik Ukraina, termasuk kerja sama teknologi dan logistik pertahanan. Persetujuan Rusia atas lintasan uji coba ke wilayah Siberia menjadi sorotan di kalangan analis keamanan Barat
Rekaman video uji coba yang beredar terbatas dan hanya memperlihatkan proyektil melesat menembus awan, tanpa verifikasi independen atas jarak tempuh maupun spesifikasi teknis rudal tersebut.
Penguatan postur militer AS
Pemerintah AS merespons perkembangan ini dengan memperkuat postur militernya di kawasan. Presiden Donald Trump memerintahkan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln, yang mencakup kapal perusak berpeluru kendali, bergerak menuju Timur Tengah sebagai bagian dari apa yang ia sebut sebagai “armada” yang mengawasi Iran.
Kelompok serang tersebut dilaporkan melintasi Selat Malaka pada 18 Januari dan diperkirakan tiba di kawasan operasi dalam beberapa hari. Dari Davos, Trump menyatakan Washington “mengawasi Iran dengan sangat ketat” dan tidak menutup opsi aksi militer jika Tehran terus menindak demonstran.
Sifat uji coba rudal yang relatif senyap—pertama kali muncul di media sosial melalui unggahan seorang akademisi Iran sebelum dikonfirmasi media pemerintah—memicu kekhawatiran di kalangan pengamat keamanan.
“Ketika rezim memperkuat dan mencoba meningkatkan kekuatan militernya tanpa sorotan media dan sikap sombong, di situlah ada ruang untuk kekhawatiran yang nyata,” kata Behnam Ben Taleblu, direktur senior Program Iran dari Foundation for Defense of Democracies.
Penindasan paling mematikan sejak 1979
Langkah militer Iran berlangsung bersamaan dengan eskalasi penanganan protes domestik. Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS mencatat sedikitnya 5.002 kematian terverifikasi, dengan hampir 10.000 korban tambahan masih dalam proses peninjauan.
Pemerintah Iran, untuk pertama kalinya, mengakui 3.117 korban tewas, sementara lebih dari 26.800 orang dilaporkan ditahan. Dewan Hak Asasi Manusia PBB menggelar sidang darurat, dengan penyelidik menyebut kekerasan tersebut sebagai penindasan paling mematikan oleh pemerintah Iran terhadap rakyatnya sejak Revolusi Islam.
Kepala HAM PBB Volker Türk mengatakan pasukan keamanan melakukan penangkapan massal dan mengejar korban luka hingga ke rumah sakit.
Komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour memperingatkan Washington dan Israel untuk “menghindari kesalahan perhitungan apa pun,” seraya menyatakan pasukan Iran memiliki “jari di pelatuk, lebih siap dari sebelumnya.” Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS dan Israel berada di balik protes nasional, menyebutnya sebagai “pembalasan dendam pengecut atas kekalahan dalam Perang 12 Hari.”
Di sisi intelijen, laporan Defense Intelligence Agency memproyeksikan Iran dapat memiliki hingga 60 ICBM pada 2035, melampaui estimasi persenjataan Korea Utara. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Tehran akan membalas “dengan semua yang kami miliki” jika diserang.

0Komentar