![]() |
| Komuter berkendara di bawah spanduk bertuliskan 'Ini bukan protes' di Teheran, Iran, pada 15 Januari 2026. | AFP |
Pemerintah Iran mulai memulihkan layanan internet dan pesan singkat (SMS) secara terbatas pada Sabtu (waktu setempat), setelah pemadaman komunikasi lebih dari 200 jam di tengah penindakan paling mematikan terhadap protes dalam sejarah modern negara itu. Pemulihan dilakukan bertahap di berbagai wilayah, menyusul klaim otoritas soal meredanya situasi keamanan pascaprotes yang pecah sejak akhir Desember.
Otoritas telah mengaktifkan kembali layanan SMS nasional. Sejumlah platform pesan lokal, termasuk Eita dan Bale, juga kembali dapat diakses setelah mengalami gangguan berhari-hari, menurut laporan Kantor Berita Fars yang semi-resmi.
Meski demikian, tingkat konektivitas nasional masih sangat rendah. Kelompok pemantau internet NetBlocks mencatat koneksi internet Iran baru mencapai sekitar 2% dari kondisi normal dan belum menunjukkan pemulihan signifikan.
Pemadaman internet diberlakukan sejak 8 Januari, ketika aparat keamanan memperketat kontrol komunikasi menyusul meluasnya demonstrasi anti-pemerintah. Aksi tersebut dipicu tekanan ekonomi dan anjloknya nilai mata uang nasional, sebelum berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas.
Sejumlah pejabat yang dikutip media Iran menyebut pemulihan sebagian dilakukan setelah apa yang mereka gambarkan sebagai stabilisasi keamanan dan penangkapan individu yang dikaitkan dengan “organisasi teroris”. Di sisi lain, pembatasan komunikasi yang berkepanjangan berdampak langsung pada aktivitas ekonomi, termasuk terganggunya transaksi perbankan dan operasional bisnis.
Warga di Teheran menggambarkan kondisi selama pemadaman seperti kembali ke era sebelum internet meluas, menurut laporan Al Jazeera. Pemerintah disebut berencana membuka kembali akses secara bertahap, dimulai dari jaringan internet nasional dan aplikasi lokal, sebelum memulihkan konektivitas internasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi hanya menyampaikan bahwa akses internet akan kembali “segera”, tanpa merinci tahapan maupun tenggat waktu pemulihan penuh.
Pemulihan layanan komunikasi ini berlangsung bersamaan dengan pengakuan langka dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terkait jumlah korban tewas. Untuk pertama kalinya, Khamenei menyatakan “beberapa ribu” orang meninggal selama kerusuhan.
Kelompok Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mencatat sedikitnya 3.090 kematian, termasuk 2.885 pengunjuk rasa, berdasarkan verifikasi lapangan dan sumber medis.
Dalam pernyataannya, Khamenei menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas kekerasan yang terjadi. Ia juga menyebut Presiden Donald Trump sebagai “penjahat” karena dianggap mendorong demonstrasi.
Sebelumnya, Trump secara terbuka menyerukan pengunjuk rasa Iran untuk terus melakukan protes dan memperingatkan kemungkinan intervensi militer jika aparat keamanan terus menembaki warga sipil.
Protes di Iran mulai pecah pada 28 Desember dan diikuti gelombang penangkapan besar-besaran. Otoritas melaporkan sekitar 3.000 orang ditangkap selama demonstrasi. Dalam beberapa hari terakhir, warga melaporkan situasi di Teheran relatif lebih tenang, meski pembatasan komunikasi masih diberlakukan secara ketat.

0Komentar